JAKARTA – Perolehan kinerja emiten BUMN dinilai masih belum merata sepanjang semester I 2026 akibat peran Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (BPI Danantara) yang belum berjalan secara maksimal.
Sebagai contoh, PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) mencatatkan laba bersih konsolidasian sebesar Rp 30,41 triliun atau tumbuh 24,3 persen secara tahunan (year-on-year/yoy).
Namun, pendapatan bunga bersih (net interest income/NII) perseroan secara konsolidasian turun 7,84 persen yoy menjadi Rp 48,33 triliun. Seiring dengan hal itu, penyaluran total kredit konsolidasian juga terkoreksi tipis 1,3 persen yoy menjadi Rp 1.674 triliun.
Meskipun demikian, BMRI mampu menjaga kualitas aset perseroan yang tercermin dari rasio kredit bermasalah (non performing loan/NPL) yang turun menjadi 0,98 persen dari sebelumnya 1,08 persen.
Di sisi lain, PT Timah Tbk (TINS) membukukan laba bersih Rp 2,71 triliun hingga Juni 2026 atau melonjak 804,70 persen yoy. Lonjakan tersebut ditopang oleh pendapatan dari kontrak dengan pelanggan yang naik 147,26 persen yoy dari Rp 4,21 triliun menjadi Rp 10,41 triliun pada semester I-2026.
Direktur Utama Timah Restu Widiyantoro menyampaikan bahwa penjualan logam timah menembus 10.984 metrik ton atau tumbuh 85 persen dibanding periode sama tahun sebelumnya yang sebesar 5.933 metrik ton.
Sementara itu, rata-rata harga jual logam timah semester I-2026 berada di level US$ 49.794 per metrik ton, melesat 52 persen dibanding semester I-2025 sebesar US$ 32.816 per metrik ton seiring kokohnya harga timah di pasar global.
“Peningkatan produktivitas, disiplin dalam pengelolaan biaya, serta optimalisasi operasi menjadi faktor utama yang mendorong pencapaian tersebut," ungkap Restu melalui keterbukaan informasi sebagaimana dilansir dari berita sumber.
Selanjutnya, PT Krakatau Steel Tbk (KRAS) meraih pendapatan usaha US$ 622,74 juta atau sekitar Rp 11,15 triliun pada semester I 2026, meningkat 35,1 persen yoy dari US$ 460,83 juta pada periode sama tahun 2025.
KRAS turut mengantongi keuntungan penyelesaian kewajiban dipercepat dengan keringanan (haircut) utang restrukturisasi senilai US$ 27,19 juta. Langkah restrukturisasi ini berhasil menekan beban keuangan perseroan sebesar 32,7 persen yoy menjadi US$ 47,35 juta dari US$ 70,35 juta.
Selain itu, perseroan memperoleh pendapatan dari divestasi entitas asosiasi dan aset keuangan sebesar US$ 14,23 juta sebagai bagian strategi optimalisasi portofolio investasi dan aset.
"Dengan capaian tersebut, perusahaan membukukan laba bersih sebesar US$ 10,94 juta pada semester I-2026, berbalik dari rugi bersih sebesar US$ 105,38 juta pada periode yang sama tahun 2025," tulis Plt. Corporate Secretary Krakatau Steel Rachman Hidayat dalam keterbukaan informasi BEI sebagaimana dilansir dari berita sumber.
Sementara itu, PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM) mencatat pendapatan konsolidasi Rp 75,9 triliun atau naik 3,9 persen yoy selama semester I 2026. Laba bersih yang diatribusikan kepada pemilik entitas induk juga tumbuh 1,4 persen yoy menjadi Rp 10,6 triliun.
Dari sektor BUMN karya, PT PP Tbk (PTPP) dan PT Adhi Karya Tbk (ADHI) sama-sama berhasil mencetak kenaikan laba di tengah penurunan pendapatan.
PTPP mencatatkan pendapatan usaha Rp 5,95 triliun pada kuartal II 2026, turun 11,2 persen dari Rp 6,7 triliun di periode sama tahun lalu. Meski demikian, laba bersih semester I 2026 naik 196,5 persen yoy menjadi Rp 193,46 miliar dari sebelumnya Rp 65,24 miliar.
Corporate Secretary PTPP Joko Raharjo menerangkan bahwa laba komprehensif tahun berjalan PTPP pada periode ini mencapai Rp 68,4 miliar atau tumbuh 24 persen yoy. “Kenaikan laba komprehensif disebabkan oleh kenaikan penghasilan komprehensif lain yang diatribusikan pemilik entitas induk yang naik sebesar 264,2% secara YoY menjadi Rp 247,6 miliar,” katanya sebagaimana dilansir dari berita sumber.
Adapun pendapatan usaha ADHI tercatat Rp 3,11 triliun per Juni 2026 atau terkoreksi 18,35 persen dari Rp 3,81 triliun. Walau begitu, laba bersih yang diatribusikan kepada entitas induk naik 12,56 persen yoy menjadi Rp 8,49 miliar, di mana Direktur Portofolio Bisnis & Risiko ADHI Rozi Sparta menyebut perbaikan laba terjadi berkat peningkatan margin laba kotor dari klaim interest during payment proyek LRT Jabodebek.
“Sedangkan pendapatan ADHI turun dikarenakan adanya penurunan produksi untuk proyek-proyek besar ADHI yang hampir selesai yaitu Tol Solo Jogja, Tol Jogja Bawen dan Pusri,” ujarnya sebagaimana dilansir dari berita sumber.
Head of Research Kiwoom Sekuritas Liza Camelia Suryanata menilai bahwa kinerja emiten BUMN pada Semester I 2026 secara umum mulai membaik walau belum merata.
PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) menjadi salah satu emiten paling menonjol didorong penguatan harga emas, nikel, dan bauksit. Sedangkan sektor perbankan seperti BBRI dan BBNI ditopang pemulihan kredit, yield pinjaman, dan pendapatan bunga.
PT Mitratel Tbk (MTEL) cenderung stabil berkat recurring income menara dan pertumbuhan fiber, lalu PT Jasa Marga Tbk (JSMR) tetap defensif berkat pendapatan tol serta arus kas yang terjaga.
Meski begitu, belum tepat jika hasil kinerja semester I 2026 ini langsung disimpulkan sebagai keberhasilan atau kegagalan Danantara. Hal tersebut dikarenakan pencapaian kinerja masih dominan dipengaruhi oleh siklus sektoral dan strategi masing-masing emiten.
“Peran Danantara sejauh ini baru mulai terlihat pada arah konsolidasi, tata kelola, dan capital allocation BUMN. Dampak finansial penuhnya masih membutuhkan waktu,” ujarnya sebagaimana dilansir dari berita sumber.
Pada Semester II-2026, peluang perbaikan kinerja emiten BUMN dinilai masih terbuka secara selektif.
Pendorong utamanya meliputi harga emas yang tinggi, program hilirisasi mineral, pertumbuhan kredit, penyesuaian tarif tol, belanja infrastruktur, dan kebutuhan konektivitas digital.
Sementara itu, faktor risikonya mencakup suku bunga tinggi, kualitas kredit UMKM, volatilitas komoditas, tekanan nilai tukar rupiah, tingginya capex, serta konsolidasi operator telekomunikasi.
Liza menambahkan bahwa Danantara bisa menjadi katalis jika mampu mendorong efisiensi, disiplin investasi, konsolidasi aset, dan tata kelola transparan.
“Sebaliknya, Danantara dapat menjadi beban apabila BUMN terlalu banyak diarahkan untuk proyek nonkomersial, subsidi silang, atau setoran dividen besar yang mengurangi kemampuan ekspansi,” katanya sebagaimana dilansir dari berita sumber.
Liza menyarankan investor mencermati saham ANTM dengan target harga Rp 4.800, BBRI Rp 3.600, MTEL Rp 705, JSMR Rp 3.850, dan BBNI Rp 4.100 per saham hingga akhir 2026.