Shell Perluas Pelumas ke Pendingin Data Center, Bidik Pasar EV dan AI

Rabu, 16 September 2026 | 22:39:00 WIB

FINANSIALINSIGHT.COM — Shell Indonesia memperluas portofolio pelumasnya dari kendaraan konvensional ke fluida pendingin pusat data dan kendaraan listrik. Langkah ini diambil saat permintaan pelumas global tumbuh mendekati nol, dengan pasar ICE yang masih besar menjadi penopang utama.

JAKARTA — Global Executive Vice President Shell Lubricants, Jason Wong, menyatakan permintaan pelumas global secara volume masih tumbuh meskipun pertumbuhannya mendekati nol. Kondisi itu ditopang oleh populasi kendaraan bermesin pembakaran internal (ICE) yang tetap besar.

"Jumlah kendaraan ICE masih sangat besar. Jika jumlah kendaraan yang beredar masih menggunakan mesin yang membutuhkan pelumas, maka pasar pelumas tetap ada," ujar Jason dalam sesi media roundtable Shell, Rabu (16/9/2026).

Pelumas Premium Jadi Andalan di Segmen Konvensional

Shell memfokuskan strategi pada pelumas premium untuk kendaraan konvensional. Produk ini dirancang memberikan perlindungan mesin sekaligus membantu meningkatkan efisiensi bahan bakar.

Sektor industri juga masih menjadi bidikan. Menurut Jason, tidak seluruh mesin dan peralatan industri bisa dialihkan ke tenaga listrik, sehingga kebutuhan pelumas dan grease tetap ada.

"Karena itu, ketahanan sektor industri menjadi sangat penting," katanya.

E-Fluid dan Immersion Cooling untuk Era Elektrifikasi

Shell mulai meluncurkan portofolio E-fluid sejak 2019, saat EV mulai berkembang di sejumlah pasar. Perusahaan juga mengembangkan thermal fluid untuk manajemen panas pada sistem penyimpanan energi berbasis baterai, pusat data, dan fasilitas pengisian EV.

Teknologi immersion cooling menjadi salah satu fokus pengembangan. Fluida digunakan untuk mendinginkan perangkat, sehingga kebutuhan pendingin berbasis udara dan AC bisa ditekan.

"Kami tidak bisa menghentikan tren global. Kami perlu bergerak sejalan dengan tren tersebut dan tetap kompetitif," tegas Jason.

Dari Friction Management ke Fluid Management

President Director & Managing Director Lubricants Shell Indonesia, Andri Pratiwa, menyampaikan bisnis pelumas kini bergeser dari friction management menuju fluid management. Kendaraan listrik tidak membutuhkan pelumas untuk pembakaran, tetapi tetap memerlukan fluida pada baterai, transmisi, dan sistem gearing.

Pergeseran itu mendorong Shell mengembangkan produk fluida untuk mengelola temperatur pada sistem kendaraan listrik. Portofolio juga diarahkan ke pusat data yang mengonsumsi energi besar.

"Kalau dipakai immersion cooling untuk data center, yang tadinya memakai AC untuk mendinginkan, energinya tinggi sekali. Akhirnya dipakai fluida. Itu mengurangi energi listrik, tidak perlu pakai angin lagi, tidak perlu pakai AC lagi," jelas Andri.

AI Dorong Ekspansi Pusat Data

Perkembangan kecerdasan buatan (AI) membuka peluang lebih besar bagi teknologi pendinginan berbasis fluida. Peningkatan penggunaan AI membutuhkan kapasitas komputasi besar sehingga mendorong ekspansi pusat data.

"AI membutuhkan energi yang besar sekali dan itu membutuhkan data center. Ekspansi ke sana juga," kata Andri.

Selain EV dan pusat data, Shell memperluas pemanfaatan molekul berbasis silikon atau siloxane untuk industri kosmetik. Produk ini menjadi bagian diversifikasi portofolio di luar penggunaan tradisional pelumas.

"Kita mengikuti perkembangan dinamika pasar," ujar Andri.

Terkini