Sumur Semberah Lampaui Target, Prospek Saham Elnusa ELSA Positif

Kamis, 03 September 2026 | 18:45:40 WIB
Ilustrasi Saham (FOTO : NET)

JAKARTA – Prospek PT Elnusa Tbk (ELSA) hingga akhir 2026 dinilai masih positif. Keberhasilan pengeboran Sumur Semberah-206 (SEM-20-US) di Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur, memperkuat posisi ELSA sebagai salah satu penerima manfaat dari peningkatan aktivitas hulu PT Pertamina (Persero).

Pengeboran Sumur Semberah-206 dimulai pada 4 Juni 2026 dan diselesaikan dalam 45 hari. Sumur tersebut kemudian memasuki tahap uji produksi pada 19 Agustus 2026.

Hasil pengujian menunjukkan produksi awal (initial production) mencapai 5,36 MMSCFD gas dan 406 BOPD minyak. Realisasi tersebut jauh melampaui target awal.

Produksi gas mencapai 255% dari target 2,1 MMSCFD, sedangkan produksi minyak mencapai 232% dari target 175 BOPD.

Kepala Riset Korea Investment and Sekuritas Indonesia (KISI) Muhammad Wafi mengatakan, keberhasilan pengeboran tersebut memperkuat tesis investasi ELSA sebagai penerima manfaat dari aktivitas hulu Pertamina. Aktivitas tersebut mencakup berbagai layanan, mulai dari seismic, drilling hingga chemical enhanced oil recovery (EOR).

"Prospek positif. Keberhasilan pengeboran Sumur Semberah-206 adalah evidence dari thesis ELSA sebagai beneficiary aktivitas upstream Pertamina secara keseluruhan," kata Wafi sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Menurut Wafi, Pertamina Group saat ini tengah mengoptimalkan produksi minyak dan gas bumi domestik untuk mendukung ketahanan energi nasional. Kondisi tersebut membuka peluang bagi ELSA untuk menangkap peningkatan aktivitas di sektor hulu migas.

Keberhasilan operasional dalam proyek pengeboran juga menunjukkan kemampuan perseroan dalam memenuhi kebutuhan jasa pendukung kegiatan hulu.

Selain itu, ELSA memiliki dukungan dari kontrak yang bersifat defensif sehingga memberikan visibilitas pendapatan yang relatif lebih terukur. Keberhasilan setiap proyek pengeboran juga dapat memperkuat rekam jejak perseroan.

"Kontrak defensif memberikan revenue visibility predictable, setiap successful drilling project tambah track record positif," ujar Wafi sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Wafi juga melihat harga minyak yang masih tinggi sebagai katalis positif bagi ELSA. Salah satu faktor yang menopang harga minyak saat ini adalah konflik di sekitar Selat Hormuz.

Harga minyak yang bertahan di level tinggi dapat mendorong Pertamina meningkatkan aktivitas eksplorasi dan produksi. Dengan harga minyak yang lebih tinggi, keekonomian sejumlah proyek hulu migas menjadi lebih menarik.

Peningkatan aktivitas tersebut berpotensi memberikan dampak positif bagi ELSA sebagai perusahaan penyedia jasa pendukung kegiatan hulu migas.

Meski demikian, investor tetap perlu mewaspadai volatilitas harga minyak. Wafi menilai tercapainya gencatan senjata permanen dapat menekan harga minyak sekaligus mengurangi urgensi belanja modal (capex) Pertamina.

"Volatility harga minyak given risiko gencatan senjata permanen bisa reduce urgency capex Pertamina," jelasnya sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Selain harga minyak, perkembangan regulasi Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) migas juga perlu dicermati karena dapat memengaruhi tingkat aktivitas industri hulu.

Di sisi lain, rencana ELSA untuk menjadi operator lapangan migas yang idle juga berpotensi menjadi katalis tambahan. Menurut Wafi, perkembangan realisasi inisiatif tersebut masih perlu dicermati lebih lanjut.

Dari sisi kinerja keuangan, Analis Sinarmas Sekuritas Inav Haria Chandra memperkirakan pendapatan ELSA pada 2026 mencapai Rp 16,16 triliun. Proyeksi tersebut meningkat sekitar 11,4% secara tahunan atau year on year (YoY) dibandingkan realisasi pendapatan 2025 sebesar Rp 14,50 triliun.

Pertumbuhan pendapatan tersebut diperkirakan turut menopang peningkatan laba bersih ELSA. Laba bersih perseroan pada 2026 diproyeksikan mencapai Rp 907 miliar, tumbuh sekitar 26,3% YoY dari Rp 718 miliar pada 2025.

Inav merekomendasikan investor untuk membeli atau buy saham ELSA dengan target harga 12 bulan sebesar Rp 1.160 per saham.

Sementara itu, Wafi mempertahankan rekomendasi buy untuk ELSA. Namun, target harga saham ELSA masih dalam tahap kajian atau under review.

Tags

Terkini