JAKARTA – Minat perusahaan untuk mencatatkan saham di Bursa Efek Indonesia (BEI) tetap menunjukkan geliat yang kuat meskipun kondisi pasar saham saat ini sedang volatil. Hingga akhir Juni 2026, tercatat ada delapan perusahaan yang tengah mengantre untuk melaksanakan penawaran umum perdana saham atau initial public offering.
Direktur Penilaian Perusahaan BEI, I Gede Nyoman Yetna, menjelaskan bahwa delapan perusahaan tersebut saat ini masih berada dalam pipeline pencatatan saham. “Dari delapan perusahaan tersebut, satu merupakan perusahaan dengan aset skala kecil, satu perusahaan aset skala menengah, dan enam perusahaan aset skala besar," sebagaimana dilansir dari sumber berita.
Berdasarkan sektornya, pipeline IPO didominasi oleh empat perusahaan di sektor kesehatan. Selain itu, terdapat dua perusahaan dari sektor barang konsumsi primer, satu dari sektor barang konsumsi nonprimer, serta satu dari sektor infrastruktur.
Hingga saat ini, belum terdapat calon emiten yang berasal dari sektor basic materials, energi, keuangan, industri, maupun properti dan real estat. Secara keseluruhan, BEI mencatat total penghimpunan dana di pasar modal sepanjang tahun 2026 telah menyentuh angka Rp 80,28 triliun.
Pencapaian tersebut berasal dari penawaran umum perdana saham, penerbitan efek bersifat utang dan sukuk, serta rights issue. Dana dari hasil IPO sepanjang tahun ini tercatat baru mencapai Rp 300 miliar.
Sementara itu, penerbitan efek bersifat utang dan sukuk menjadi penyumbang terbesar dengan nilai Rp 76,09 triliun dari 71 emisi oleh 43 penerbit. Penghimpunan dana melalui rights issue mencapai Rp 3,89 triliun dari empat perusahaan tercatat per 26 Juni 2026.
Berdasarkan data e-IPO BEI, terdapat enam perusahaan yang sedang menjalani masa penawaran umum perdana saham saat ini. Perusahaan tersebut adalah PT Niramas Utama Tbk, PT Prodia Diagnostic Line Tbk, PT Esa Medika Mandiri Tbk, PT Nitrasanata Dharma Tbk, PT Bach Multi Global Tbk, dan PT Rans Entertainment Indonesia Tbk.
Keenam perusahaan tersebut diperkirakan mampu menghimpun dana sekitar Rp 2,14 triliun. PT Nitrasanata Dharma Tbk membidik dana terbesar yakni sekitar Rp 683 miliar, diikuti oleh target perusahaan lainnya dengan nominal bervariasi.
Investment Specialist KISI Sekuritas, Ahmad Faris Mu’tashim, menilai keputusan enam perusahaan tersebut untuk tetap melantai di bursa di tengah gejolak pasar adalah langkah yang tepat. Hal ini didorong oleh tekanan harga minyak yang mulai mereda sehingga kondisi pasar secara bertahap mulai stabil.
“Hal yang menjadi pertimbangan adalah kondisi pasar yang setidaknya mulai stabil, sehingga emiten dapat mengambil momentum potensi pembalikan arah,” sebagaimana dilansir dari sumber berita.
Faris menambahkan bahwa minat investor terhadap saham IPO tidak hanya dipengaruhi oleh kondisi IHSG atau fundamental perusahaan semata. Faktor utama yang menjadi perhatian investor adalah kredibilitas penjamin emisi serta kejelasan peruntukan dana hasil IPO.
“Melihat behavior investor saat ini yang biasa, terlihat mayoritas orang lebih memilih saham IPO dari sisi kredibilitas underwriter dan peruntukan alokasi dana IPO. Sehingga, kondisi pasar dan valuasi yang cenderung premium sering kali tereduksi,” sebagaimana dilansir dari sumber berita.