Laba Emiten Semester I Membaik, CGS: Hanya 18 persen Meleset Target

Kamis, 06 Agustus 2026 | 19:45:48 WIB
Ilustrasi pasar saham (FOTO : NET)

JAKARTA – Musim penyampaian laporan keuangan semester I-2026 memberikan indikasi pemulihan pada pasar saham Indonesia. Walaupun ketidakpastian masih melingkupi dampak fluktuasi harga minyak dan proyeksi pertumbuhan ekonomi, pencapaian para emiten mengindikasikan fase terburuk periode 2024-2025 mulai terlewati.

Analis CGS International Sekuritas Hadi Soegiarto menjelaskan, hanya terdapat tujuh dari total 40 emiten dalam cakupan riset CGS atau berkisar 18% yang mencetak kinerja di bawah target. Angka ini merupakan yang paling rendah dalam kurun tiga tahun terakhir.

"Sebanyak 18% merupakan proporsi terendah sepanjang periode 2023-2026, setelah sebelumnya level terendah berada di 20% pada kuartal I-2023," ujar Hadi dalam riset 3 Agustus 2026 sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Menurut Hadi Soegiarto, sedikitnya jumlah emiten yang meleset dari ekspektasi tidak terlepas dari estimasi laba investor yang sebelumnya telah disesuaikan cukup rendah. Secara umum, raihan laba bersih semester I-2026 sejalan dengan konsensus Bloomberg serta melampaui raihan kuartal I-2026 yang sempat berada di bawah ekspektasi pasar.

Meskipun demikian, Hadi Soegiarto mengingatkan bahwa prospek semester II-2026 tetap dibayangi ketidakpastian harga minyak dan laju ekonomi. Namun, Hadi Soegiarto optimistis pencapaian emiten tidak akan kembali merosot seperti yang terjadi pada 2024-2025.

Berdasarkan aspek fundamental, pertumbuhan laba bersih inti emiten dalam cakupan CGS International Sekuritas melonjak dari 3% secara tahunan pada kuartal I-2026 menjadi 26% year on year (yoy) pada kuartal II-2026. Lonjakan tersebut utamanya disokong oleh sektor pertanian serta minyak dan gas, kendati turut dipengaruhi oleh basis komparasi yang rendah pada kuartal II-2025 serta solidnya performa sektor komoditas.

Di sisi lain, sektor teknologi seperti e-commerce lewat GOTO, serta sektor ritel yang didorong MAPA menjadi kelompok yang sukses melampaui estimasi pasar.

Sebaliknya, sektor rumah sakit mencatatkan raihan yang kurang memuaskan akibat belum pulihnya permintaan layanan kesehatan.

Beberapa sektor lain mencatatkan kinerja sesuai proyeksi, meliputi kelapa sawit, telekomunikasi dan menara telekomunikasi, barang konsumsi, farmasi, perbankan dan jasa keuangan, hingga properti.

Pada sektor perbankan dan jasa keuangan, laju pertumbuhan laba bersih meningkat dari 11% yoy pada kuartal I menjadi 14% yoy pada kuartal II-2026. Sementara itu, sektor barang konsumsi mencatat kenaikan pertumbuhan laba dari 10% menjadi 25% yoy. Hadi Soegiarto memaparkan, lonjakan tersebut terpengaruh oleh penjualan pasca-Lebaran yang bergerak lebih lambat dari perkiraan pada sejumlah segmen, seperti produk susu.

Performa positif turut dialami oleh produsen minyak sawit dan sebagian emiten tambang yang mendapat keuntungan dari kenaikan harga komoditas. Sementara itu, produsen rokok meraih margin keuntungan dari penyesuaian harga jual rata-rata atau average selling price (ASP), disokong regulasi cukai yang kondusif serta penindakan rokok ilegal.

Di tengah membaiknya kondisi fundamental emiten, CGS Sekuritas turut menyesuaikan daftar saham pilihan utama. Saham MYOR, BMRI, dan KLBF dikeluarkan dari top picks lalu digantikan oleh BFIN, UNVR, serta JPFA yang dinilai memiliki potensi pertumbuhan laba jangka pendek lebih kuat.

“Kami mengeluarkan MYOR -4% sejak saham ini dimasukkan pada 23 Juli 2026, BMRI -2%, dan KLBF +3% sejak keduanya dimasukkan pada 10 Juni 2026 dari daftar saham pilihan utama kami, serta memasukkan sahamsaham yang menurut kami memiliki momentum pertumbuhan laba jangka pendek yang lebih baik,” ujar Hadi sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Saat ini daftar saham pilihan CGS Sekuritas dihuni oleh BBCA, BBNI, ASII, UNVR, EXCL, TINS, JPFA, MAPA, BFIN, dan WIIM, dengan tetap menerapkan diversifikasi sektor di tengah tingginya volatilitas ekonomi dan kebijakan pemerintah.

Ke depan, Hadi Soegiarto menilai pelaku pasar akan memperhatikan sejumlah agenda kunci pada bulan Agustus. Beberapa agenda tersebut meliputi pembaruan status Indonesia dalam indeks FTSE pada 10-14 Agustus, penyampaian Rencana Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (RAPBN) 2027 pada 16 Agustus, hingga penunjukan Gubernur Bank Indonesia baru pada 14-31 Agustus.

"Kami tetap berhati-hati namun optimistis, meski menyadari volatilitas pasar masih berpotensi tinggi di tengah dinamika ekonomi dan kebijakan pemerintah," kata Hadi sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Tags

Terkini