FINANSIALINSIGHT.COM — Pelemahan ini mengakhiri reli emas yang sempat membawa logam mulia ke level tertingginya sejak 14 Mei 2026 pada Selasa lalu. Investor kini mengalihkan fokus ke arah kebijakan moneter The Fed, dengan pasar menanti pernyataan Ketua The Fed Kevin Warsh pekan ini untuk mencari petunjuk langkah selanjutnya.
Dolar Menguat, Emas Ikut Tertekan
Sentimen pasar berbalik negatif setelah data inflasi AS dirilis. Angka 3,7 persen tersebut sedikit di atas ekspektasi analis, yang sebelumnya memperkirakan inflasi akan mendingin.
Data yang panas ini membuat pelaku pasar memperbesar probabilitas kenaikan suku bunga The Fed pada pertemuan bulan depan. Suku bunga yang lebih tinggi biasanya menjadi kabar buruk bagi emas, karena meningkatkan biaya oportunitas memegang aset yang tidak memberikan imbal hasil ini.
Dampaknya langsung terasa di pasar. Harga emas spot terpantau turun 1,3 persen ke level USD4.595,93 per ons. Sementara itu, kontrak berjangka emas AS ditutup melemah 0,9 persen ke posisi USD4.653,30.
Nilai Dolar Ikut Menentukan Arah
Tekanan terhadap emas juga datang dari penguatan dolar AS. Indeks dolar naik 0,3 persen, membuat emas yang diperdagangkan dalam mata uang dolar menjadi lebih mahal bagi investor yang memegang mata uang lain.
Hubungan keduanya memang berbanding terbalik. Saat dolar menguat, daya beli investor asing melemah, sehingga permintaan emas cenderung turun.
Pasar kini memasuki fase wait and see. Pernyataan Kevin Warsh yang dijadwalkan pekan ini akan menjadi katalis berikutnya bagi pergerakan emas. Jika isyarat hawkish muncul, bukan tidak mungkin harga emas kembali tertekan. Sebaliknya, nada dovish bisa memulihkan daya tarik emas sebagai aset lindung nilai.