Pemerintah Rilis SR025 dengan Kupon 6,80 persen dan 6,90 persen

Jumat, 21 Agustus 2026 | 23:02:16 WIB
Ilustrasi investor ritel (FOTO : NET)

JAKARTA – Penawaran Sukuk Ritel (SR) seri SR025 diproyeksikan mampu mengumpulkan dana yang menyamai pencapaian Obligasi Negara Ritel (ORI) seri ORI030 yang menyerap Rp 40 triliun. Meskipun menawarkan imbal hasil yang sedikit lebih rendah, SR025 tetap mempunyai daya pikat tersendiri bagi investor ritel.

Direktorat Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko (DJPPR) Kementerian Keuangan telah menentukan besaran imbal hasil SBN Ritel seri SR025 sebesar 6,80% untuk tenor 3 tahun dan 6,90% per tahun untuk tenor 5 tahun.

Josua Pardede selaku Kepala Ekonom Permata Bank menilai prospek penerbitan SR025 kali ini sangat kuat lantaran kondisi dalam negeri yang tetap kondusif. Bank Indonesia (BI) masih mempertahankan suku bunga acuan di angka 5,75%, sedangkan inflasi pada Juli 2026 berada di level 2,88%.

“Sehingga imbalan SR025 sebesar 6,80%-6,90% masih memberikan selisih hampir empat poin persentase terhadap inflasi saat ini,” ujar Josua sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Josua memaparkan bahwa penetapan imbal hasil SR025 sudah terbilang tepat, walaupun tergolong efisien dari sudut pandang biaya pembiayaan negara.

Sebelum besaran kupon ditetapkan, dirinya memperkirakan batas yang masuk akal berada di angka 6,75%-6,90% untuk tenor 3 tahun serta 6,85%-7% untuk tenor 5 tahun.

Pemerintah pada akhirnya menetapkan kupon tetap 6,80% untuk SR025 tenor 3 tahun dan 6,90% untuk tenor 5 tahun demi menjaga keseimbangan antara daya pikat investor dan beban utang.

Kombinasi imbalan bulanan, jaminan negara, pajak imbalan 10%, serta kemudahan diperdagangkan di pasar sekunder menjadi daya tarik yang kuat bagi investor ritel pemburu pendapatan tetap.

Walau begitu, momen peluncuran SR025 ini tak sepenuhnya bebas dari risiko. Yield Surat Berharga Negara (SBN) tergolong masih tinggi di tengah ketidakpastian kondisi global.

Josua mencatat yield SBN tenor 10 tahun berada di kisaran 7,02% pada pertengahan Agustus 2026, setelah sempat menyentuh 7,29% di akhir Juli. Lonjakan yield ini dipengaruhi oleh ketegangan di Timur Tengah, harga minyak dunia, serta tingginya suku bunga global.

Sementara itu, yield SBN tenor 5 tahun di pertengahan Agustus berada di angka sekitar 6,94%, dan tenor 3 tahun sebelumnya berada di kisaran 7,1%.

"Artinya, SR025 bukan produk yang diberi imbalan sangat murah, tetapi juga tidak menawarkan premi yang sangat besar dibandingkan pasar," jelas Josua sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Oleh karena itu, permintaan SR025 diprediksi akan mendominasi dari investor yang berniat memegang instrumen hingga jatuh tempo, bukan pemburu keuntungan jangka pendek.

Secara strategi, SR025 tenor 5 tahun lebih ideal bagi investor yang ingin mengunci dana lebih lama dan memproyeksikan penurunan suku bunga serta yield obligasi pada 2027-2028. Selain mengunci kupon 6,90%, tenor panjang ini menyimpan potensi kenaikan harga di pasar sekunder saat yield melandai.

Sebaliknya, opsi tenor 3 tahun lebih pas untuk investor yang memerlukan fleksibilitas serta dana dalam jangka waktu yang lebih dekat.

"Bagi investor dengan dana cukup, strategi yang lebih seimbang adalah membagi pembelian antara T3 dan T5, sehingga sebagian dana jatuh tempo lebih cepat sementara sebagian lainnya mengunci imbalan lebih lama," tutur Josua sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Josua menambahkan bahwa SR025 berpeluang menyamai atau melampaui raihan penjualan ORI030 yang mencapai Rp 40 triliun, meski hal itu bukan skenario utamanya.

Penyebabnya, ORI030 memiliki keunggulan kupon yang sedikit lebih tinggi, yakni 6,90% untuk tenor 3 tahun dan 7% untuk tenor 6 tahun. Di samping itu, sebagian likuiditas investor ritel baru saja terserap oleh penerbitan ORI030 tersebut.

Meski demikian, penjualan SR025 tetap berpotensi melampaui Rp 40 triliun jika rupiah stabil, yield SBN tidak melonjak, pasar saham bergejolak, serta pemasaran mitra distribusi berjalan maksimal.

Instrumen SR025 ini juga unggul karena dapat menjangkau investor berbasis syariah maupun investor umum.

Pemerintah menetapkan batas pemesanan minimal SR025 sebesar Rp 1 juta, dengan batas maksimal Rp 5 miliar untuk SR025-T3 dan Rp10 miliar untuk SR025-T5.

Masa penawaran instrumen ini berlangsung pada 21 Agustus hingga 16 September 2026. SR025-T3 dijadwalkan jatuh tempo pada 10 September 2029 dan SR025-T5 pada 10 September 2031.

Tags

Terkini

Daftar Perlengkapan Camping Pantai Terlengkap dan Praktis

Sabtu, 22 Agustus 2026 | 03:21:01 WIB

10 Jalur Trekking Terbaik di Indonesia

Sabtu, 22 Agustus 2026 | 03:16:01 WIB

Tips Liburan Hemat di Sumatera: Panduan Budget Traveler

Sabtu, 22 Agustus 2026 | 02:15:01 WIB

Panduan Wisata Kalimantan Timur Terlengkap

Sabtu, 22 Agustus 2026 | 02:09:01 WIB