Saham Asia Bervariasi, China Naik Saat KOSPI dan Nikkei Tertekan

Jumat, 07 Agustus 2026 | 19:31:46 WIB
Ilustrasi saham asia (FOTO : NET)

JAKARTA – Saham-saham Asia diperdagangkan bervariasi pada hari Jumat di tengah kenaikan saham China yang mengimbangi pelemahan di Jepang dan Korea Selatan. Kondisi ini terjadi ketika saham sektor semikonduktor tetap tertekan menjelang rilis laporan ketenagakerjaan AS yang krusial bagi arah kebijakan Federal Reserve pada September.

Semalam, bursa Wall Street ditutup beragam setelah rilis serangkaian data ekonomi terbaru memperlihatkan ketahanan pasar tenaga kerja AS. Klaim pengangguran awal bertahan di bawah angka 200.000 selama tiga minggu berturut-turut, sedangkan pertumbuhan produktivitas kuartal kedua melampaui estimasi sehingga memperkuat ketidakpastian kebijakan Federal Reserve.

Pada perdagangan Asia, Futures Nasdaq 100 menguat sekitar 0,1 persen, sedangkan Futures S&P 500 terkoreksi tipis 0,03 persen di saat investor menantikan laporan nonfarm payrolls edisi Juli.

Tekanan pada saham teknologi terus berlanjut karena pelaku pasar mengevaluasi kembali nilai valuasi AI yang tergolong tinggi setelah lonjakan tajam dari aksi jual bulan lalu.

Indeks KOSPI Korea Selatan terkoreksi sekitar 0,8 persen yang menyebabkan penurunan lebih dari 5 persen dalam sepekan serta berpotensi mencatatkan penurunan mingguan ketujuh secara beruntun. Indeks tersebut melemah dalam delapan dari 10 sesi transaksi terakhir akibat aksi pelepasan posisi pada saham produsen chip terkait AI pasca-reli tinggi di paruh pertama tahun ini.

Saham SK Hynix meluncur lebih dari 4 persen dan memperpanjang tren penurunan mingguan, sementara Samsung Electronics berhasil bangkit mendekati 1 persen setelah melemah signifikan di awal pekan. Di sisi lain, saham LG Innotek mengalami penurunan sekitar 1 persen.

Kondisi pelemahan ini menyusul respons pasar yang kurang memuaskan terhadap laporan keuangan beberapa emiten semikonduktor AS pekan ini. Hal tersebut memperkuat kekhawatiran bahwa kinerja keuangan jangka pendek sulit menjustifikasi tinggi nilai valuasi AI, meskipun ekspansi infrastruktur kecerdasan buatan terus berjalan.

Indeks Nikkei 225 Jepang melorot sekitar 0,3 persen, walau masih berada di jalur kenaikan mingguan sekitar 1 persen. Sementara itu, indeks TOPIX yang mencakup pasar lebih luas menguat sekitar 0,3 persen.

Harga saham Kioxia Holdings melorot lebih dari 5 persen, Murata Manufacturing tergerus lebih dari 4 persen, dan TDK Corp melemah sekitar 1 persen.

Saham Fujifilm Holdings anjlok hingga mendekati 18 persen usai manajemen menyatakan sedang mempertimbangkan pemisahan sebagian unit bisnis pencitraannya.

Pasar saham China daratan mencatatkan kinerja unggul dibanding mayoritas bursa kawasan. Indeks CSI 300 Shanghai Shenzhen terangkat sekitar 1 persen, sementara Shanghai Composite melaju sekitar 0,8 persen.

Saham BOE Technology menanjak sekitar 1,5 persen dan NAURA Technology menguat sekitar 1,4 persen. Sebaliknya, indeks Hang Seng Hong Kong terkoreksi sekitar 0,1 persen dengan saham Alibaba serta Tencent sama-sama turun 0,2 persen.

Sektor perasuransian yang terdaftar di Hong Kong melanjutkan pelemahan menyusul beredarnya kabar bahwa otoritas China mulai mengenakan pajak atas penghasilan investasi dari polis asuransi luar negeri. Saham Prudential tergerus sekitar 1 persen dan Standard Chartered melemah lebih dari 1 persen.

Indeks FTSE Straits Times Singapura menguat sekitar 0,9 persen yang didorong oleh impresifnya laporan kinerja keuangan sektor perbankan. Saham DBS Group melonjak sekitar 2,7 persen dalam sepekan setelah mencetak rekor pendapatan kuartalan, lalu OCBC naik lebih dari 2,5 persen hingga menembus rekor tertinggi baru, sedangkan UOB melemah sekitar 1,7 persen pascarilis laporan keuangan pada hari Jumat.

Di kawasan lain, indeks Nifty 50 India mengalami penurunan sekitar 0,2 persen, dan indeks S&P/ASX 200 Australia terkoreksi 0,1 persen.

Sementara itu, harga komoditas minyak bumi bergerak naik setelah muncul kabar bahwa Iran tengah mengkaji aturan hukum yang berpotensi membatasi perlintasan kapal-kapal AS, Israel, dan negara lainnya di Selat Hormuz. Tambahan ancaman dari kelompok Houthi Yaman terhadap Arab Saudi turut memperbesar kekhawatiran terkait risiko pasokan di wilayah tersebut.

Eskalasi ini terjadi di tengah sinyal dari para pejabat di Washington dan Teheran yang mengindikasikan bahwa kesepakatan mengenai jalur perairan strategis tersebut sebenarnya semakin dekat.

Tags

Terkini