IHSG Anjlok ke Level 6.500, Cek Rekomendasi Saham Hari Ini

Jumat, 11 September 2026 | 17:31:00 WIB
Ilustrasi bursa saham (FOTO : NET)

JAKARTA – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali mengakhiri perdagangan Kamis (10/9/2026) di zona merah. Indeks tercatat mengalami penurunan sebesar 1,33 persen menuju posisi 6.589,34.

Beberapa saham masih mampu mencatatkan kenaikan, seperti KPIG yang melonjak 28,79 persen, CUAN menguat 4,79 persen, dan ANTM naik 2,19 persen. Sebaliknya, penurunan menekan saham BBRI sebesar 2,92 persen, BYAN terkoreksi 4,90 persen, serta BBCA turun 1,53 persen.

Aksi jual bersih (net sell) oleh investor asing tercatat mencapai Rp747,51 miliar di pasar reguler. Jika mengalkulasi keseluruhan pasar, nilai penjualan bersih investor asing menembus Rp1,95 triliun.

Tekanan meluas ke seluruh sektor perdagangan di bursa. Sebanyak 11 sektor kompak berada di zona merah, dengan penurunan terdalam dipimpin sektor energi sebesar 2,06 persen, sedangkan sektor teknologi mengalami pelemahan paling tipis yaitu 0,56 persen.

Sinyal negatif turut berembus dari bursa saham Amerika Serikat. Indeks Dow Jones melemah 0,60 persen ke level 52.064, S&P 500 tergerus 0,58 persen ke level 7.591, dan Nasdaq merosot 0,65 persen ke posisi 26.081.

Laju pasar saham dipengaruhi oleh memanasnya tensi geopolitik AS-Iran serta lonjakan harga minyak bumi. Dari dalam negeri, para pelaku pasar melakukan antisipasi jelang pengumuman evaluasi indeks GDX/GDXJ.

Ketidakpastian terkait potensi aliran dana pasif (passive flow) ETF berbasis GDX/GDXJ turut membebani pergerakan sejumlah saham tambang emas. Dampaknya, ETF EIDO serta indeks MSCI Indonesia masing-masing terkoreksi sebesar 2,13 persen dan 1,29 persen.

Berita Emiten

NexAI Digital Infrastruktur (MGLV)

MGLV merencanakan aksi penambahan modal dengan memberikan hak pemesan efek terlebih dahulu (rights issue) melalui penerbitan sebanyak-banyaknya 285,73 juta saham baru. Harga penawaran ditetapkan Rp8.880 per saham, sehingga perseroan berpeluang meraih dana segar hingga Rp2,54 triliun.

Aksi korporasi ini telah memperoleh persetujuan dalam RUPSLB pada 7 September 2026. Dana yang diperoleh akan diperuntukkan bagi pengembangan data center AI Tier III dengan kapasitas total 102 MW.

Proyek pengembangan tersebut meliputi perluasan fasilitas berkapasitas 36 MW di Jababeka serta pembangunan data center 60 MW di Kawasan Industri Terpadu (KIT) Batang. Perusahaan juga mengalokasikan sebagian dana untuk memperkuat struktur permodalan lewat akuisisi piutang anak usaha.

Pemegang saham utama MGLV, Nextier Datamate Center, dipastikan akan mengeksekusi seluruh haknya dalam rights issue ini dengan estimasi nilai Rp1,85 triliun. Dari analisis teknikal, harga saham MGLV berpotensi melaju menuju target Rp16.850 berdasarkan level fibonacci extension 2.618.

Medco Energi Internasional (MEDC)

MEDC membidik target produksi gas pertama (first gas) dari Blok Sakakemang pada kuartal III 2027. Proyek ini menjadi salah satu pilar utama dalam pembaruan portofolio minyak dan gas milik perusahaan.

Perseroan tetap mempertahankan target volume produksi migas tahun 2026 pada rentang 165–170 mboepd. Guna mendukung operasional di sektor migas, perseroan menyiapkan anggaran belanja modal (capex) hingga US$415 juta.

Di samping Sakakemang, MEDC tengah memfokuskan pengembangan pada beberapa lapangan lain seperti Suban, Sambar, dan Bualuang. Sementara itu, proyek Senoro Phase 2A telah beroperasi secara penuh sejak Juni 2026, dan Bualuang Renewal Plan Phase I sudah mulai berproduksi sejak kuartal II 2026.

Secara teknikal jangka pendek, pergerakan saham MEDC berpeluang menutup area gap pada level Rp1.695. Prospek tersebut ditopang oleh volume perdagangan yang stabil serta indikator stochastic yang mengarah naik.

Hartadinata Abadi (HRTA)

HRTA berencana menggelar penambahan modal tanpa hak pemesan efek terlebih dahulu (private placement) dengan melepas maksimal 460,53 juta lembar saham baru. Angka tersebut setara dengan 10 persen dari modal yang telah ditempatkan dan disetor penuh.

Harga pelaksanaan akan dipatok sekurang-kurangnya 90 persen dari rata-rata harga penutupan saham HRTA selama 25 hari bursa berturut-turut di pasar reguler. Mengacu pada harga penutupan per 10 September 2026, perseroan berpotensi memupuk dana sebesar Rp1,02 triliun.

Seluruh dana hasil aksi korporasi ini akan dimanfaatkan untuk memperkuat modal kerja. Berdasarkan laporan proforma per 30 Juni 2026, ekuitas HRTA diproyeksikan melonjak 27,90 persen menjadi Rp4,79 triliun, sementara total asetnya diperkirakan naik 9,21 persen menjadi Rp12,40 triliun.

Struktur modal ini membuat rasio utang terhadap ekuitas (liabilities to equity ratio) diproyeksikan membaik dari 2,03 kali menjadi 1,59 kali. Namun demikian, pemegang saham lama berpotensi terdilusi sebesar 9,09 persen.

Porsi kepemilikan PT Terang Anugrah Abadi selaku pemegang saham pengendali diproyeksikan menyusut dari 71,05 persen menjadi 64,59 persen setelah transaksi selesai. Pelaksanaan private placement ini masih menantikan persetujuan dari RUPS Independen pada 16 Oktober 2026.

Rekomendasi Saham Hari Ini

MEDC - Buy 1555-1565 | TP 1600-1640 | SL 1490

WIRG - Buy 77-79 | TP 81-84 | SL 73

TUGU - Buy 1420-1430 | TP 1450-1460 | SL 1355

KPIG - Buy 83-85 | TP 87-89 | SL 78

JARR - Buy 3670-3690 | TP 3730-3800 | SL 3460

Tags

Terkini