Laba Bank Melambat di Tengah Ekonomi Lesu, Mandiri dan BCA Pilih Jaga Kesehatan

Jumat, 28 Agustus 2026 | 08:47:00 WIB

FINANSIALINSIGHT.COM — Jakarta -- Bank-bank besar Tanah Air mulai mengerem laju pertumbuhan laba mereka di awal semester II-2026. Alih-alih memacu profitabilitas, para pengelola bank kini lebih memilih memperkuat kesehatan kinerja di tengah kondisi perekonomian yang belum sepenuhnya pulih.

Dalam laporan keuangan per Juli 2026, terlihat tren perlambatan yang konsisten di tiga bank terbesar. Bank Mandiri mencatat laba bersih bank only Rp 33,01 triliun, tumbuh 24,19% yoy. Angka ini sedikit turun dibandingkan pertumbuhan bulan sebelumnya yang mencapai 25%. Bank Negara Indonesia (BNI) juga mengalami hal serupa, dengan pertumbuhan laba 5,53% yoy menjadi Rp 12,52 triliun, melambat dari 7,56% pada Juni 2026.

Sementara itu, Bank Central Asia (BCA) membukukan laba bersih Rp 35,25 triliun dengan pertumbuhan tipis 1,57% yoy. Meski tipis, angka ini masih lebih baik dibandingkan pertumbuhan 1% pada bulan sebelumnya. Di sisi lain, CIMB Niaga justru mencatatkan koreksi laba bersih sebesar 9,08% yoy menjadi Rp 3,45 triliun, melanjutkan tren penurunan dari bulan sebelumnya.

Mesin Laba Ikut Melambat, BCA Fokus Jaga Likuiditas

EVP Corporate Communication and Social Responsibility BCA, Hera F Haryn, menjelaskan bahwa kinerja bank sangat dipengaruhi oleh indikator eksternal. "Pada prinsipnya, pendapatan bunga bersih akan sejalan dengan volume permintaan kredit, kondisi perekonomian, hingga pergerakan suku bunga," ujarnya kepada Kontan, Kamis (27/8/2026).

Data menunjukkan pendapatan bunga bersih (net interest income/NII) BCA memang nyaris stagnan dengan pertumbuhan hanya 0,33% yoy menjadi Rp 46,7 triliun. Padahal, penyaluran kredit bank ini tumbuh solid 8,38% yoy mencapai Rp 1.000,88 triliun.

Hera menegaskan pihaknya akan mengoptimalkan pendapatan dari seluruh lini bisnis. Fokus utama BCA saat ini adalah mempertahankan posisi permodalan dan likuiditas di level solid. "Kami menjaga keseimbangan antara likuiditas, profitabilitas, dan kualitas kredit," imbuhnya.

Bukan Soal Laba, CIMB Niaga Pilih Ukur Ketahanan

Presiden Direktur CIMB Niaga, Lani Darmawan, menilai kinerja perbankan tidak bisa hanya diukur dari pertumbuhan laba semata. Ia justru menyoroti pentingnya indikator kesehatan kinerja sebagai fondasi pertumbuhan bisnis berkelanjutan.

"Kami fokus pada kesehatan kinerja sehingga pada saat kondisi menjadi lebih baik, akan lancar untuk kinerja selanjutnya," jelas Lani.

Hingga Juli 2026, rasio kredit bermasalah (non performing loan/NPL) CIMB Niaga masih terjaga di level 1,88%. Rasio biaya operasional terhadap pendapatan (cost to income ratio/CIR) juga efisien di kisaran 45%-46%. Adapun rasio return on assets (ROA) berada di kisaran 2% dan return on equity (ROE) di kisaran 13%.

Strategi Hati-hati untuk Pertumbuhan Berkelanjutan

Pergeseran strategi dari growth agresif ke sustainability ini menjadi pola umum di industri. Perbankan memilih menjaga kualitas aset dan permodalan ketimbang memaksakan diri mengejar laba tinggi di tengah ketidakpastian ekonomi.

Langkah ini dinilai penting karena akan menentukan kemampuan bank dalam menyalurkan kredit dan menjaga kepercayaan nasabah dalam jangka panjang. Dengan fundamental yang kuat, bank dipandang lebih siap menghadapi potensi perlambatan ekonomi dan memanfaatkan peluang ketika kondisi pasar membaik.

Keputusan bank-bank besar untuk mengutamakan kesehatan kinerja ini menjadi sinyal penting bagi pasar bahwa stabilitas jangka panjang lebih berharga daripada keuntungan jangka pendek.

Terkini