JAKARTA – Nilai pasar saham korporasi energi PT Indika Energy Tbk (INDY) terpantau melemah belakangan ini. Kendati demikian, penanam modal saham korporasi ini dapat agak bernapas lega lantaran terdapat dividen yang bakal disalurkan dalam waktu dekat.
Pada transaksi Rabu 22 Mei 2026, nilai saham INDY mandek di level Rp 2.290, terpangkas 150 poin atau 6,15% dalam skala harian. Dalam kurun perdagangan 30 hari pamungkas, nilai saham INDY sudah tergerus 1.150 poin atau 33,43%.
INDY secara resmi mengesahkan pembagian dividen tunai bernilai USD 3,01 juta lewat Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) yang diselenggarakan di Jakarta, Rabu (20/5/2026).
Mengacu pada kurs rupiah sekarang, besaran itu menyentuh angka di atas Rp 510 miliar. Nominal tersebut setara dengan 50 persen dari keuntungan bersih tahun buku 2025 yang bisa diatribusikan kepada pemilik entitas induk. Dividen diplot untuk disalurkan kepada pemilik saham pada 19 Juni 2026.
Dalam agenda RUPST, pihak manajemen turut menegaskan fokus peralihan usaha perseroan menuju lini non-batubara serta pemantapan implementasi Environmental, Social, and Governance (ESG).
Direktur Utama dan Group CEO Indika Energy, Azis Armand, mengutarakan bahwa total belanja modal korporasi saat ini dialokasikan demi menyokong proyek tambang emas Awak Mas beserta pengerjaan bisnis hijau.
“Kami terus memperkuat transformasi bisnis di mana seluruh belanja modal pada periode ini dialokasikan untuk proyek tambang emas Awak Mas dan berbagai inisiatif bisnis hijau,” ujar Azis sebagaimana dilansir dari berita sumber.
Berdasarkan opininya, strategi tersebut menjadi bagian dari rencana jangka panjang korporasi yang selaras dengan transisi energi global menuju net-zero emissions.
Di samping penyaluran dividen, pemilik saham turut menyetujui laporan tahunan sekaligus laporan keuangan tahun buku 2025. RUPST juga menetapkan pembebasan tanggung jawab secara penuh atau acquit et de charge buat Direksi serta Dewan Komisaris atas jalannya tugas sepanjang tahun buku yang berjalan.
Pada struktur manajemen teranyar, Agus Lasmono diplot sebagai Komisaris Utama, sedangkan Azis Armand tetap memegang posisi Direktur Utama.
Pada kuartal I-2026, Indika Energy mencatatkan laba bersih bernilai USD 7 juta yang bisa diatribusikan kepada pemilik entitas induk. Besaran tersebut melonjak tajam bila dikomparasikan dengan rentang yang sama pada tahun sebelumnya yang senilai USD 2,9 juta.
Pendapatan perseroan turut terkerek tipis menjadi USD 493,2 juta, ditopang oleh naiknya kontribusi lini logistik, niaga energi, serta sumber daya non-batubara.
Performa beberapa anak usaha non-batubara ikut menopang laju pertumbuhan perseroan. Tripatra menorehkan kenaikan pendapatan sebesar 11,2 persen menjadi USD 68,7 juta.
Sementara Interport Mandiri Utama mendulang lonjakan pendapatan 53,4 persen menuju angka USD 43,1 juta, terutama disumbang oleh lini bisnis niaga bahan bakar. Di sudut lain, omzet Kideco membukukan penyusutan imbas melemahnya volume penjualan sekaligus nilai jual rata-rata komoditas batu bara.
Indika Energy pun sukses menaikkan profitabilitas via efisiensi ongkos operasional serta reduksi biaya utang. Laba kotor menanjak 16,2 persen ke level USD 74 juta, disertai margin laba kotor yang meningkat ke angka 15 persen. Ditambah lagi, beban keuangan menyusut 8,6 persen jika dikomparasikan dengan tahun sebelumnya.
Sepanjang kuartal I-2026, total belanja modal perseroan sebesar USD 26,2 juta dialokasikan bagi sektor non-batubara. Sejumlah USD 20,4 juta di antaranya dipakai demi pengembangan proyek tambang emas Awak Mas.
Sampai penutupan Maret 2026, kemajuan konstruksi proyek Awak Mas sudah menyentuh 56,8 persen dengan total realisasi investasi senilai USD 288,1 juta. Perseroan merasa optimistis proyek itu bakal menjadi salah satu pilar penopang pertumbuhan jangka panjang di tengah pusaran transisi energi global.