JAKARTA – Saham PT Bach Multi Global Tbk (BACH) yang merupakan bagian dari konglomerasi Grup Djarum kembali ditutup melonjak 15,34% menuju posisi Rp 1.015 pada perdagangan Senin (3/8/2026). Pergerakan saham BACH tersebut tampak diminati dan gencar dibeli oleh investor asing.
Aktivitas perdagangan mencatatkan sebanyak 537,62 juta saham ditransaksikan dengan frekuensi 51.127 kali serta nilai total Rp 520,45 miliar. Pada saham ini, investor asing membukukan net buy sebesar Rp 10,06 miliar.
Laju saham Bach Multi Global konsisten berada di zona hijau sejak perdagangan 27 Juli 2026. Dalam kurun waktu sepekan terakhir, akumulasi net buy investor asing pada saham emiten Grup Djarum ini mencapai Rp 79,21 miliar.
Pencatatan perdana saham BACH di Bursa Efek Indonesia (BEI) berlangsung pada 8 Juli 2026 dengan harga IPO Rp 442. Hingga saat ini, pergerakan harga saham BACH sudah melambung 129% dari harga penawarannya.
Reli harga saham PT Bach Multi Global Tbk (BACH) belakangan ini kian mencuri perhatian para pelaku pasar.
Di tengah tingginya minat pemodal, prospek industri infrastruktur telekomunikasi dinilai tetap menjanjikan berkat transformasi digital, ekspansi jaringan 5G, serta lonjakan kebutuhan layanan berbasis artificial intelligence (AI) dan cloud computing.
Pengamat CORE Indonesia Dipo Satria Ramli menilai peluang pertumbuhan sektor infrastruktur telekomunikasi masih terbuka lebar dalam rentang tiga hingga lima tahun mendatang. Permintaan pembangunan menara telekomunikasi dan jaringan fiber optic diprediksi tetap tinggi seiring meningkatnya kebiasaan pelanggan maupun korporasi.
"Masish besar 3-5 tahun ke depan, kebutuhan untuk tower dan fiber optic masih tinggi karena kebutuhan customer dan corporate yang terus meningkat," ujarnya sebagaimana dilansir dari berita sumber.
Ia menerangkan bahwa peralihan teknologi dari 4G menuju 5G menuntut kerapatan menara yang lebih tinggi melalui penguatan microcells. Di samping itu, kondisi geografis Indonesia yang berbentuk kepulauan menghadirkan tantangan sekaligus peluang bisnis tersendiri.
Kebutuhan sarana dasar seperti pasokan listrik, menara telekomunikasi, serat optik, hingga kabel bawah laut tetap menjadi fondasi utama dengan dorongan pertumbuhan dari penggunaan internet, AI, serta cloud computing.
Ia juga menegaskan betapa strategisnya peran industri pendukung telekomunikasi saat ini.
“Sangat strategis karena mereka adalah penentu keandalan dan keberlanjutan infrastruktur telekomunikasi dan ekonomi digital,” sebutnya sebagaimana dilansir dari berita sumber.
Keterbatasan stabilitas listrik serta durasi integrasi fiber optic di beberapa wilayah menjadikan peran perusahaan pendukung sangat vital.
"Tanpa reliability dari internet dan telekomunikasi, ekonomi digital tidak bisa terbangun," tegasnya sebagaimana dilansir dari berita sumber.
Secara terpisah, Ketua Pusat Kajian Kebijakan dan Regulasi Telekomunikasi Institut Teknologi Bandung (ITB) Ian Yosef M. Edward menyatakan ketersediaan serta keandalan sistem daya merupakan faktor paling krusial dalam pembangunan Base Transceiver Station (BTS).
"Pemilihan pemasangan BTS yang pertama dilihat ketersediaan sistem daya dan keandalannya. Jadi merupakan prioritas utama dalam pembangunan infrastruktur BTS," ujarnya sebagaimana dilansir dari berita sumber.
Sistem redundansi atau cadangan listrik dapat menggunakan kombinasi PLN dengan genset, maupun paduan PLN, baterai, dan genset demi menjamin kelangsungan daya.
Pengamat Pasar Modal Menteng Kleb Fauzan Luthsa memberikan analisis mengenai daya tarik emiten pendukung telekomunikasi di mata investor. Masuknya Grup Djarum melalui PT Global Teknologi Perkasa (GTP) sebagai pemegang saham pengendali menjadi pemicu utama perhatian terhadap BACH.
"Masuknya Grup Djarum memang menjadi katalis yang meningkatkan perhatian investor terhadap BACH. Namun, saya melihat pasar juga mulai memahami model bisnis perseroan secara lebih utuh,” sebutnya sebagaimana dilansir dari berita sumber.
Sebagian investor awal mengenal BACH sebatas penyedia genset, padahal prospektus mencatat perseroan mengelola sekitar 41.000 site telekomunikasi.
“Menurut saya, pemahaman inilah yang mulai berkembang di pasar," katanya sebagaimana dilansir dari berita sumber.
"Pada akhirnya pasar tetap akan melihat kinerja perusahaan. Namun, perubahan cara pandang terhadap model bisnis BACH menjadi salah satu faktor yang ikut mendorong meningkatnya perhatian investor," pungkasnya sebagaimana dilansir dari berita sumber.