Wall Street Melemah Tekanan Minyak Naik dan Suku Bunga Persen Tinggi

Rabu, 02 September 2026 | 19:14:53 WIB
Ilustrasi bursa saham as (FOTO : NET)

JAKARTA – Bursa saham Amerika Serikat (AS) kembali mengalami penurunan pada perdagangan Selasa (1/9) dan mengawali September dalam kondisi tertekan. Tekanan negatif bagi pasar saham ini dipicu oleh aksi jual di pasar obligasi global serta melonjaknya harga minyak mentah.

Penutupan tiga indeks utama Wall Street berada di zona merah seiring memanasnya ketegangan di Timur Tengah yang mendongkrak harga minyak.

Pada saat bersamaan, hasil imbalan (yield) obligasi pemerintah di pelbagai negara melonjak ke level tertinggi dalam beberapa tahun terakhir. Situasi ini mencerminkan tingginya ekspektasi pasar bahwa bank-bank sentral bakal mempercepat kenaikan suku bunga demi meredam tekanan inflasi.

Yield US Treasury acuan pun kembali mendaki setelah sebelumnya menembus level tertinggi dalam 19 bulan pada Senin (31/8).

"Setelah komentar hawkish Kevin Warsh pada Jumat, terjadi serangan di Iran dan harga minyak naik. Ini merupakan kombinasi sempurna untuk hari yang risk-off di pasar yang diperdagangkan dekat level tertinggi sepanjang masa," ujar Ross Mayfield, analis strategi investasi Baird di Louisville, Kentucky sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Sentimen investor turut tertekan oleh faktor musiman di samping dinamika geopolitik. Secara historis, September menjadi bulan dengan kinerja paling buruk bagi bursa saham AS.

Merujuk data Finaeon yang dikutip Fisher Investments, September merupakan satu-satunya bulan yang membukukan rata-rata hasil imbalan negatif sejak 1926.

"September secara historis merupakan bulan terburuk dan selisihnya cukup besar. Terutama pada tahun pemilu sela, ini biasanya menjadi periode ketika kecemasan dan ketidakpastian politik mulai membebani pasar saham," kata Mayfield sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Ekskalasi konflik di Timur Tengah mendorong kenaikan harga minyak mentah sehingga memperkuat kembali kecemasan terhadap inflasi.

Kondisi tersebut terjadi selang beberapa hari setelah Kevin Warsh memaparkan pandangan hawkish mengenai kebijakan moneter serta menegaskan krusialnya mengembalikan inflasi ke target bank sentral.

Saat ini pasar memperbesar ekspektasi terhadap langkah The Fed dalam menaikkan suku bunga pada September.

Berdasarkan CME FedWatch Tool, probabilitas The Fed menaikkan suku bunga sebesar 25 basis poin pada akhir pertemuan kebijakan September diperkirakan mencapai sekitar 68,2 persen. Angka ini melesat tajam dari posisi sepekan sebelumnya yang berada di kisaran 39,6 persen.

"Kami memiliki The Fed yang sangat, sangat hawkish dan mereka benar-benar ingin menaikkan suku bunga," kata Jay Hatfield, manajer portofolio InfraCap di New York sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Menurut Hatfield, The Fed berkeinginan membuktikan independensinya dari pemerintah AS sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Sederet data ekonomi AS yang dirilis pada Selasa juga memperlihatkan indikasi melambatnya aktivitas ekonomi.

Laporan Job Openings and Labor Turnover Survey (JOLTS) dari Departemen Tenaga Kerja AS mengindikasikan bahwa perputaran di pasar tenaga kerja mulai melambat.

Sementara itu, data Purchasing Managers' Index (PMI) menandakan aktivitas manufaktur mulai kehilangan momentum, serta belanja pembangunan perumahan turut merosot.

Pelbagai indikator tersebut memperlihatkan perpaduan antara tekanan harga, keterbatasan pasokan, serta ketidakpastian akibat tarif perdagangan dan gejolak geopolitik.

Pada penutupan perdagangan Selasa, Dow Jones Industrial Average merosot 418,97 poin atau 0,79 persen menuju level 52.766,93.

Indeks S&P 500 terkoreksi 54,67 poin atau 0,71 persen ke posisi 7.631,47, sedangkan Nasdaq Composite terperosok 271,11 poin atau 1,03 persen menjadi 26.099,77.

Sektor energi menjadi salah satu dari 11 sektor utama S&P 500 yang berhasil mencatat penguatan berkat topangan lonjakan harga minyak mentah.

Sebaliknya, penurunan paling tajam dialami oleh sektor consumer discretionary.

Dow Jones Transportation Average yang sering dijadikan acuan kondisi perekonomian juga menjadi salah satu sektor berkinerja terburuk usai anjlok 2,5 persen.

Indeks Philadelphia SE Semiconductor Index merosot 2,1 persen dengan seluruh saham konstituennya ditutup melemah.

Di Bursa New York Stock Exchange (NYSE), jumlah saham yang melemah mengungguli saham yang menguat dengan perbandingan rasio 2,8 banding 1.

Tercatat ada 143 saham yang menyentuh rekor tertinggi baru, sementara 410 saham mencatatkan rekor terendah baru di NYSE.

Tags

Terkini

BOJ Naikkan Suku Bunga ke 1,25%, Tertinggi dalam 31 Tahun

Sabtu, 19 September 2026 | 05:09:00 WIB

Teknik Menguleni Adonan Roti Agar Kalis dan Elastis

Sabtu, 19 September 2026 | 01:57:01 WIB

Ide Konten TikTok Affiliate FYP Komisi Besar

Sabtu, 19 September 2026 | 01:47:54 WIB

Rahasia Strategi Copywriting Penutup Video

Sabtu, 19 September 2026 | 01:41:58 WIB