Bursa Asia Melonjak 5 Agustus 2026 Mengikuti Rekor Wall Street

Rabu, 05 Agustus 2026 | 18:24:38 WIB
Ilusrasi bursa saham (FOTO: NET)

JAKARTA – Bursa saham Asia menguat pada perdagangan Rabu (5/8/2026) seiring membaiknya sentimen terhadap saham-saham teknologi setelah musim laporan keuangan yang solid mendorong indeks Wall Street mencetak rekor tertinggi.

Di sisi lain, harga minyak dan imbal hasil obligasi melemah di tengah harapan kemajuan negosiasi pembukaan kembali jalur pelayaran di Selat Hormuz.

Mengutip Reuters, indeks Nikkei Jepang melonjak 3 persen, sedangkan indeks Kospi Korea Selatan naik 3,4 persen, melanjutkan pergerakan yang volatil dalam beberapa hari terakhir.

Sementara itu, indeks MSCI Asia Pasifik di luar Jepang menguat 1,5 persen.

Sentimen positif datang setelah indeks-indeks utama Wall Street ditutup di level tertinggi sepanjang masa pada perdagangan sebelumnya, didorong kinerja emiten yang terkait dengan kecerdasan buatan (AI).

Namun, tidak semua saham teknologi bergerak positif.

Saham Advanced Micro Devices (AMD) anjlok sekitar 9 persen dalam perdagangan setelah penutupan pasar meski perusahaan melaporkan kinerja kuartalan yang melampaui ekspektasi analis.

Investor memilih merealisasikan keuntungan setelah saham AMD melonjak tajam sepanjang tahun ini.

Sementara itu, saham SpaceX turun 7,5 persen setelah perusahaan melaporkan hasil keuangan kuartalannya.

Pelaku pasar khawatir belanja modal (capital expenditure/capex) yang besar untuk pengembangan infrastruktur AI akan terus menggerus arus kas perusahaan.

Kepala Riset Pepperstone Chris Weston mengatakan, SpaceX masih menunjukkan eksekusi operasional yang kuat, tetapi program investasi yang agresif membuat perusahaan kemungkinan membutuhkan tambahan pendanaan dalam jangka menengah hingga panjang.

"Bagaimana manajemen mendanai pertumbuhan tersebut dan berapa biayanya akan tetap menjadi perhatian utama investor dalam beberapa kuartal ke depan," ujarnya sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Kontrak berjangka Nasdaq turun 0,1 persen, sedangkan futures S&P 500 naik 0,2 persen setelah indeks acuan tersebut mencetak rekor baru pada Selasa.

Di Eropa, kontrak futures EURO STOXX 50 menguat 0,3 persen, DAX Jerman naik 0,5 persen, dan FTSE Inggris bertambah 0,1 persen.

Sentimen pasar juga ditopang pelemahan harga minyak setelah Qatar menyatakan para mediator terus mencatat kemajuan dalam upaya mengakhiri konflik antara Amerika Serikat dan Iran, meski belum ada rincian mengenai proses perundingan tersebut.

Harga minyak mentah Brent turun 0,4 persen menjadi US$ 79,02 per barel, jauh di bawah puncaknya pada Juli yang sempat mencapai US$ 102 per barel.

Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) turun 0,5 persen menjadi US$ 75,35 per barel.

Turunnya harga minyak membantu meredakan kekhawatiran inflasi dan mendorong kenaikan harga obligasi global.

Imbal hasil obligasi pemerintah Amerika Serikat tenor 10 tahun turun menjadi 4,6187 persen dari posisi tertinggi pekan lalu sebesar 4,747 persen.

Pasar juga memangkas ekspektasi kenaikan suku bunga Federal Reserve pada pertemuan September menjadi sekitar 57 persen, turun dari 67 persen sebelumnya.

Meski demikian, Presiden Federal Reserve Bank of Kansas City Jeff Schmid kembali menegaskan perlunya kebijakan moneter yang lebih ketat guna membawa inflasi kembali ke target bank sentral sebesar 2 persen.

Di pasar valuta asing, pergerakan mata uang cenderung terbatas.

Dolar Selandia Baru melemah 0,2 persen setelah data menunjukkan tingkat pengangguran negara tersebut naik ke level tertinggi dalam satu dekade, yakni 5,6 persen pada kuartal II-2026.

Euro diperdagangkan relatif stabil di level US$ 1,1532, mendekati level tertinggi dalam enam pekan terakhir.

Sementara itu, dolar AS melemah tipis terhadap yen Jepang ke level 157,53 yen per dolar.

Menteri Keuangan AS Scott Bessent mengatakan, dirinya yakin Gubernur Bank of Japan Kazuo Ueda akan mengambil kebijakan terbaik bagi perekonomian Jepang.

Pernyataan tersebut dipandang pasar sebagai sinyal dukungan terhadap kenaikan suku bunga lebih lanjut di Jepang.

Pekan lalu, Jepang dan Amerika Serikat juga melakukan intervensi bersama di pasar valuta asing untuk memperkuat nilai tukar yen dan menyatakan siap mengambil langkah lanjutan bila diperlukan.

Di pasar logam mulia, penurunan imbal hasil obligasi turut menopang harga emas.

Harga emas spot naik tipis 0,1 persen menjadi US$ 4.080 per ons.

Tags

Terkini