Harga Saham Nvidia Turun ke 202,81 Dollar di Tengah Tekanan Sektor Chip

Harga Saham Nvidia Turun ke 202,81 Dollar di Tengah Tekanan Sektor Chip
Ilustrasi saham (Sumber : NET)

JAKARTA – Saham Nvidia Corporation (NVDA) mengawali perdagangan pada Senin, 20 Juli 2026 dalam kondisi tertekan.

Penurunan harga ini berlangsung di tengah maraknya aksi jual pada sektor semikonduktor yang memicu penurunan mingguan terburuk bagi saham chip dalam kurun lebih dari satu tahun. Pada momen yang sama, Apple juga sempat mengambil alih posisi Nvidia sebagai perusahaan bernilai paling tinggi di dunia.

Saham NVDA ditutup pada angka $202,81 di akhir sesi Jumat, 17 Juli 2026, yang menunjukkan penurunan sebesar $4,59 atau 2,21% jika dibandingkan dengan penutupan sebelumnya di level $207,40 sebagaimana dilansir dari berita sumber. Sesi perdagangan sempat dibuka pada posisi $202,64 dengan pergerakan harian di rentang $197,97 sampai $206,65 sebelum akhirnya berakhir mendekati batas psikologis $200.

Pada sesi perdagangan setelah jam bursa (after-hours), nilai NVDA masih mengalami penurunan tipis sebesar 0,16% ke angka $202,49 sebagaimana dilansir dari berita sumber. Kapitalisasi pasar Nvidia saat ini berada pada angka $4,91 triliun, yang mencatatkan kenaikan 17,5% sejak awal tahun walaupun masih berada di bawah rekor tertinggi sepanjang masa di level $236,54.

Kenaikan harga saham NVDA pada tahun 2026 tercatat masih berada di belakang para pesaingnya. Sebagai perbandingan, AMD berhasil membukukan penguatan lebih dari 100% sejak awal tahun, sedangkan indeks semikonduktor secara menyeluruh mengalami kenaikan sekitar 59%.

Kondisi tersebut dipicu oleh penyesuaian rasio valuasi Nvidia dan bukan disebabkan oleh penurunan kinerja fundamental bisnisnya. Hal ini terlihat dari rasio price-to-earnings (PE) forward NVDA yang berada di tingkat 20,34 kali, di mana angka tersebut lebih rendah dari tahun sebelumnya dan mendekati rata-rata valuasi S&P 500.

Peristiwa penting terjadi saat Apple sempat menggeser Nvidia dari posisi perusahaan dengan kapitalisasi pasar terbesar di dunia. Kapitalisasi pasar Apple sempat menyentuh angka $4,88 triliun, berada sedikit di atas kapitalisasi Nvidia sebesar $4,86 triliun akibat penurunan saham chip tersebut sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Nvidia kemudian kembali memimpin pada penutupan sesi dengan nilai kapitalisasi sebesar $4,91 triliun, yang selisih sekitar $6 miliar di atas Apple sebagaimana dilansir dari berita sumber. Hal ini menjadi catatan penting mengingat Nvidia telah memegang posisi sebagai perusahaan paling bernilai sejak Juni 2025.

Perubahan posisi tersebut mengindikasikan bahwa para investor mulai mengalihkan perhatian ke luar saham-saham yang sebelumnya menjadi penerima manfaat utama dari tren kecerdasan buatan. Penurunan nilai Nvidia juga dipengaruhi oleh sentimen negatif yang meluas ke seluruh industri semikonduktor.

Pergeseran investasi dari saham-saham unggulan AI mengakibatkan sektor chip mencatatkan penurunan mingguan paling tajam dalam kurun waktu lebih dari setahun. Para investor mulai mempertanyakan keberlanjutan valuasi AI yang sebelumnya telah melonjak sangat tinggi.

Laporan yang menyebutkan bahwa perusahaan AI asal China, DeepSeek, sedang merancang chip buatan sendiri guna mengurangi ketergantungan pada Nvidia turut menjadi sentimen negatif bagi NVDA. Kabar ini sempat memicu penurunan harga saham NVDA sebesar 1,5% hingga 2% pada sesi pra-pembukaan di awal Juli.

Efek dari kabar tersebut dinilai terbatas karena pendapatan pusat data Nvidia dari pasar China telah turun drastis dari sekitar $4,6 miliar per kuartal menjadi hampir nol akibat aturan pembatasan ekspor. Sebaliknya, tingkat permintaan dari kawasan di luar China menunjukkan tren yang positif.

Nscale telah mengamankan fasilitas kredit senilai $900 juta guna mempercepat pembangunan pusat data di Eropa serta Amerika Serikat dengan mengandalkan perangkat keras Nvidia sebagaimana dilansir dari berita sumber. Langkah ini memberi petunjuk bahwa permintaan infrastruktur AI di pasar Barat tetap mengalami pertumbuhan yang kuat.

Nvidia juga terus memperluas ekspansinya ke pasar Jepang melalui kerja sama dengan Noetra. Pada tahap awal, Noetra direncanakan memasang 13.750 unit CPU Vera serta 27.500 unit GPU Rubin buatan Nvidia dengan kapasitas pusat data mencapai 140 megawatt.

Pendapatan dari segmen sovereign AI dilaporkan telah tumbuh lebih dari tiga kali lipat secara tahunan hingga menembus angka lebih dari $30 miliar pada tahun fiskal 2026 sebagaimana dilansir dari berita sumber. Nvidia juga meluncurkan model AI terbaru bernama Cosmos 3 Edge serta modul komputasi T3000 dan T2000 untuk mendukung bidang robotika serta AI fisik.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index