JAKARTA – Kurs mata uang rupiah pada transaksi hari ini, Kamis (2/7/2026), diperkirakan akan terus tertekan saat para pemodal bersikap wait and see menanti publikasi data ekonomi Amerika Serikat serta pernyataan dari petinggi bank sentral AS, The Federal Reserve. Rupiah pada perdagangan Rabu (1/7/2026) berakhir turun ke posisi Rp17.950 per dolar AS.
Kemerosotan tersebut turut melanda sebagian besar mata uang di kawasan Asia seiring dengan reli penguatan dolar AS. Berdasarkan data RTI Infokom, yuan China melemah 0,16 persen, dolar Hong Kong turun 0,01 persen, yen Jepang menyusut 0,07 persen, won Korea Selatan terpangkas 0,19 persen, dolar Singapura melemah 0,21 persen, baht Thailand merosot 0,21 persen, serta dolar Taiwan terkoreksi 0,15 persen.
Chief Analyst Doo Financial Futures, Lukman Leong, mengungkapkan bahwa kejatuhan rupiah beserta mayoritas valuta Asia disebabkan oleh rilis data ketenagakerjaan AS yang lebih solid dari estimasi. Kondisi ini mendongkrak proyeksi pasar terhadap kebijakan hawkish dari otoritas The Fed.
Dari sisi internal, performa perdagangan internasional yang kurang memuaskan ikut menyumbang pada sentimen negatif bagi pergerakan rupiah. Merosotnya angka ekspor serta terjadinya defisit pada neraca perdagangan untuk pertama kalinya sejak April 2020 kian memperberat beban mata uang domestik.
Lukman menyebut perhatian para pemodal bakal tertuju pada pidato pejabat The Fed, Christopher Warsh, serta publikasi data performa sektor manufaktur AS (ISM Manufacturing). Pelaku pasar pun masih terus memantau kelanjutan dialog perdamaian antara AS dan Iran yang sedang berlangsung di Qatar.
Investor diproyeksikan cenderung membatasi kepemilikan pada aset di pasar negara berkembang menjelang publikasi data serapan tenaga kerja AS, terutama Nonfarm Payrolls (NFP). "Laju rupiah diperkirakan berada pada kisaran Rp17.900 hingga Rp18.050 per dolar AS," ujar Lukman sebagaimana dilansir dari sumber berita.
Di sisi lain, pengamat pasar uang dan komoditas, Ibrahim Assuaibi, memproyeksikan rupiah masih berpeluang bergerak melemah dalam sesi transaksi hari ini pada kisaran Rp17.950-Rp18.010 per dolar AS. Ibrahim menilai faktor utama yang membayangi pergerakan rupiah berakar dari ketidakpastian progres diplomasi damai AS-Iran yang menjaga premi risiko geopolitik tetap tinggi.
Pelaku pasar tengah mengantisipasi rangkaian data ketenagakerjaan AS untuk membaca arah kebijakan suku bunga The Fed. Laporan JOLTS memperlihatkan angka lowongan pekerjaan bertambah menjadi 7,594 juta pada Mei, melampaui prediksi pasar di level 7,3 juta.
Titik berat perhatian investor pada transaksi hari ini akan bergeser pada laporan pergeseran tenaga kerja versi ADP serta data NFP yang meluncur lebih cepat akibat pekan perdagangan pendek di AS. Data tersebut diproyeksikan bakal menjadi penggerak utama yang menentukan arah tren dolar AS maupun rupiah dalam jangka pendek.