Telkom Berpotensi Bagi Dividen Spesial Rp 273 Saham dari InfraNexia

Kamis, 13 Agustus 2026 | 22:04:38 WIB
Ilustrasi Saham dari InfraNexia (FOTO : NET)

JAKARTA – Pemisahan bisnis wholesale fiber milik PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM) ke PT Telkom Infrastruktur Indonesia (InfraNexia) mulai memperlihatkan skala bisnis yang tergolong besar.

Namun di balik pemindahan aset yang mencapai angka Rp 85,6 triliun, Mirae Asset Sekuritas menganggap potensi ekonomi InfraNexia masih harus dibuktikan lewat tingkat penggunaan serta daya monetisasinya.

Analis Mirae Asset Sekuritas Daniel Widjaja dalam risetnya pada Rabu (12/8/2026) menyampaikan bahwa aksi korporasi ini berpeluang membuka sumber nilai baru untuk Telkom, khususnya lewat kehadiran investor strategis.

Meskipun begitu, tahapan divestasi dan eksekusi operasional InfraNexia tetap menjadi poin penting yang patut dicermati.

Telkom mengeksekusi pemisahan unit bisnis wholesale fiber menuju InfraNexia melalui dua tahapan.

Pada fase pertama yang mulai berlaku efektif sejak Januari 2026, Telkom mengalihkan aset senilai Rp 48,9 triliun beserta kewajiban liabilitas Rp 13,3 triliun.

Merujuk pada penilaian independen, aset tersebut mempunyai nilai sebesar Rp 35,8 triliun atau setara kisaran 56% dari keseluruhan aset yang hendak ditempatkan pada InfraNexia.

Fase kedua dijadwalkan akan dibahas dalam Agenda Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) pada 30 September mendatang.

Di fase ini, Telkom bakal mengalihkan aset tambahan senilai Rp 29,2 triliun dengan estimasi nilai penilaian sebesar Rp 49,9 triliun, atau setara sekitar 33% dari ekuitas Telkom pada tahun buku 2025.

Sebagai bentuk kompensasi atas transaksi tersebut, InfraNexia bakal menerbitkan sebanyak 498,6 juta saham baru TIF.

Apabila gabungan kedua tahap tersebut diakumulasikan, InfraNexia bakal menggenggam aset sekitar Rp 78 triliun yang sanggup mencatatkan pendapatan Rp 24,8 triliun serta EBITDA Rp 16,9 triliun.

Berdasarkan acuan nilai pemindahan itu, lini bisnis ini dihargai pada level kisaran 5,9 kali EV/EBITDA.

Daniel menegaskan bahwa skema restrukturisasi ini tidak mengubah susunan laporan keuangan konsolidasian milik Telkom.

Pada fase awal, jenis aset yang dialihkan mencakup jaringan access fiber sepanjang kisaran 490.000 kilometer dan backbone fiber sepanjang 80.000 kilometer.

Di sisi lain, pengalihan aset kabel bawah laut dalam negeri sepanjang kisaran 25.000 kilometer baru akan dieksekusi pada tahap berikutnya.

Hal yang menarik, Mirae Asset Sekuritas menilai tingkat valuasi InfraNexia punya kans bernilai jauh lebih tinggi apabila dibandingkan dengan nilai transfer awalnya.

Daniel memanfaatkan deretan transaksi carve-out bisnis fiber tingkat global sebagai acuan pembanding.

Rangkaian transaksi tersebut merekam median valuasi di angka kisaran 12,8 kali EBITDA, dengan capaian Telstra setinggi 28 kali, TPG/Vocus di angka 11,2 kali, MORA/MyRepublic sebesar 10,2 kali, serta TIM FiberCop di level 8,6 kali.

Walau begitu, pihak Mirae Asset tidak mentah-mentah memakai angka median global tersebut.

Menurut analisa Daniel, tingkat penggunaan InfraNexia yang baru berada di kisaran 40% beserta tingginya proporsi porsi pendapatan internal grup membuat valuasinya layak dikenakan potongan diskon sekitar 30%.

Atas dasar pertimbangan itu, Mirae Asset menerapkan acuan multiple dasar sebesar 9 kali EV/EBITDA.

Berlandaskan besaran EBITDA tersesuaikan senilai Rp 17,5 triliun termasuk EBITDA TIF secara standalone, valuasi tersebut menghasilkan nilai enterprise value (EV) berkisar Rp 157,9 triliun.

Usai kalkulasi memperhitungkan utang bersih senilai Rp 12,3 triliun, besaran nilai ekuitas InfraNexia ditaksir mampu menyentuh Rp 145,7 triliun.

Angka angka ini setara dengan kisaran 56,8% dari total kapitalisasi pasar Telkom saat ini.

"Bisnis ini sebelumnya berpindah tangan dengan valuasi 5,9 kali. Kami menilai nilainya bisa mencapai 9 kali,"sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Point utamanya, Mirae Asset memandang masih terbuka ruang bagi peningkatan nilai InfraNexia seiring dengan pertumbuhan bisnis dan daya tariknya bagi pemodal luar.

Prospek valuasi yang kian tinggi turut membuka ruang pembagian pembagian dividen spesial kepada para pemegang saham Telkom.

Kalkulasi Mirae Asset menunjukkan, bila Telkom melepas sebesar 25% kepemilikan saham di InfraNexia memakai multiple 9 kali, maka perkiraan nilai transaksi kotor sanggup menyentuh Rp 36,4 triliun.

Usai dikurangi perkiraan biaya penasihat (advisory) sebesar 1% dan nilai buku kepemilikan sebesar Rp 16,7 triliun, perolehan laba kena pajak diperkirakan mencapai angka Rp 19,3 triliun.

Dengan penerapan tarif pajak sebesar 22%, maka beban pajak yang mesti dibayar berada di kisaran Rp 4,2 triliun.

Atas perhitungan ini, Telkom berpeluang mengantongi dana kas bersih menyentuh Rp 31,8 triliun.

Seandainya 50% dari dana segar tersebut dibagikan kepada jajaran pemegang saham, maka nominal pembayarannya menembus angka sekitar Rp 15,9 triliun.

Hasil penghitungan tadi sepadan dengan estimasi special dividend bernilai Rp 161 per lembar saham.

Apabila merujuk pada patokan harga penutupan TLKM di level Rp 2.610 per saham, besaran dividen itu menyajikan angka yield sekitar 6,2%, di luar alokasi dividen reguler.

Akan tetapi, kepastian nilai besaran dividen spesial amat bergantung pada proporsi persentase porsi saham yang dilepas serta tingkat payout ratio.

Dalam pemodelan simulasi Mirae Asset, bilamana porsi saham yang dijual berada pada rentang 15%-35% serta valuasinya bergerak di angka 7-11 kali EBITDA, perolehan dividen spesial dapat berada di kisaran Rp 76-Rp 273 per saham, atau dengan yield setara 2,9%-10,4%.

Sedangkan dengan asumsi pelepasan porsi saham tetap di angka 25% namun payout ratio disesuaikan naik atau turun pada rentang 30%-70%, besaran dividen spesial diproyeksikan berada pada rentang Rp 96-Rp 225 per saham, atau setara yield 3,7%-8,6%.

"Besarnya dividen per saham (DPS) lebih banyak dipengaruhi oleh berapa besar saham yang dijual dan berapa bagian laba yang dibagikan sebagai dividen, dibandingkan oleh perubahan valuasi,"sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Mirae Asset Sekuritas menetapkan untuk mempertahan rekomendasi buy bagi saham TLKM lewat penetapan target harga di Rp 3.400 per saham.

Target tersebut mencerminkan kisaran 4,2 kali dari estimasi EV/EBITDA Telkom untuk periode 2027.

Pada pergerakan Rabu (12/8/2026), harga transaksi saham TLKM ditutup melemah 0,77% menuju level Rp 2.590 per saham.

Sementara bila dilihat dalam rentang lima hari terakhir, pergerakan saham TLKM tercatat sudah terkoreksi sebesar 4,43%.

Daniel menerangkan bahwasanya pihak mereka masih mempertahankan estimasi proyeksi keuangan Telkom sembari menantikan kepastian lanjutan terkait proses divestasi InfraNexia serta alokasi penggunaan dana hasil transaksi.

Menurut pandangannya, pemisahan unit bisnis ini membawa dampak positif lantaran mampu membuka kran monetisasi aset sekaligus membangun sinergi bersama investor baru.

Investor strategis juga diyakini berpeluang menghadirkan tambahan ekspansi bisnis bagi InfraNexia yang pada gilirannya memperbesar porsi kontribusi bagi grup Telkom.

Langkah korporasi ini dinilai sejalan dengan arah strategi Telkom dalam merampingkan struktur bisnis serta memfokuskan perhatian pada lini operasi utama.

Dengan struktur neraca keuangan yang lebih efisien, tingkat profitabilitas grup diharapkan mampu terdongkrak naik.

Meskipun menyajikan prospek yang menjanjikan, Mirae Asset tetap mengingatkan dua faktor risiko utama, yakni potensi tertundanya jadwal divestasi serta risiko dalam eksekusi operasional bisnis InfraNexia.

Tags

Terkini

Cara Alami Turunkan Kolesterol

Kamis, 13 Agustus 2026 | 22:22:00 WIB

Inovasi Medis Terkini yang Mengubah Masa Depan Kesehatan

Kamis, 13 Agustus 2026 | 22:19:33 WIB

Panduan Lengkap Diet Seimbang untuk Kesehatan Optimal

Kamis, 13 Agustus 2026 | 22:15:02 WIB

Panduan Lengkap Menjaga Kesehatan Tubuh Secara Alami

Kamis, 13 Agustus 2026 | 22:08:01 WIB