JAKARTA – Prospek PT Merdeka Gold Resources Tbk (EMAS) hingga akhir 2026 diperkirakan masih positif. Percepatan ramp-up produksi Tambang Emas Pani di Kabupaten Pohuwato, Gorontalo, menjadi salah satu penopang utama prospek kinerja perseroan.
Ekspansi Tambang Emas Pani terus berjalan sesuai rencana, didukung peningkatan produksi dari operasi heap leach serta kemajuan pengembangan fasilitas pengolahan Carbon-in-Leach (CIL) berkapasitas 12 juta ton per tahun. Perusahaan terus membangun momentum operasional sejak pencapaian produksi emas perdana pada 14 Februari 2026 lalu.
Pembangunan fasilitas CIL juga terus berjalan sesuai rencana. Persiapan lahan semakin maju, dengan pengecoran beton pertama ditargetkan pada awal kuartal IV 2026.
Infrastruktur pendukung dibangun secara paralel, termasuk fasilitas tailings (limbah sisa pengolahan) dan tambahan pasokan listrik bersama PLN untuk mendukung peningkatan kapasitas operasi Tambang Emas Pani.
Analis Kiwoom Sekuritas Adrian Djie mengatakan, produksi Tambang Emas Pani menunjukkan peningkatan signifikan sepanjang kuartal II-2026. Produksi emas EMAS melonjak dari 1.818 ounces (oz) pada kuartal I-2026 menjadi 15.594 oz pada kuartal II-2026 sebagaimana dilansir dari berita sumber.
“Peningkatan ini seiring percepatan peningkatan produksi Tambang Emas Pani, dengan target produksi tahun ini tetap dipertahankan di kisaran 100.000-115.000 oz,” ujar Adrian sebagaimana dilansir dari berita sumber.
Dari sisi pengembangan fasilitas pengolahan, Adrian menyebut tender pembangunan fasilitas Carbon-in-Leach (CIL) telah diselesaikan. Mobilisasi kontraktor dijadwalkan mulai kuartal III-2026.
Dengan perkembangan tersebut, Adrian melihat EMAS masih berpeluang mencapai target produksi yang telah ditetapkan manajemen.
Selain perkembangan operasional, pergerakan harga emas global juga menjadi faktor penting yang perlu dicermati investor.
Dari sisi makro, arah kebijakan suku bunga The Federal Reserve (The Fed) menjadi salah satu variabel paling menentukan bagi harga emas.
Sikap hawkish sejumlah anggota Federal Open Market Committee (FOMC) yang masih membuka peluang kenaikan suku bunga menjadi sentimen negatif bagi harga emas.
Kenaikan suku bunga dapat meningkatkan opportunity cost dalam memegang aset yang tidak memberikan imbal hasil seperti emas. Kondisi tersebut juga berpotensi memperkuat dolar AS sehingga dapat menekan harga emas.
Sebaliknya, apabila The Fed kembali melanjutkan pemangkasan suku bunga, harga emas berpotensi mendapatkan katalis positif.
Dari sisi kinerja keuangan, EMAS diproyeksi dapat mengalami peningkatan signifikan pada 2026.
Equity Analyst KB Valbury Sekuritas, Ashalia Fitri Yuliana, memproyeksikan pendapatan EMAS bisa mencapat US$ 167 juta, melesat dibandingkan realisasi 2025 yang hanya sebesar US$ 0,1 juta. Ini tumbuh sekitar 166.900% YoY.
Laba bersih EMAS juga diproyeksikan berbalik mencetak laba bersih pada tahun 2026. Diperkirakan mencapai US$ 20 juta, berbanding terbalik dengan realisasi 2025 yang masih mencatat rugi bersih US$ 27,5 juta.
Dengan mempertimbangkan kondisi teknikal saham, Adrian saat ini masih merekomendasikan investor untuk wait and see terhadap saham EMAS.
Ada pun Ashalia memberikan rekomendasi untuk buy saham EMAS dengan target harga dinaikkan menjadi Rp 10.700 per saham, dari sebelumnya Rp 8.800 per saham.