Ancaman Harga Minyak dan Yield Obligasi Bebani Bursa Saham AS

Sabtu, 19 September 2026 | 21:58:58 WIB
Ilustrasi Wall Street (FOTO : NET)

JAKARTA – Di penghujung pekan yang padat bagi pasar, pergerakan saham terpantau fluktuatif seiring meningkatnya imbal hasil obligasi. Di samping itu, para investor juga dihadapkan pada jatuh tempo opsi dalam jumlah besar yang memicu lonjakan volume perdagangan di bursa Amerika Serikat (AS).

Usai penurunan tajam obligasi Treasury sempat terhenti, imbal hasil obligasi 10 tahun menyentuh angka 5% menyusul spekulasi bahwa harga minyak yang mendekati US$100 berisiko memicu inflasi, yang pada akhirnya dapat mendorong kenaikan suku bunga oleh bank sentral AS atau Federal Reserve.

Walaupun mayoritas perusahaan dalam S&P 500 mencatatkan penurunan, indeks tersebut tetap mengalami kenaikan tipis berkat menguatnya saham para produsen chip. Sementara itu, Bitcoin kembali melampaui level US$81.000.

Di sisi lain, nilai tukar Yen menahan penurunannya setelah beredar laporan bahwa Bank of Japan melakukan pemeriksaan suku bunga, yang kerap dipandang sebagai petunjuk awal bakal terselenggaranya intervensi.

“Tidak ada perubahan dari sisi fundamental yang membuat investor berpikir bahwa harga minyak akan turun secara signifikan atau bahwa imbal hasil akan anjlok dalam jangka menengah. Kita masih bisa melihat lonjakan volatilitas yang signifikan,” kata Matt Maley dari Miller Tabak sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Volume transaksi perdagangan di bursa AS menembus angka lebih dari 26 miliar saham, atau sekitar 40% di atas rerata 12 bulan. Lonjakan volume ini berlangsung di tengah agenda triwulanan yang dikenal sebagai “triple witching” — masa ketika kontrak derivatif terkait saham, opsi indeks, serta kontrak berjangka memasuki tanggal jatuh tempo.

Merujuk pada data Citadel Securities, nilai nominal opsi yang jatuh tempo diperkirakan mencapai US$7 triliun, menjadikannya salah satu rekor terbesar sepanjang sejarah. Dinamika ini umumnya berpotensi memperbesar guncangan serta fluktuasi di pasar.

“Pasar masih “dalam kondisi yang sangat berisiko” di tengah kenaikan harga minyak dan imbal hasil obligasi, dan “kita belum sepenuhnya terlepas dari risiko terkait volatilitas yang biasanya muncul selama bulan September dan Oktober,” menurut Rick Gardner dari RGA Investments sebagaimana dilansir dari berita sumber.

“Kondisi pasar saham saat ini mungkin bisa disebut sebagai ‘Kisah Dua Cakrawala Waktu’,” kata Daniel Skelly dari Morgan Stanley Wealth Management sebagaimana dilansir dari berita sumber.

“Dalam jangka pendek, ketidakpastian yang terus berlanjut mengenai faktor-faktor makro seperti harga minyak, imbal hasil yang tinggi, dan pemilihan umum tengah masa jabatan berpotensi memperparah volatilitas musiman. Namun, dalam jangka panjang, prospeknya tetap positif,” sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Para pembuat kebijakan di AS pada pekan ini menaikkan suku bunga acuan untuk kali pertama sejak 2023 demi menekan laju inflasi. Presiden Fed Kansas City, Jeff Schmid, menyatakan penolakannya untuk berdiam diri dan mendukung penetapan tersebut sebagai tindakan yang dibutuhkan guna meredam tingginya inflasi yang tak hanya dipicu kenaikan harga minyak.

“Meski langkah terbaru The Fed kemungkinan tidak akan menjadi langkah tunggal, bagi kami hal ini juga tidak terlihat sebagai awal dari siklus kenaikan suku bunga yang agresif,” kata Angelo Kourkafas dari Edward Jones sebagaimana dilansir dari berita sumber.

“Bagi kami, The Fed tidak terlalu tertinggal dari kurva inflasi seperti pada tahun 2022,” sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Dari sudut pandang indikator ekonomi, output produksi pabrik AS tercatat mengalami penurunan pertama kalinya pada tahun ini seiring dengan melambatnya manufaktur peralatan bisnis serta beban kenaikan biaya input yang dialami produsen.

Tags

Terkini