Saham Teknologi Asia Menguat saat Harga Minyak Naik Hingga US$97

Senin, 07 September 2026 | 19:12:39 WIB
Ilustrasi saham teknologi (FOTO : NET)

JAKARTA – Saham-saham teknologi di Asia mencatatkan penguatan pada perdagangan Senin (7/9), seiring laporan ketenagakerjaan Amerika Serikat (AS) yang solid dinilai memberi sentimen positif bagi pertumbuhan ekonomi global.

Kendati demikian, data tersebut memperkecil peluang penurunan suku bunga, di samping harga minyak yang melambung menyusul aksi saling serang antara kapal AS dan Iran di Teluk.

Sebagaimana dilansir dari berita sumber, Teheran menyatakan bakal mengumumkan area terbatas di luar Selat Hormuz dalam kurun beberapa hari mendatang.

Langkah tersebut diambil usai pasukan AS menyerang tiga kapal tanker milik Iran, yang kemudian dibalas Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) dengan meluncurkan rudal balistik ke arah dua kapal Angkatan Laut AS.

Harga minyak jenis Brent merangkak naik 0,7% menuju level US$96,97 per barel, setelah melompat hampir 8% pada pekan sebelumnya.

Di sisi lain, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) dari AS melaju 0,8% hingga ke posisi US$92,24 per barel.

Lonjakan harga minyak menjadi sentimen buruk bagi harga bahan bakar diesel yang sempat menyentuh rekor tertinggi pekan lalu.

Bahan bakar diesel memegang peranan krusial dalam menopang aktivitas sektor manufaktur, pertanian, pelayaran, hingga transportasi.

Tekanan inflasi tersebut membuat pelaku pasar kian cermat memantau rilis data harga konsumen AS pekan ini.

Dinamika ini turut memperkuat perkiraan bahwa Bank Sentral Eropa (ECB) akan mengerek suku bunga ke level 2,75% pada hari Kamis.

Pasar berjangka memperhitungkan probabilitas sebesar 75% untuk kenaikan suku bunga lanjutan hingga 3% pada Desember mendatang.

Pernyataan bernada hawkish dari ECB pasca-kenaikan suku bunga diprediksi membuat pergerakan saham-saham di Eropa berada dalam tekanan.

Kontrak berjangka untuk indeks FTSE, DAX, serta EUROSTOXX 50 kompak terkoreksi sebesar 0,1%.

Aktivitas perdagangan di Wall Street diproyeksikan cenderung sepi bertepatan dengan libur nasional di AS.

Gerak kontrak berjangka indeks Nasdaq dan S&P 500 mencatatkan penurunan tipis.

Fokus utama pasar pada pekan ini tertuju pada rilis data inflasi konsumen (CPI) AS periode Agustus yang dijadwalkan terbit pada hari Jumat.

Ekspektasi konsensus mengarah pada kenaikan inflasi inti sebesar 0,2%, dengan potensi risiko meningkat hingga 0,3%.

Pergerakan Saham Teknologi di Asia

Di kawasan Asia, gairah pada saham teknologi mendorong indeks Nikkei Jepang melonjak rebound 2,2%, membalikkan penurunan dengan persentase setara pada pekan lalu.

Kenaikan tajam juga dialami indeks Korea Selatan yang melesat hingga 3,1%.

Para pelaku pasar menyoroti proyeksi sangat bullish dari Goldman Sachs yang meyakini indeks Kospi berpeluang naik 75% mencapai level 12.000, walau target ini sebenarnya telah lama diusung pihak mereka.

Saham-saham unggulan di China menguat 0,2%, terdorong sentimen positif atas rencana Kementerian Keuangan China menyuntikkan modal gabungan senilai US$54 miliar ke perbankan dan asuransi milik negara.

Indeks MSCI Asia Pasifik di luar Jepang turut mencatatkan kenaikan sebesar 1,1%.

Namun, lonjakan imbal hasil obligasi masih membebani valuasi saham, di mana imbal hasil Treasury AS tenor 10 tahun bertahan di kisaran 4,784% atau mendekati rekor tertinggi sejak akhir 2023.

Apabila data CPI melampaui perkiraan, imbal hasil obligasi berpotensi kian mendekati batas psikologis 5%.

Terkait Federal Reserve, laporan tenaga kerja AS yang solid membuat pasar memperhitungkan peluang 58% bagi kenaikan suku bunga pada 16 September dan 70% pada Oktober.

Langkah Bank Sentral

Kepala Ekonomi Global JPMorgan, Bruce Kasman, memproyeksikan inflasi inti AS berada di angka 0,21%. Menurutnya, besaran tersebut masih cukup terkendali untuk membuat The Fed menahan suku bunga dalam jangka pendek.

Di samping itu, pasar memperkirakan ada peluang 75% bagi Bank of Japan (BoJ) untuk menaikkan suku bunga sebesar 25 basis poin pada pertemuan 18 September, serta peluang 60% untuk kenaikan berikutnya di bulan Desember.

Sebagaimana dilansir dari berita sumber, "Kesabaran bank sentral selama guncangan energi telah mendukung harga aset dan siklus kredit. Namun, bank sentral kini mulai bergerak," kata Kasman.

Sebagaimana dilansir dari berita sumber, Ia menambahkan, JPMorgan memperkirakan ECB dan BoJ akan menaikkan suku bunga masing-masing dua kali lagi hingga akhir tahun. Menurutnya, terdapat alasan kuat bagi The Fed untuk menaikkan suku bunga lebih awal dan lebih agresif dibandingkan proyeksi dasar kenaikan pada Desember.

Dinamika Dolar dan Emas

Pada pasar mata uang, indeks dolar hanya memperoleh dorongan terbatas dari rilis data ketenagakerjaan AS akibat kecemasan atas membengkaknya utang dan ketidakpastian arah kebijakan.

Presiden AS Donald Trump pada Jumat menjadi sorotan usai mengancam akan menghentikan perdagangan internasional dengan negara-negara penikmat surplus perdagangan terhadap AS apabila The Fed enggan memangkas suku bunga sesuai kehendaknya.

Indeks dolar berada di posisi 99,135, tidak jauh dari level terendah terdekatnya di angka 98,558.

Mata uang Euro bertahan di level US$1,1610, mendekati posisi tertinggi periode Agustus di level US$1,1711.

Secara bersamaan, dolar sedikit melemah ke posisi 156,11 yen.

Yen masih menguji batas support krusial 155,00 setelah melonjak 2,4% pada pekan lalu terdorong spekulasi pengetatan kebijakan monetari BoJ secara lebih agresif.

Adapun pada pasar komoditas, harga emas terkikis 0,5% ke level US$4.406 per troi ons usai menemukan titik tumpu di kisaran US$4.282 pada pekan lalu.

Tags

Terkini

Portal Seni Budaya: Jembatan Warisan dan Inovasi Digital

Senin, 07 September 2026 | 20:15:02 WIB

Panduan Layanan Kesehatan Lengkap dan Terpercaya

Senin, 07 September 2026 | 19:46:01 WIB

Harga Saham Amazon Stabil di Level 258,51 Dolar AS

Senin, 07 September 2026 | 19:13:09 WIB