IHSG Berpeluang Naik, Phintraco Sekuritas Jagokan BBCA hingga EXCL

IHSG Berpeluang Naik, Phintraco Sekuritas Jagokan BBCA hingga EXCL
Ilustrasi harga saham (Gambar: NET)

JAKARTA – Analisis dari Phintraco Sekuritas memproyeksikan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) bakal melaju kencang kembali pada sesi transaksi Selasa (26/5/2026). Pergerakan IHSG untuk hari ini diestimasi bakal bergulir pada kisaran resistance 6.300, pivot 6.200, serta support 6.100.

Pihak Phintraco Sekuritas menyodorkan lima saham pilihan yang berpotensi mendatangkan keuntungan, di mana salah satu saham tersebut adalah BBCA.

Berdasarkan pemaparan dari Phintraco Sekuritas, IHSG pada perdagangan kemarin sukses bertengger di zona hijau dengan penguatan sebesar 0,72% menuju posisi 6.206,35, sesudah sempat memperlihatkan pergerakan fluktuatif di fase awal sesi.

Dorongan sentimen positif bersumber dari merosotnya nilai minyak mentah global seiring mencuatnya ekspektasi pembukaan kembali akses pelayaran komersial di kawasan Selat Hormuz.

“Kondisi tersebut mendorong optimisme pelaku pasar terhadap meredanya ketegangan geopolitik global,” tulis Phintraco Sekuritas dalam risetnya, Selasa (26/5/2026), sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Menilik indikator teknikal, Phintraco Sekuritas memaparkan bahwa pergerakan IHSG sempat melewati garis moving average lima hari (MA5), kendati pada sesi penutupan akhirnya harus parkir di bawah batas wilayah tersebut.

Walau demikian, parameter stochastic RSI terpantau membentuk persilangan positif (golden cross) pada zona jenuh jual (oversold) yang mengindikasikan adanya kans bagi kelanjutan penguatan indeks.

“IHSG hari ini diperkirakan bergerak pada rentang 6.100-6.300,” tambah Phintraco Sekuritas sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Di sudut lain, pihak otoritas moneter berencana merilis instrumen surat utang negara (SUN) berbasis denominasi mata uang asing dengan nilai yang setara dengan US$ 3,4 miliar.

Langkah strategis ini ditempuh dalam rangka mempertebal cadangan devisa domestik sekaligus memicu penguatan bagi nilai tukar rupiah. Portofolio instrumen tersebut mencakup penerbitan obligasi dengan nilai mencapai US$ 2 miliar dalam bentuk denominasi dolar AS, serta senilai 1,25 miliar euro dalam format denominasi euro.

Sentimen Rupiah

Menurut pandangan Phintraco Sekuritas, kebijakan korporasi negara tersebut diharapkan mampu memperbanyak pasokan likuiditas dolar AS di pasar dalam negeri. Meski demikian, pergerakan nilai tukar rupiah pada pasar spot justru ditutup melemah sebesar 0,15% ke posisi Rp 17.744 per dolar AS di sesi transaksi Senin kemarin.

“Pelemahan rupiah dinilai lebih dipengaruhi oleh kekhawatiran pasar terhadap prospek ekonomi Indonesia serta menurunnya kepercayaan investor,” papar Phintraco Sekuritas sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Bukan hanya itu, Phintraco Sekuritas melanjutkan, pemerintah dijadwalkan bakal mengawali fase uji coba penerapan PP No.21/2026 mengenai regulasi wajib retensi Devisa Hasil Ekspor Sumber Daya Alam (DHE SDA) pada periode awal Juni 2026.

Melalui rincian aturan itu, Phintraco Sekuritas mengemukakan bahwa penempatan dana DHE SDA diwajibkan hanya melalui jaringan perbankan Himbara.

Parameter retensi juga diperketat menjadi sekurang-kurangnya 30% berdurasi tiga bulan bagi sektor migas, serta porsi 100% berdurasi 12 lah bagi sektor non-migas. Di sisi lain, batas konversi mata uang DHE menuju rupiah dipatok maksimal sebesar 50%.

Akan tetapi, Phintraco Sekuritas melengkapi, pihak Amerika Serikat (AS) diinformasikan bakal memperoleh pengecualian dari ketetapan aturan tersebut lantaran Indonesia mengantongi traktat ART bersama AS, walaupun instrumen tersebut terpantau belum diratifikasi.

Orientasi kebijakan ini dinilai berisiko memunculkan keraguan terkait tingkat efektivitas eksekusi aturan di lapangan, sekaligus berpotensi menghambat laju ekspansi para pelaku bisnis.

Phintraco Sekuritas menjagokan lima emiten saham yang dinilai berpeluang menghasilkan keuntungan hari ini, yakni BBCA, ADMR, ASII, PGAS, dan EXCL.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index