Strategi Investasi Reksadana MAMI dan HPAM Saat Pasar Berfluktuasi

Jumat, 07 Agustus 2026 | 19:31:45 WIB
Ilustrasi ihsg (FOTO : NET)

JAKARTA – PT Manulife Aset Manajemen Indonesia (MAMI) menyarankan investor melihat peluang dan mengelola risiko di tengah fluktuasi indeks harga saham gabungan (IHSG) serta kenaikan yield SBN.

Head of Investment Specialist MAMI, Freddy Tedja, mengatakan bahwa kondisi saat ini sebaiknya tidak dijadikan ajang menebak arah pasar jangka pendek. Menurutnya, momentum ini lebih tepat dimanfaatkan untuk membangun portofolio yang lebih efisien karena kenaikan yield SBN membuka peluang baru.

Di sisi lain, tekanan di pasar saham membuat valuasi banyak emiten Indonesia menjadi lebih menarik dibandingkan rata-rata historisnya. Hal ini membuat investor tidak harus memilih antara saham atau obligasi, melainkan bisa memanfaatkan peluang kedua kelas aset tersebut secara bersamaan.

“Bagi investor, pendekatan yang lebih relevan saat ini adalah melakukan akumulasi bertahap sembari mempertahankan diversifikasi lintas aset,” ujar Freddy sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Freddy menjelaskan bahwa sejarah pasar Indonesia menunjukkan kelas aset dengan pencapaian return tertinggi akan selalu berganti. Pengelolaan portofolio secara aktif menjadi sangat krusial di tengah ketidakpastian dan munculnya berbagai peluang.

Fokus utamanya bukan sekadar memilih aset yang akan naik, melainkan mengalokasikan modal ke area dengan trade-off risiko serta potensi imbal hasil terbaik pada setiap fase siklus pasar.

Freddy menambahkan bahwa reksadana pendapatan tetap menjadi salah satu instrumen yang menarik dicermati saat ini karena peluang muncul di beberapa kelas aset sekaligus. Peningkatan yield SBN turut mendongkrak potensi imbal hasil untuk jangka menengah hingga panjang.

“Investor pada dasarnya dapat "mengunci" tingkat yield yang lebih tinggi dibandingkan beberapa tahun terakhir. Apabila ke depan tekanan terhadap suku bunga mereda, investor juga berpotensi menikmati capital gain dari kenaikan harga obligasi,” ucap Freddy sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Freddy menilai reksadana saham mulai menawarkan peluang menarik dari segi valuasi akibat banyaknya saham berkualitas yang tertekan sentimen dan arus modal asing keluar. Bagi investor berorientasi jangka panjang, kondisi ini kerap menjadi awal pembentukan return yang baik.

“Kami tetap menekankan pentingnya seleksi emiten yang disiplin dan fokus pada perusahaan dengan fundamental kuat serta prospek laba yang berkelanjutan,” imbuhnya sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Freddy juga menyebutkan bahwa reksadana campuran merupakan alternatif relevan yang mampu menangkap peluang pasar saham dan obligasi secara bersamaan. Fleksibilitas mengubah alokasi antaraset memberikan nilai tambah signifikan pada periode transisi seperti saat ini.

Sementara itu, reksadana pasar uang berfungsi penting sebagai instrumen likuiditas serta pengelola dana jangka pendek. Namun, terlalu lama bertahan di instrumen pasar uang berisiko mengorbankan potensi pertumbuhan kekayaan bagi investor jangka panjang.

Data historis MAMI menunjukkan saham dan obligasi memiliki kemampuan jauh lebih baik dalam meningkatkan daya beli dibandingkan instrumen kas atau tabungan dalam jangka panjang.

“Reksadana offshore dan reksadana dalam mata uang asing juga menyajikan peluangnya sendiri di kondisi market saat ini, dan dapat dijadikan sarana diversifikasi baik untuk strategi defensif maupun agresif,” jelas Freddy sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Senior Vice President Head of Retail, Product Research & Distribution Henan Putihrai Asset Management (HPAM), Reza Fahmi Riawan, melihat prospek kinerja reksadana pada semester II-2026 berpotensi lebih baik dibanding semester I-2026. Meskipun demikian, volatilitas pasar diperkirakan masih relatif tinggi.

Sejumlah aset khususnya saham telah terkoreksi cukup dalam sehingga valuasinya menjadi lebih menarik. Peluang pemulihan pasar pada semester II terbuka cukup lebar apabila didukung stabilitas makroekonomi, penurunan suku bunga bertahap, dan membaiknya sentimen investor, walau pemulihannya diperkirakan tidak merata.

“Oleh karena itu, kinerja reksadana pada semester II akan sangat ditentukan oleh kemampuan manajer investasi dalam melakukan asset allocation, menjaga kualitas portofolio, dan melakukan seleksi instrumen yang tepat, dibandingkan hanya mengandalkan pergerakan pasar secara umum,” ucap Reza sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Tags

Terkini