Yield US Treasury Tembus Level Tertinggi dan Pasar Wait and See

Senin, 03 Agustus 2026 | 23:29:15 WIB
Ilustrasi pasar obligasi (FOTO: NET)

JAKARTA – Tekanan dari kenaikan imbal hasil (yield) obligasi pemerintah Amerika Serikat (AS) serta tingginya suku bunga global masih membayangi pergerakan pasar obligasi di dalam negeri.

Head of Research Kiwoom Sekuritas, Liza Camelia Suryanata, memaparkan bahwa yield obligasi pemerintah Indonesia tenor 10 tahun bertahan di posisi 7,34% per 31 Juli 2026. Angka ini mencerminkan tingkat suku bunga yang masih tinggi setelah tercatat naik 18 basis poin (bps) secara bulanan MoM dan melonjak 76 bps dibandingkan periode yang sama tahun lalu (YoY).

Aktivitas perdagangan di pasar obligasi terpantau mengalami perlambatan saat mendekati akhir pekan. Nilai transaksi obligasi korporasi menyusut dari Rp 9,71 triliun pada 30 Juli menjadi Rp 8,85 triliun pada 31 Juli.

Meskipun demikian, akumulasi volume perdagangan obligasi korporasi sepanjang tahun ini telah menembus Rp 843,3 triliun.

Penurunan volume transaksi juga terjadi pada obligasi pemerintah, yakni dari Rp 18,24 triliun menjadi Rp 13,48 triliun.

Walau begitu, total volume transaksi obligasi pemerintah sepanjang tahun tetap mendominasi pasar surat utang dengan capaian sebesar Rp 3.550 triliun. Di pasar valuta asing, pergerakan mata uang rupiah terpantau stabil pada kisaran Rp 18.050 per dolar AS.

“Pergerakan rupiah dipengaruhi oleh sikap wait and see investor menjelang rilis sejumlah data ekonomi domestik penting pada pekan ini, seperti inflasi Juli, neraca perdagangan, dan pertumbuhan PDB kuartal II-2026, yang diperkirakan akan memberikan arah bagi prospek kebijakan moneter dan perekonomian Indonesia,” ujar Liza dalam riset yang diterima Kontan, Senin (3/8/2026) sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Di saat bersamaan, lonjakan yield US Treasury turut menghadirkan tekanan bagi pasar. Yield obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun merangkak ke level 4,73% yang merupakan posisi tertinggi sejak Januari 2025, sedangkan tenor dua tahun terkerek ke angka 4,30%.

Pernyataan bernada hawkish dari sejumlah anggota Federal Open Market Committee (FOMC), yakni Neel Kashkari, Beth Hammack, dan Lorie Logan, menjadi pemantik kenaikan tersebut. Kondisi ini memperkuat dugaan pasar terkait besarnya peluang kenaikan suku bunga acuan The Fed sebesar 25 bps pada pertemuan September mendatang.

Dari Jepang, Bank of Japan (BOJ) memilih untuk mempertahankan suku bunga kebijakan di level 1,0% sesuai dengan perkiraan pasar. Yield obligasi pemerintah Jepang tenor dua tahun merangkak naik ke level 1,51%, sementara tenor 10 tahun terkoreksi ke bawah 2,8% setelah dugaan intervensi pemerintah di pasar valas berhasil menopang nilai tukar yen.

Adapun yield obligasi pemerintah Inggris tenor 10 tahun mengakhiri perdagangan di atas level 5% atau mengalami lonjakan 28 bps sepanjang bulan Juli.

Kata Liza, kenaikan tersebut didorong oleh lonjakan harga minyak dan meningkatnya kekhawatiran inflasi akibat konflik di Timur Tengah sebagaimana dilansir dari berita sumber. Di sisi lain, membaiknya stabilitas politik dan komitmen pemerintah baru terhadap disiplin fiskal turut menopang sentimen pasar Inggris sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Sementara itu dari indikator ekonomi global, kinerja ekspor Korea Selatan tumbuh 62,8% secara tahunan hingga mencapai US$ 98,89 miliar pada Juli 2026 dan berhasil melampaui estimasi pasar. Selain itu, indeks sentimen konsumen AS versi University of Michigan direvisi naik menuju posisi 55,2 pada Juli yang menjadi level tertinggi sejak Februari 2026.

Terkini