Rencana Buyback Rp 8 Triliun Dorong Kebangkitan Saham Astra International

Rencana Buyback Rp 8 Triliun Dorong Kebangkitan Saham Astra International
Ilustrasi saham blue chip (Sumber : NET)

JAKARTA – Harga saham berkarakteristik blue chip, PT Astra International Tbk (ASII), bangkit dari pelemahan berkat rencana pembelian kembali atau buyback. Diperkirakan, harga saham ASII masih bisa melanjutkan tren kenaikan.

ASII resmi mengantongi persetujuan pemegang saham untuk melaksanakan buyback saham dengan nilai maksimal Rp 8 triliun. Persetujuan tersebut diperoleh dalam Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) yang digelar pada Jumat (17/7/2026).

Aksi korporasi ini dinilai menjadi sentimen positif bagi saham ASII yang masih terkoreksi sejak awal tahun. Sepanjang pekan lalu, harga saham Astra menguat 290 poin atau 6,03 persen ke level Rp 5.100 per saham.

Kenaikan itu menghentikan pelemahan harga saham ASII yang berlangsung sejak awal tahun 2026 dengan akumulasi penurunan 23,88 persen secara year to date.

Presiden Direktur Astra International, Rudy, mengatakan buyback saham akan dilaksanakan sesuai Peraturan Otoritas Jasa Keuangan (POJK) Nomor 29 Tahun 2023 dengan nilai maksimal Rp 8 triliun.

"Pendanaan buyback berasal dari kas internal perseroan, bukan dari pinjaman maupun dana hasil penawaran umum," ujar Rudy dalam keterangan resmi, Jumat (17/7) sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Program buyback akan berlangsung selama 12 bulan sejak memperoleh persetujuan pemegang saham. Direksi juga memperoleh kewenangan untuk menentukan seluruh tindakan yang diperlukan dalam pelaksanaan buyback, termasuk menetapkan harga pembelian saham.

Perseroan memastikan pelaksanaan buyback tetap mengacu pada ketentuan regulator. Jumlah saham yang dibeli kembali tidak boleh melebihi 10 persen dari modal ditempatkan dan disetor penuh, serta kepemilikan saham publik (free float) harus tetap dijaga minimal 15 persen.

Manajemen Astra menyebut aksi buyback ini merupakan bagian dari strategi untuk meningkatkan nilai jangka panjang bagi pemegang saham sekaligus memperkuat disiplin dalam alokasi modal. Perseroan menilai buyback saham dapat menjadi instrumen yang efektif untuk mengoptimalkan penggunaan modal dan meningkatkan imbal hasil bagi investor.

Dalam RUPSLB yang sama, pemegang saham juga menyetujui pengalihan maksimal 100 juta saham hasil buyback periode III untuk pelaksanaan Management Stock Ownership Program (MSOP). Sebelumnya, pada periode buyback III yang berlangsung 16 Maret hingga 15 Juni 2026, Astra telah membeli kembali sebanyak 153,4 juta saham dengan nilai Rp 810,7 miliar atau sekitar 40,5 persen dari total alokasi dana Rp 2 triliun.

Secara akumulatif, sejak November 2025 Astra telah mengoleksi sebanyak 563,5 juta saham tresuri dari tiga periode pelaksanaan buyback.

Analis Kiwoom Sekuritas Indonesia Adrian Djie menilai buyback senilai Rp 8 triliun tidak akan memberikan tekanan berarti terhadap kondisi keuangan Astra. Hal tersebut ditopang oleh struktur permodalan yang solid dan arus kas operasional yang kuat.

Menurut Adrian, aksi korporasi ini berpotensi menjadi katalis positif bagi pergerakan saham ASII dalam jangka pendek. Selain meningkatkan permintaan saham di pasar, buyback juga mencerminkan keyakinan manajemen bahwa valuasi saham ASII masih berada di level yang menarik.

Ia menambahkan, peluang penguatan saham ASII masih terbuka apabila tekanan di pasar modal mulai mereda. Saat ini, valuasi saham Astra disebut berada di kisaran price to earnings ratio (PER) minus satu standar deviasi dibandingkan rata-rata historis lima tahun terakhir.

Dari sisi fundamental, kinerja Astra diperkirakan akan ditopang oleh kenaikan harga batubara dibandingkan tahun lalu, pemulihan operasional tambang emas Martabe milik PT United Tractors Tbk (UNTR), serta diversifikasi bisnis yang mampu menjaga ketahanan perusahaan di tengah tantangan ekonomi global.

Meski demikian, investor juga perlu mencermati sejumlah risiko yang dapat memengaruhi kinerja perseroan, seperti pelemahan Indeks Keyakinan Konsumen (IKK), persaingan industri otomotif yang semakin ketat, serta volatilitas harga minyak dunia. Adrian merekomendasikan trading buy untuk saham ASII dengan target harga jangka pendek di level Rp 5.300 per saham.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index