ALII dan SILO Keluar Indeks FTSE Russell Cermati Rekomendasi Sahamnya

Jumat, 18 September 2026 | 18:11:00 WIB
Ilustrasi Saham ALII (FOTO : NET)

JAKARTA – Saham PT Ancara Logistics Indonesia Tbk (ALII) dan PT Siloam International Hospitals Tbk (SILO) menghadapi potensi tekanan jual setelah FTSE Russell mengeluarkan keduanya dari indeks global tersebut. ALII akan keluar dari FTSE Global Equity Index Series (GEIS) Micro Cap, sedangkan SILO terdepak dari GEIS Small Cap, dengan perubahan yang berlaku efektif mulai 21 September 2026.

Meski kedua saham masih memenuhi ambang batas kapitalisasi pasar dan likuiditas, FTSE Russell mengeluarkannya karena tidak memenuhi kriteria surveillance stock screen. Bagi pasar, konsekuensi terdekat dari perubahan tersebut adalah potensi berkurangnya aliran dana dari investor yang menggunakan indeks FTSE Russell sebagai acuan.

Dana pasif atau passive fund yang mengikuti indeks dapat melakukan penyesuaian portofolio menjelang maupun pada saat tanggal efektif perubahan indeks. Analis Kiwoom Sekuritas Indonesia Kevin Yudha Pratama mengatakan, dampak keluarnya ALII dan SILO dari FTSE Russell lebih berpotensi terasa pada harga saham dalam jangka pendek melalui tekanan jual akibat rebalancing.

“Dampaknya lebih banyak ke pergerakan harga jangka pendek, bukan berarti fundamental kedua emiten langsung memburuk,” ujarnya kemarin sebagaimana dilansir dari berita sumber. Menurut Kevin, sebagian sentimen negatif kemungkinan sudah tercermin dalam harga karena perubahan indeks telah diketahui pasar sebelum tanggal efektif.

Namun, potensi tekanan jual masih terbuka karena investor institusi dapat mengurangi kepemilikan untuk menyesuaikan portofolio dengan komposisi indeks terbaru. Besarnya tekanan jual tidak bisa dihitung secara pasti.

Pasalnya, tidak tersedia data publik yang menunjukkan secara langsung berapa besar dana pasif yang mengikuti FTSE Russell dan berapa porsi kepemilikan ALII maupun SILO yang harus dilepas. Analis sekaligus Branch Manager Panin Sekuritas Pondok Indah Elandry Pratama juga melihat potensi selling pressure menjelang 21 September 2026.

Investor institusi tidak harus menunggu tanggal efektif untuk melakukan rebalancing sehingga tekanan dapat muncul lebih awal. Namun, menurut Elandry, dampak rebalancing FTSE Russell terhadap saham domestik selama ini cenderung lebih terbatas dibandingkan perubahan indeks MSCI, dan tekanan jual karena faktor indeks juga biasanya paling terasa di sekitar periode efektif rebalancing.

Dengan demikian, keluarnya ALII dan SILO dari FTSE Russell lebih berkaitan dengan capital flow dan likuiditas saham dalam jangka pendek, bukan perubahan langsung terhadap pendapatan atau laba perusahaan. Kevin menilai persoalan yang perlu diperhatikan justru adalah konsentrasi kepemilikan dan likuiditas saham.

Jika kondisi tersebut tidak berubah, minat investor institusi terhadap kedua saham dapat tetap terbatas dan peluang untuk kembali masuk indeks menjadi lebih kecil. “Kalau kondisi kepemilikan dan likuiditas tidak berubah, minat investor institusi bisa tetap terbatas,” ujar Kevin sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Dari sisi fundamental, kedua emiten masih memiliki kinerja operasional yang berbeda. SILO dinilai relatif lebih defensif karena bergerak di sektor kesehatan.

Pada semester I 2026, pendapatan SILO tumbuh sekitar 10,8% secara tahunan, sementara laba bersih meningkat sekitar 27,9%. Elandry menilai pertumbuhan tersebut menunjukkan kinerja fundamental SILO masih solid meski sahamnya menghadapi sentimen negatif dari perubahan indeks.

Sementara itu, ALII memiliki karakter bisnis yang lebih siklikal karena bergerak di bidang logistik batu bara. Kinerja perusahaan berkaitan erat dengan volume angkutan, aktivitas pertambangan, harga komoditas serta kontrak logistik yang diperoleh.

Kevin masih melihat prospek operasional ALII cukup baik dengan pendapatan dan laba yang tumbuh. Namun, sensitivitas terhadap aktivitas pertambangan membuat kinerja ALII lebih mudah terpengaruh perubahan siklus komoditas dibandingkan SILO.

Setelah proses rebalancing selesai, perhatian pasar berpotensi kembali bergeser ke kinerja fundamental masing-masing emiten. Karena itu, tekanan harga akibat keluarnya dari indeks tidak serta-merta mencerminkan perubahan prospek bisnis kedua perusahaan.

Bagi investor, Kevin menyarankan sikap wait and see hingga tekanan sentimen dari perubahan indeks mereda. Elandry juga menyarankan investor menunggu terbentuknya level support baru sebelum melakukan akumulasi.

Elandry mencermati SILO pada kisaran target harga Rp3.300-Rp3.500 per saham dan ALII pada Rp1.450-Rp1.550 per saham. Pada penutupan perdagangan Kamis (17/9/2026), saham SILO turun 1,24% ke Rp1.995 per saham, sementara saham ALII melemah 1,38% menjadi Rp715 per saham.

Tags

Terkini