Minyak Mentah Dunia Merosot Akibat Meredanya Ketegangan Geopolitik

Minyak Mentah Dunia Merosot Akibat Meredanya Ketegangan Geopolitik
Ilustrasi: Harga minyak mentah dunia turun seiring meredanya ketegangan geopolitik antara AS dan Iran. (Foto: NET)

JAKARTA – Nilai minyak dunia ditutup merosot pada sesi perdagangan Selasa (30/6/2026) waktu setempat. Minyak Brent serta West Texas Intermediate (WTI) mencatatkan penurunan bulanan dan kuartalan paling dalam semenjak pandemi Covid-19 di tahun 2020.

Harga minyak Brent untuk pengiriman Agustus merosot 23 sen (0,3%) ke level US$ 72,92 per barel. Sementara itu, nilai minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) melemah US$ 1,25 (1,8%) menjadi US$ 69,50 per barel.

Penurunan harga ini terjadi seiring meningkatnya ekspektasi pasar terhadap peluang dialog lanjutan antara Amerika Serikat dan Iran di Doha. Nilai Brent dan WTI saat ini kembali mendekati posisi sebelum pecahnya konflik bersenjata pada akhir Februari lalu.

Analis UBS, Giovanni Staunovo, mengungkapkan bahwa pasar masih mempertahankan premi risiko geopolitik, namun mulai muncul suplai tambahan seiring kapal-kapal yang kembali berlayar di wilayah Teluk. "Saya tidak mengatakan premi risiko sudah hilang sepenuhnya. Namun, bertambahnya kapal yang kembali keluar dari Teluk menciptakan tambahan pasokan sementara sehingga menekan harga minyak," ujar Staunovo, sebagaimana dilansir dari sumber berita.

Morgan Stanley memproyeksikan pasar minyak global akan mengalami kelebihan pasokan berkisar 4,8 juta barel per hari pada 2027. Di sisi lain, otoritas Qatar menyebut utusan AS dan Iran hanya akan mengadakan pembicaraan teknis terkait keamanan kawasan.

Kedua negara memiliki waktu selama 60 hari untuk merundingkan gencatan senjata permanen serta menyelesaikan isu strategis lainnya. Isu tersebut termasuk masa depan rute pelayaran Selat Hormuz yang menjadi jalur bagi sekitar 20% pasokan minyak bumi dunia.

Sepanjang Juni, harga Brent telah ambles sekitar 21%, menyusul penurunan sekitar 19% pada Mei. Secara kuartalan, Brent terpuruk sekitar 38% pada kuartal II-2026, yang menjadi kemerosotan terburuk semenjak kuartal I-2020.

Volume produksi minyak AS terpantau terus merangkak naik dan menembus rekor bulanan di angka 13,93 juta barel per hari pada April. Pelaku pasar kini menantikan laporan persediaan minyak mingguan dari American Petroleum Institute (API) dan EIA untuk melihat sinyal ekuilibrium pasokan dan permintaan.

Para analis memprediksi cadangan minyak mentah AS menyusut sekitar 4,5 juta barel pada pekan lalu. Jika terealisasi, ini akan menjadi penurunan stok selama 10 minggu berturut-turut, menyamai rekor yang tercipta pada Januari 2018.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index