Saham BBCA Paling Banyak Dilepas Asing, Harganya Turun 1,55 Persen

Jumat, 07 Agustus 2026 | 19:31:45 WIB
Ilustrasi investor asing (FOTO : NET)

JAKARTA – Investor asing kembali melepas kepemilikan saham mereka melalui aksi jual bersih di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada perdagangan Kamis (6/8/2026). Saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) menjadi emiten yang paling banyak dilepas asing sehingga harganya tertekan.

Berdasarkan data BEI dari RTI Business, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menyusut 0,11 persen atau 7,42 poin menuju level 6.343,71. Pergerakan indeks sepanjang hari berada pada rentang 6.324 sampai 6.388.

Aktivitas perdagangan saham di BEI mencatatkan volume 54,90 miliar saham dengan nilai transaksi mencapai Rp 18,18 triliun.

Investor asing terpantau paling banyak melepas saham-saham dengan kapitalisasi pasar besar.

Pada pasar reguler, tiga saham yang mencatat penjualan bersih asing terbesar adalah BBCA sebesar Rp 214,9 miliar, TLKM sebesar Rp 93,3 miliar, dan ANTM sebesar Rp 89,1 miliar.

Tekanan jual ini membuat harga saham BBCA pada penutupan Kamis (6/8) melorot 100 poin atau 1,55 persen secara harian ke posisi Rp 6.350. Apabila dihitung sejak awal tahun 2026, harga saham BBCA telah terdepresiasi sebesar 20,87 persen.

Di sisi lain, investor asing tetap melakukan aksi beli bersih pada beberapa saham pilihan.

Saham yang paling banyak dikoleksi asing di pasar reguler yaitu DSSA sebesar Rp 317,7 miliar, TPIA sebesar Rp 105,6 miliar, dan PTRO sebesar Rp 100,6 miliar.

Penguatan aliran dana asing ke saham energi dan petrokimia menandakan minat investor pada emiten dengan prospek positif di tengah dinamika pasar.

Jika memperhitungkan seluruh jenis transaksi di semua pasar, investor asing membukukan total pembelian Rp 4,88 triliun dan penjualan Rp 5,15 triliun.

Secara akumulatif, nilai aksi jual bersih asing mencapai Rp 273,4 miliar.

Untuk keseluruhan pasar, tiga saham yang mendominasi nilai beli bersih asing tetap sama, yakni DSSA (Rp 317,7 miliar), TPIA (Rp 105,6 miliar), dan PTRO (Rp 100,6 miliar).

Sementara itu, posisi jual bersih asing terbesar ditempati oleh BBCA (Rp 214,9 miliar), EMAS (Rp 109,7 miliar), dan TLKM (Rp 96,6 miliar).

Di pasar negosiasi, asing juga membukukan aksi jual bersih bernilai Rp 56,2 miliar.

Nilai transaksi tersebut terdiri dari total pembelian Rp 393,7 miliar dan total penjualan Rp 449,9 miliar.

Tiga saham dengan nilai beli bersih asing terbesar di pasar negosiasi meliputi ISAT sebesar Rp 5,7 miliar, OASA sebesar Rp 3,7 miliar, dan STAR sebesar Rp 1,4 miliar.

Adapun saham yang paling banyak dilego asing di pasar negosiasi yaitu KPIG sebesar Rp 24,3 miliar, GOTO sebesar Rp 13,3 miliar, dan BCAP sebesar Rp 12,6 miliar.

Dalam analisis tertanggal 29 Juli 2026, CGS International Sekuritas Indonesia tetap mempertahankan rekomendasi Add untuk saham BBCA. Kendati demikian, target harga disesuaikan menjadi Rp 8.000 per saham seiring naiknya asumsi suku bunga bebas risiko ke 5,5 persen serta tingginya premi risiko pasar dari lonjakan imbal hasil obligasi negara tenor 10 tahun.

Analis CGS International Sekuritas Indonesia Handy Noverdanius menjelaskan bahwa rekomendasi ini didorong oleh realisasi kinerja semester I 2026 BBCA yang masih selaras dengan ekspektasi. BBCA mengantongi laba bersih setelah pajak (NPAT) Rp 29,5 triliun atau tumbuh 1,7 persen secara tahunan, yang memenuhi 48 persen dari estimasi CGSI serta 49 persen dari konsensus Bloomberg.

"Pada kuartal II 2026, laba bersih mencapai Rp14,8 triliun atau naik 1% dibandingkan kuartal sebelumnya, terutama didorong oleh membaiknya beban pencadangan," ujar Handy dalam riset sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Menurut Handy, potensi apresiasi valuasi saham BBCA tetap terbuka jika pertumbuhan kredit mampu melampaui estimasi dan tekanan pada margin bunga bersih (NIM) terus mereda. Di sisi lain, potensi risiko yang mesti diwaspadai adalah penurunan kualitas kredit serta persaingan bisnis penyaluran kredit yang kian ketat.

Tags

Terkini