Wall Street Ditutup Turun, Investor Cermati Isu Iran dan Laporan Emiten

Jumat, 07 Agustus 2026 | 19:31:45 WIB
Ilustrasi Wall Street (FOTO : NET)

JAKARTA – Bursa saham Amerika Serikat (AS) mengalami penurunan pada perdagangan Kamis (6/8/2026). Kondisi ini menghentikan reli bursa yang sebelumnya berhasil membawa indeks utama menembus rekor tertinggi di awal pekan.

Para pelaku pasar tampak mencerna laporan kinerja keuangan emiten terkini. Di saat bersamaan, mereka juga terus memantau perkembangan proses negosiasi damai antara AS dan Iran.

Indeks Dow Jones Industrial Average tercatat merosot 464,02 poin atau 0,85% menuju posisi 53.885,10.

Adapun indeks S&P 500 mengalami koreksi 13,52 poin atau 0,18% ke level 7.710,03, sedangkan Nasdaq Composite turun tipis 15,09 poin atau 0,06% menjadi 26.348,35.

Pada awal pekan, Dow Jones dan S&P 500 sejatinya sempat menyentuh rekor tertinggi sepanjang masa.

Sentimen positif kala itu dipicu oleh laporan kinerja emiten yang solid sehingga meredakan kecemasan terkait tingginya belanja kecerdasan buatan (AI), ditambah optimism atas potensi penghentian konflik Iran.

Namun ketika memasuki perdagangan Kamis, para investor memilih untuk menahan diri sembari menunggu kejelasan lebih lanjut terkait negosiasi tersebut.

"Respons pasar terhadap berita makro saat ini lebih terbatas, kemungkinan karena musim liburan dan munculnya kejenuhan terhadap berita, khususnya mengenai Iran," kata Head of Trading SummitTX Capital, Robert Bernstone sebagaimana dilansir dari berita sumber.

"Iran kini memberi dampak yang lebih kecil terhadap pasar. Bukan berarti tidak berpengaruh sama sekali, tetapi pelaku pasar ingin melihat detail konkret, bukan sekadar pernyataan atau judul berita," tambahnya sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Di sektor komoditas, harga minyak mentah kembali bergerak naik. Hal ini terjadi setelah media semi-resmi Iran, Fars, memberitakan bahwa komite parlemen Iran tengah mengkaji draf aturan awal mengenai pelarangan melintas bagi kapal dari AS, Israel, dan negara rival di Selat Hormuz.

Minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) menguat 2,75% hingga menyentuh US$ 77,29 per barel. Sementara itu, minyak Brent merangkak naik 3,83% ke level US$ 82,49 per barel.

Ekspektasi akan terciptanya perdamaian sebelumnya sempat membuat harga minyak tertekan di awal pekan.

Pelemahan harga energi tersebut awalnya membantu mengurangi kecemasan inflasi serta proyeksi kenaikan suku bunga Federal Reserve, yang sekaligus menekan imbal hasil obligasi pemerintah AS.

Mengenai pergerakan emiten, saham perusahaan penyedia media penyimpanan Western Digital merosot 13% seusai mengumumkan laporan keuangan kuartalannya. Saham produsen chip memori Sandisk turut terkikis 6,8%.

Saham platform pemasaran digital AppLovin anjlok 19,7% akibat realisasi pendapatan yang berada di bawah proyeksi analis Wall Street.

Di samping itu, saham perusahaan keamanan komputasi awan Datadog melorot 19% setelah memproyeksikan perlambatan pertumbuhan pendapatan pada kuartal III.

Pergerakan kedua saham tersebut menjadi salah satu penekan utama bagi indeks S&P 500.

Kendati demikian, performa musim laporan keuangan secara keseluruhan masih tergolong memuaskan.

Berdasarkan data LSEG, dari 382 emiten anggota S&P 500 yang sudah merilis laporan hingga Rabu pagi, sebanyak 84,8% berhasil mencatatkan laba melampaui estimasi analis.

Pencapaian tersebut berada jauh di atas rata-rata historis sejak tahun 1994 yang tercatat sebesar 68%.

Di sisi lain, saham SpaceX berbalik melesat 6,1% setelah sebelumnya sempat berada di zona merah.

Lonjakan ini terjadi meski periode lock-up bagi investor awal telah usai, sebuah momen yang sebelumnya dikhawatirkan memicu gelombang aksi jual.

Sementara dari sisi makroekonomi, laporan menunjukkan adanya kenaikan tipis pada klaim baru tunjangan pengangguran di Amerika Serikat pekan lalu.

Para pelaku pasar kini menantikan rilis data tenaga kerja nonpertanian (nonfarm payrolls) periode Juli yang dijadwalkan terbit pada Jumat (7/8).

Data tersebut diprediksi menjadi acuan penting bagi arah kebijakan suku bunga The Fed mendatang, di tengah langkah Ketua The Fed Kevin Warsh yang mulai membatasi petunjuk arah kebijakan moneter.

Tags

Terkini