IBMA Meluncur, Saham Emas ANTM HRTA BRMS dan AMMN Berpotensi Cuan

Senin, 24 Agustus 2026 | 20:18:29 WIB
Ilustrasi Saham Emas ANTM (FOTO : NET)

JAKARTA – Pembentukan Indonesia Bullion Market Association (IBMA) dinilai dapat menjadi katalis positif bagi sejumlah emiten yang memiliki bisnis terkait emas.

IBMA resmi diluncurkan pada Kamis (20/8/2026) dan beranggotakan pelaku usaha dari sektor pertambangan emas, manufaktur, perdagangan emas batangan, hingga lembaga keuangan non-bank.

Sejumlah entitas yang telah bergabung antara lain PT Pegadaian, PT Bank Syariah Indonesia Tbk (BRIS), PT Hartadinata Abadi Tbk (HRTA), UBS Gold, PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN), Galeri 24, Brinks Solution Indonesia, ICDX Group, PT Central Mega Kencana, PT Sentral Kreasi Kencana, dan PT Laku Emas Indonesia.

Analis Pilarmas Investindo Sekuritas Arinda Izzaty mengatakan bahwa dampak kehadiran IBMA terhadap emiten emas cenderung positif, meskipun manfaatnya diperkirakan lebih terasa dalam jangka menengah hingga panjang.

"IBMA dapat membantu membangun ekosistem bullion domestik yang lebih terintegrasi, transparan, dan efisien," ujar Arinda Izzaty sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Ekosistem tersebut mencakup rantai bisnis hulu hingga hilir yang meliputi standardisasi serta mempertemukan produsen, manufaktur, pedagang, bullion bank, dan investor.

Dalam jangka panjang, IBMA berpotensi memperbesar permintaan emas seiring semakin luasnya akses masyarakat dan institusi terhadap produk emas.

Namun, keberadaan IBMA tidak serta-merta meningkatkan produksi tambang emas secara langsung. Dampak yang lebih besar bagi emiten hulu akan terjadi jika peningkatan permintaan bullion dapat diterjemahkan menjadi penyerapan emas yang lebih tinggi dari produsen.

Arinda menilai beberapa emiten dari sisi hulu berpotensi memperoleh manfaat, seperti BRMS, ARCI, PSAB, AMMN, MDKA, dan EMAS. Sementara dari sisi hilir, ANTM dan HRTA dinilai relatif menarik karena mempunyai eksposur terhadap pemurnian, manufaktur, dan distribusi emas.

"Bahkan, BSI sebagai bullion bank telah mencatat emas kelolaan 24,01 ton per Juni 2026, menunjukkan bahwa ekosistem ini mulai menghasilkan permintaan riil," kata Arinda sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Managing Director of Research Samuel Sekuritas Indonesia Harry Su juga melihat kehadiran IBMA sebagai sentimen positif bagi emiten emas. Menurut Harry, IBMA dapat memperkuat ekosistem bullion domestik sekaligus mendorong permintaan investasi emas jangka panjang.

Ia menilai HRTA dan ANTM berpotensi menjadi emiten yang paling diuntungkan pada segmen hilir, sedangkan BRMS dan AMMN dapat memperoleh manfaat dari sisi produksi.

Harry menilai emiten emas perlu meningkatkan kerja sama dengan bullion bank seiring terbentuknya ekosistem IBMA. Perusahaan juga perlu memperkuat kapasitas pemurnian, sertifikasi, penelusuran produk, serta jaringan distribusi emas agar dapat menangkap peluang pertumbuhan permintaan emas domestik.

Arinda menjelaskan bahwa kerja sama dengan bullion bank seperti BSI, Pegadaian, dan institusi terkait dapat membuka peluang pembiayaan berbasis emas, penyerapan produksi, perdagangan bullion, hingga pengembangan produk investasi.

Emiten juga perlu memperkuat kontrak penjualan jangka panjang, meningkatkan kapasitas pemurnian dan manufaktur, memperluas jaringan distribusi emas batangan serta produk digital, dan memastikan standar kemurnian serta penelusuran memenuhi ketentuan pasar bullion.

Melalui strategi tersebut, emiten tidak hanya bergantung pada pergerakan harga emas global, tetapi juga berpeluang memperoleh akses lebih langsung ke konsumen ritel dan institusi.

"Bagi HRTA dan ANTM, strategi hilirisasi dan perluasan distribusi menjadi sangat penting, sedangkan bagi produsen tambang seperti BRMS, ARCI, PSAB, AMMN dan MDKA, kepastian offtake dan peningkatan produksi menjadi kunci," terang Arinda sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Meski IBMA menjadi katalis baru bagi industri emas domestik, sentimen utama terhadap saham emiten emas tetap berasal dari pasar global.

Beberapa faktor yang perlu diperhatikan investor antara lain volatilitas harga emas, arah suku bunga The Fed, pergerakan dolar AS, kondisi geopolitik global, pembelian emas oleh bank sentral, serta nilai tukar rupiah.

Harga emas yang berada di level tinggi dapat menjadi katalis positif bagi produsen karena berpotensi meningkatkan average selling price (ASP) dan margin. Namun, dampaknya bergantung pada biaya produksi dan volume produksi masing-masing perusahaan.

Dengan mempertimbangkan prospek tersebut, Arinda menyebut tiga saham yang dapat dicermati investor, yakni ANTM, HRTA, dan BRMS. Ia memberikan target harga masing-masing sebesar Rp4.500 per saham untuk ANTM, Rp2.900 per saham untuk HRTA, dan Rp830 per saham untuk BRMS.

Sementara itu, Harry memberikan rekomendasi beli untuk saham ANTM dengan target harga Rp4.600 per saham karena didukung oleh eksposur bisnis emas dari hulu hingga hilir. Harry juga merekomendasikan beli saham BRMS dengan target harga Rp900 per saham karena menawarkan leverage lebih tinggi terhadap pertumbuhan produksi maupun kenaikan harga emas.

Dengan demikian, peluncuran IBMA berpotensi memperkuat ekosistem emas domestik dan membuka peluang pertumbuhan bagi emiten di sepanjang rantai industri. Namun, investor tetap perlu memperhatikan perkembangan harga emas global dan faktor makroekonomi yang memengaruhi kinerja saham sektor tersebut.

Tags

Terkini

BOJ Naikkan Suku Bunga ke 1,25%, Tertinggi dalam 31 Tahun

Sabtu, 19 September 2026 | 05:09:00 WIB

Teknik Menguleni Adonan Roti Agar Kalis dan Elastis

Sabtu, 19 September 2026 | 01:57:01 WIB

Ide Konten TikTok Affiliate FYP Komisi Besar

Sabtu, 19 September 2026 | 01:47:54 WIB

Rahasia Strategi Copywriting Penutup Video

Sabtu, 19 September 2026 | 01:41:58 WIB