JAKARTA – PT Adi Sarana Armada Tbk (ASSA) tetap berkomitmen secara konsisten terhadap target peremajaan sebanyak 5.000 unit armada pada setiap tahunnya, kendati penurunan nilai tukar rupiah menyimpan risiko bagi membengkaknya pengeluaran operasional perusahaan.
Berdasarkan rujukan data di pasar spot pada hari Jumat (22/5/2026), nilai mata uang rupiah ditutup dengan koreksi sebesar 0,28% secara harian menuju level Rp 17.717 per dolar Amerika Serikat (AS).
Prodjo Sunarjanto, yang menjabat sebagai Presiden Direktur ASSA, memaparkan bahwa pihak korporasi terus menjalankan program pembaruan armada secara berkala. Walakin, mencermati situasi roda ekonomi global maupun domestik yang diselimuti ketidakpastian, ASSA lebih memilih untuk menetapkan target pertumbuhan yang jauh lebih hati-hati pada tahun ini.
“Strategi ekspansif pasti ditunda seiring dilakukannya perbaikan dan penghematan. Target pertumbuhan kami lebih konservatif,” ujar Prodjo sebagaimana dilansir dari berita sumber.
Ia menjabarkan bahwa depresiasi kurs rupiah sejatinya tidak melayangkan dampak secara langsung terhadap lini usaha yang digeluti ASSA. Akan tetapi, kemerosotan nilai tukar tersebut berpotensi memicu terjadinya lonjakan harga pada unit kendaraan baru, bahan bakar minyak (BBM), sampai ke sektor komponen suku cadang.
Di sisi lain, Prodjo menilai bahwa kondisi ini turut mendatangkan imbas positif bagi harga jual kembali (resale value) dari jajaran armada bekas yang dikuasai oleh perusahaan, sebagaimana dilansir dari berita sumber: “Harga mobil yang saat ini dimiliki ASSA juga akan mengalami kenaikan nilai bekas karena faktor inflasi,” katanya.
Ia menguraikan lebih mendalam bahwa efek dari fluktuasi mata uang rupiah terhadap tingkat profitabilitas perusahaan ke depan masih akan sangat bergantung pada dinamika situasi global serta eskalasi kondisi geopolitik.
Mengenai postur pembiayaan perusahaan, Prodjo memberikan penegasan bahwa seluruh pinjaman dana yang ditarik oleh ASSA berbasis pada mata uang rupiah, sehingga dapat terhindar dari efek langsung gejolak nilai kurs valuta asing. Meskipun begitu, perseroan tidak menampik hadirnya tekanan dari tren kenaikan suku bunga acuan yang berisiko memperbesar biaya pendanaan (cost of funds).
Dalam menghadapi situasi yang serba tidak menentu ini, jajaran manajemen ASSA mengutarakan belum dapat mengalkulasi secara presisi perihal seberapa besar dampak dari pelemahan rupiah terhadap performa finansial perusahaan ke depan, sebagaimana dilansir dari berita sumber.