Katalis JP Morgan yang Mampu Mendorong Aliran Dana Asing Masuk IHSG

Katalis JP Morgan yang Mampu Mendorong Aliran Dana Asing Masuk IHSG
Ilustrasi Katalis JP Morgan (FOTO : NET)

JAKARTA – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup menguat 1,09 persen ke level 6.667,89 pada perdagangan Kamis (3/9/2026). Meskipun demikian, secara year to date indeks masih tercatat melemah 22,89 persen, seiring derasnya aliran dana asing yang keluar dari pasar modal Indonesia hingga mencapai Rp 69,09 triliun di seluruh pasar.

CEO dan Senior Country Officer J.P. Morgan Indonesia, Gioshia Ralie mengungkapkan terdapat sejumlah sentimen positif yang diyakini dapat menjadi pemicu kembalinya aliran dana asing ke pasar modal Indonesia.

Kepercayaan terhadap tata kelola atau governance dan transparansi pemerintah menjadi salah satu faktor utama yang membuat investor asing nyaman menempatkan dananya di pasar modal Indonesia.

Di luar faktor MSCI, ia juga menjelaskan bahwa pelemahan IHSG belakangan ini dipicu oleh kekhawatiran investor asing terhadap kejelasan arah anggaran negara, termasuk soal komitmen terhadap batas defisit 3 persen serta pengelolaan belanja terhadap pendapatan negara.

“Jadi ada juga masalah transparansi tentang bagaimana pengelolaan keuangan negara. Investor asing semua paham keadaannya cuma bagaimana pemerintah mengelola keuangan itu,” kata Gioshia di Jakarta, Kamis (3/9/2026) sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Ia menambahkan bahwa sinyal positif sempat muncul saat Presiden Prabowo Subianto menyampaikan pidato kenegaraan di hadapan DPR pada Agustus lalu.

Presiden secara spesifik menegaskan empat poin utama kebijakan fiskal dalam pidato tersebut, yaitu komitmen menjaga batas defisit anggaran di level 3 persen, pengelolaan utang yang prudent, upaya peningkatan mobilisasi pendapatan negara, serta perhatian terhadap sisi belanja agar tetap terkendali.

Gioshia juga menyoroti pergerakan nilai tukar rupiah sebagai salah satu faktor yang mempengaruhi minat investor asing masuk ke pasar saham maupun surat utang Indonesia. Investor enggan masuk karena berisiko mengalami kerugian nilai tukar saat harus mengonversi kembali investasinya ke dolar AS akibat pelemahan rupiah.

Pelemahan rupiah sebelumnya juga tidak lepas dari kurangnya kejelasan dan keterbukaan informasi terkait kondisi anggaran negara menurut penilaiannya. Nilai tukar rupiah belakangan menunjukkan penguatan dari sebelumnya berada di kisaran Rp 18.000-an per dolar AS menjadi sekitar Rp 17.700-an dengan adanya penegasan kebijakan fiskal dari pemerintah.

"Mudah-mudahan dengan sentimen yang lebih baik, dengan disiplin dan eksekusi pemerintah yang lebih baik bisa berdampak terhadap ekonomi Indonesia. Ini nanti membuat investor lebih nyaman," tambah Gioshia sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Pentingnya kinerja fundamental perusahaan tercatat turut disinggung oleh Gioshia. Kepastian bahwa emiten-emiten di Indonesia mampu mencetak laba dan bukan sekadar mengandalkan sentimen jangka pendek sangat dibutuhkan oleh investor asing.

Maraknya kasus saham yang melonjak signifikan usai pencatatan perdana (IPO) namun kemudian anjlok tajam dalam waktu singkat juga disorot olehnya karena menjadi salah satu sumber kekecewaan investor.

Gioshia mengapresiasi sejumlah perbaikan regulasi yang telah dilakukan, seperti kenaikan porsi saham beredar (free float), penurunan ambang batas kewajiban keterbukaan informasi kepemilikan dari 5 persen menjadi 1 persen, hingga perbaikan pada daftar konsentrasi kepemilikan saham.

Ia menekankan bahwa penegakan hukum terhadap praktik manipulasi pasar atau market manipulation masih perlu diperjelas, termasuk mekanisme pelaporan dan sanksi bagi pelanggar.

"Di sini bagaimana? Masih ada yang main, diapain sama IDX atau sama OJK? Itu juga harus di-address, masalah kami adalah masalah penegakan hukum,” tegasnya sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Proses birokrasi di Indonesia masih memerlukan waktu yang panjang untuk berbagai pengurusan, serta masih adanya praktik-praktik non-transparan dalam proyek yang turut menjadi pekerjaan rumah yang perlu dibenahi pemerintah ke depan.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index