Pergerakan Saham Bank Central Asia BBCA dan Target Harga Terbaru

Senin, 03 Agustus 2026 | 21:16:46 WIB
Ilustrasi saham bca (FOTO: NET)

JAKARTA – Pergerakan harga saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) atau BCA mengalami perubahan arah pada akhir perdagangan pekan lalu, Jumat (31/7/2026).

Saham bank swasta terbesar ini mencatatkan penjualan bersih (net sell) oleh investor asing sebesar Rp 100,4 miliar yang memicu penurunan harga 1,94 persen ke level Rp 6.325.

Kondisi tersebut berbanding terbalik dari empat hari bursa sebelumnya, di mana saham BCA selalu mencatatkan pembelian bersih (net buy) asing. Pencapaian net buy asing tertinggi pekan lalu terjadi pada 30 Juli 2026 yang mencapai Rp 317,41 miliar.

Meskipun tertekan aksi net sell pada 31 Juli, akumulasi perdagangan selama sepekan menunjukkan saham BBCA membukukan net buy asing Rp 426,56 miliar dengan kenaikan harga 0,80 persen.

Hasil ini membaik jika dibandingkan pekan sebelumnya periode 20-24 Juli 2026, ketika saham BCA mencatat net sell asing Rp 310,48 miliar dan harganya terkoreksi 3,09 persen.

Di samping itu, PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) mengumumkan capaian kinerja kuartal II-2026 yang sejalan dengan ekspektasi pasar. Kinerja tersebut dibarengi dengan munculnya penetapan target harga baru untuk saham BBCA.

BCA membukukan perolehan laba bersih sebesar Rp 14,9 triliun pada kuartal II-2026, yang cenderung stabil baik secara kuartalan (qoq) maupun tahunan (yoy). Efisiensi biaya pencadangan berhasil menutupi peningkatan beban operasional (operating expenses/opex).

Sementara itu, margin bunga bersih (net interest margin/NIM) BBCA masih tertekan hingga turun ke posisi 5,7 persen, atau menyusut 7 basis poin (bps) secara kuartalan dan 44 bps secara tahunan. Penurunan NIM ini terutama dipengaruhi oleh melemahnya imbal hasil aset produktif.

“Meski demikian, manajemen BBCA menyampaikan bahwa imbal hasil kredit korporasi mulai membaik sejak Mei 2026. Perbaikan tersebut didorong oleh penyesuaian harga kredit serta penyaluran kredit baru dengan tingkat bunga lebih tinggi,” sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Di sisi penyaluran dana, pertumbuhan kredit BBCA tetap kuat di angka 4 persen qoq dan 8 persen yoy, dengan penopang utama dari segmen grosir. Di sisi lain, ekspansi pada segmen kredit konsumer tercatat masih terbatas.

Kualitas aset perseroan terpantau berada dalam kondisi stabil. Rasio gross non-performing loan (gross NPL) terjaga di tingkat 1,8 persen, meskipun tingkat keterlambatan pembayaran pada segmen ritel serta usaha kecil dan menengah (UKM) mengalami kenaikan secara bertahap.

Selama periode semester I-2026, BBCA berhasil mencatatkan laba bersih Rp 30,3 triliun atau tumbuh 2 persen yoy. “Angka tersebut setara dengan 49 persen dari proyeksi kami dan konsensus pasar untuk tahun 2026,” sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Kinerja perseroan disokong oleh pertumbuhan pendapatan berbasis komisi (fee based income) yang solid. Kendati demikian, laju kinerjanya tertahan oleh tekanan NIM serta kenaikan beban operasional.

Manajemen BBCA memproyeksikan pemulihan NIM pada semester II-2026 seiring berlanjutnya perbaikan imbal hasil kredit korporasi.

Pihak manajemen BBCA memutuskan untuk mempertahankan panduan kinerja tahun 2026 dengan mengasumsikan Bank Indonesia (BI) akan menaikkan suku bunga acuan sebanyak dua kali lagi. Target pertumbuhan kredit ditetapkan sebesar 8 persen-10 persen, NIM pada kisaran 5,4 persen-5,6 persen, serta CoC di tingkat 0,4 persen-0,5 persen.

Apabila terjadi skenario pelemahan ekonomi makro, CoC diperkirakan berpotensi naik hingga 60 bps atau 0,6 persen. Sementara itu, cost to income ratio (CIR) ditargetkan berada pada kisaran 31 persen-33 persen.

“Secara keseluruhan, manajemen BBCA tetap optimistis terhadap prospek semester II-2026. Optimisme tersebut didukung oleh perbaikan penetapan harga kredit korporasi, meskipun tantangan pada segmen konsumer dan UKM diperkirakan masih berlanjut,” sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Atas dasar pertimbangan tersebut, BRI Danareksa Sekuritas mempertahankan rekomendasi beli untuk saham BBCA. Namun, target harga saham BBCA disesuaikan menjadi Rp 8.600 dari sebelumnya Rp 10.900.

Penetapan target harga baru ini dilakukan setelah BRI Danareksa Sekuritas menyesuaikan asumsi CoE dari rata-rata 7 persen menjadi minus satu standar deviasi (-1SD) sebesar 8 persen. “Penyesuaian yang lebih konservatif ini mencerminkan kenaikan tingkat imbal hasil bebas risiko,” sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Melalui perhitungan tersebut, diperoleh nilai wajar rasio harga terhadap nilai buku (fair value price to book value/FV PBV) sebesar 3,5 kali.

Untuk pandangan taktis dalam jangka waktu tiga bulan, BRI Danareksa Sekuritas menetapkan pandangan overweight. Meski terdapat risiko negara dan arus modal keluar investor asing yang masih berlanjut, potensi penurunan valuasi saham dinilai relatif terbatas.

Terkini