JAKARTA - Nilai tukar (kurs) rupiah (IDR) kembali terpuruk terhadap dolar Amerika Serikat (USD) pada awal sesi perdagangan hari Senin (13/7/2026).
Berdasarkan informasi Bloomberg pada pukul 09.05 WIB di pasar spot exchange, nilai tukar rupiah hari ini dibuka turun 26 poin (0,14%) ke posisi Rp 18.091 per dolar AS.
Sementara itu, dolar AS terpantau naik 0,18% ke posisi 101.131.
Sebelumnya, nilai tukar rupiah pada hari Jumat (10/7/2026) berakhir menguat sebesar 63 poin (0,35%) ke posisi Rp 18.065 per dolar AS.
Dilansir dari dari Sumbernya, Senin (13/7/2026) rupiah saat dolar AS naik terhadap mayoritas mata uang global lainnya dikarenakan pengaruh tentang pertikaian yang kembali memanas di Timur Tengah memicu kecemasan inflasi serta proyeksi kenaikan suku bunga.
Mata uang yen Jepang turun 0,1% menjadi 161,92 per dolar AS.
Euro juga turun 0,1% menjadi $ 1,1403 per dolar AS.
Sementara itu, mata uang poundsterling Inggris juga turun 0,1% menjadi $ 1,3383 per dolar AS.
Adapun dolar Australia turun 0,1% menjadi 0,6942perdolarAS,sementaradolarSelandiaBarujugajatuh0,1%menjadi 0,5757 per dolar AS.
“Setelah lonjakan harga menjelang akhir pekan lalu yang berlanjut hingga akhir pekan, dolar AS telah merespons, dan harga minyak mentah menjadi pendorongnya,” kata dari Sumbernya, analis pasar di IG di Sydney.
“Hal ini kembali memicu kekhawatiran bahwa jika harga energi naik, kami bisa mulai melihat kenaikan suku bunga dipercepat," ucap dari Sumbernya.
Para pedagang kini memprediksi dua kali kenaikan suku bunga dari Federal Reserve sampai akhir tahun 2026.
Analis Westpac dalam sebuah laporan riset memprediksi ancaman inflasi bakal tetap menjadi sorotan selama minggu mendatang, menjelang peluncuran data CPI AS pada hari Selasa, indikator PPI pada hari selanjutnya, dan pengumuman Ketua The Fed Kevin Warsh di depan DPR dan Senat AS.