Saham TOWR Keluar Indeks LQ45, Dampak Dinilai Hanya Bersifat Teknikal

Kamis, 06 Agustus 2026 | 19:46:48 WIB
Ilustrasi saham telekomunikasi (FOTO : NET)

JAKARTA – PT Sarana Menara Nusantara Tbk (TOWR) resmi terdepak dari deretan saham Indeks LQ45 yang mulai berlaku efektif pada 3 Agustus 2026.

Meskipun demikian, analis memandang efek dari keluarnya TOWR dari indeks saham unggulan tersebut hanya bersifat teknikal serta tidak memengaruhi fundamental emiten.

Sebagai informasi, evaluasi ini dilaksanakan oleh Bursa Efek Indonesia (BEI) guna menyesuaikan konstituen indeks berlandaskan likuiditas, kapitalisasi, dan fundamental, sehingga TOWR tidak lagi memenuhi persyaratan tersebut. Harga saham TOWR telah merosot sebesar 31,28 persen sejak awal tahun (YtD) menjadi Rp 402 per saham.

Analis BRI Danareksa Sekuritas, Abida Massi Armand, menyampaikan bahwa tekanan yang terjadi lebih banyak berasal dari tindakan rebalancing portofolio reksadana yang menjadikan LQ45 sebagai acuan investasi.

"Dampaknya lebih bersifat teknikal jangka pendek dari rebalancing reksadana berbasis LQ45. Koreksi saham TOWR sekitar 31% secara year to date (YTD) juga sudah mencerminkan sebagian besar tekanan tersebut," ujar Abida sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Menurutnya, tersingkirnya TOWR dari indeks LQ45 tidak menggeser kualitas bisnis perseroan. Hal ini karena emiten menara telekomunikasi tersebut tetap ditopang pendapatan berulang (recurring income) dari kontrak sewa menara jangka panjang yang stabil dan visibilitasnya tinggi.

Kendati begitu, Abida mengimbau terdapat beberapa sentimen yang patut diwaspadai ke depan. Dari sudut pandang makro, suku bunga acuan Bank Indonesia (BI Rate) yang saat ini berada di level 5,75 persen berpotensi melambungkan beban bunga perusahaan.

Sedangkan dari sudut pandang industri, pertumbuhan organik penyewa (tenant) diperkirakan melambat seiring dengan konsolidasi yang sedang berlangsung di sektor telekomunikasi.

Di samping itu, Abida memprediksi masih ada beberapa katalis positif yang berpeluang menyokong kinerja TOWR. Percepatan implementasi jaringan 5G oleh PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM) dan PT Indosat Tbk (ISAT) dinilai bakal memacu kebutuhan densifikasi menara.

Bukan hanya itu, ekspansi bisnis fiber dan potensi monetisasi aset lewat skema sale and leaseback turut dinilai mampu menjadi pendorong pertumbuhan sekaligus membuka peluang rerating bagi saham TOWR ke depannya.

Walau demikian, emiten ternama Grup Djarum tersebut tetap meneruskan tren pertumbuhan positif pada semester I-2026. TOWR berhasil membukukan pendapatan sebesar Rp 7,20 triliun, atau melonjak 12,69 persen secara tahunan dari Rp 6,39 triliun pada semester I 2025.

Seiring peningkatan pendapatan, beban pokok pendapatan ikut tertekan naik 27,09 persen YoY menjadi Rp 2,58 triliun dari Rp 2,03 triliun.

Meskipun beban membengkak, laba bersih yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk juga merangkak naik 12,12 persen menjadi Rp 1,85 triliun dari Rp 1,65 triliun pada semester I-2025.

TOWR diproyeksikan bakal tetap mencetak pertumbuhan kinerja pada 2026. Equity Analyst Phillip Sekuritas, Edo Ardiansyah, memperkirakan pendapatan perseroan naik sekitar 3,0 persen secara tahunan menjadi Rp 13,731 triliun, dari pencapaian Rp 13,328 triliun pada 2025.

Beriringan dengan itu, laba bersih diproyeksikan tumbuh lebih tinggi, yaitu sekitar 10,0 persen YoY menjadi Rp 4,046 triliun, dibandingkan Rp 3,678 triliun pada tahun sebelumnya.

Dengan mempertimbangkan ragam sentimen dan katalis di atas, Edo menyodorkan rekomendasi buy untuk saham TOWR dengan target harga 12 bulan sebesar Rp 580 per saham.

Tags

Terkini