JAKARTA – Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menyampaikan telah melangsungkan pertemuan dengan lebih dari 100 investor global guna menjelaskan beragam upaya reformasi yang sedang diterapkan pada pasar modal Indonesia.
Pada diskusi tersebut, para investor dilaporkan memberi apresiasi atas langkah OJK dalam mengokohkan integritas pasar, seraya menegaskan krusialnya konsistensi dalam penerapan kebijakan.
Ketua Dewan Komisioner OJK Friderica Widyasari Dewi menyampaikan, para investor secara umum menyambut positif berbagai langkah reformasi yang direalisasikan regulator.
"Kami baru bertemu dengan lebih dari 100 investor global. Kami mendengarkan berbagai masukan yang sangat baik dan secara umum mereka juga mengapresiasi seluruh inisiatif yang kami lakukan. Yang ditunggu adalah konsistensinya," kata Friderica, yang akrab disapa Kiki, dalam konferensi pers Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK), Senin (3/8/2026) sebagaimana dilansir dari berita sumber.
Kiki menegaskan komitmen OJK dalam merawat konsistensi reformasi pasar modal, terutama lewat penguatan penegakan hukum (enforcement) atas beragam pelanggaran pasar.
Menurut penjelasannya, beberapa kebijakan yang dipaparkan sejak awal tahun saat ini sudah diwujudkan. Kebijakan tersebut mencakup keterbukaan informasi kepemilikan investor di atas 1%, pengungkapan ultimate beneficial owner (UBO) bagi kepemilikan di atas 10%, hingga penyajian data investor yang lebih mendalam dengan perluasan klasifikasi dari sembilan menjadi 39 kategori.
Di samping itu, OJK turut memperkokoh mekanisme High Shareholding Concentration (HSC) lewat penambahan indikator price impact ratio.
Penerapan kebijakan ini diharapkan sanggup menekan potensi manipulasi harga maupun transaksi terkoordinasi di pasar modal.
"Kami juga terus berkomitmen melakukan enforcement terkait kasus-kasus yang terjadi. Beberapa sudah diberikan sanksi, sementara beberapa lainnya akan segera diumumkan," tambah Kiki sebagaimana dilansir dari berita sumber.
Di sisi lain, OJK menganggap tingkat kepercayaan investor pada pasar modal Indonesia terus menunjukkan perbaikan. Perkara ini, menurut Kiki, tampak dari melesatnya Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang menguat melebihi 5% sepanjang satu bulan belakangan.
Capaian penghimpunan dana (fundraising) pada pasar modal pun dianggap tetap kokoh. Sampai kini, besaran fundraising sudah menembus Rp 113,13 triliun sekalipun kondisi ekonomi dunia masih diselimuti aneka tantangan.
OJK turut mencatat masih terdapat beberapa penawaran umum perdana saham (IPO) serta aksi korporasi lain yang tersimpan dalam pipeline.
Dari aspek basis investor, angka single investor identification (SID) terus mengalami kenaikan. Apabila pada tahun lalu angkanya berada di kisaran 20 juta SID, saat ini sudah mendekati angka 30 juta SID, sejalan dengan nilai aset kelolaan (asset under management/AUM) yang terus berkembang.
Kiki optimistis antusiasme publik untuk menanamkan modal di pasar modal bakal kian meningkat seiring hadirnya beragam instrumen investasi baru, termasuk exchange traded fund (ETF) emas yang mulai diperkenalkan di pasar Indonesia.