Saham Bank Tertekan Aksi Profit Taking Setelah Sempat Menguat

Sabtu, 25 Juli 2026 | 20:43:20 WIB
Ilustrasi saham perbankan (sumber foto : NET)

JAKARTA – Saham sektor perbankan yang menjadi pendorong IHSG pada awal pekan berbalik tertekan pada penutupan perdagangan. Aksi profit taking dan derasnya arus jual asing kembali menyeret saham bank berkapitalisasi besar ke zona merah.

Pada penutupan perdagangan Jumat (24/7/2026), BBCA berada di level Rp 6.275 per saham. BBRI turun 1% ke Rp 2.960, BMRI terkoreksi 5,71% ke Rp 4.130, BBNI melemah 2,22% ke Rp 3.520, dan BBTN turun 4,37% ke Rp 1.205 per saham.

Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas Nafan Aji Gusta menilai pergerakan saham perbankan sepanjang pekan ini cukup fluktuatif. Keputusan Bank Indonesia mempertahankan BI-Rate di level 5,75% sempat memberikan sentimen positif di awal pekan.

"Investor merespons positif keputusan Bank Indonesia yang mempertahankan BI-Rate di level 5,75%. Keputusan tersebut memberikan kepastian terhadap prospek stabilitas suku bunga dan kualitas aset perbankan," ujar Nafan sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Setelah mencatatkan kenaikan, saham-saham bank besar terkoreksi akibat aksi profit taking dan tekanan net sell investor asing. Nafan menilai pelemahan tersebut dipengaruhi faktor teknikal dan rotasi sektor, sementara fundamentalnya tetap solid.

Investment Analyst Infovesta Utama Ekky Topan melihat pergerakan saham perbankan bergerak mixed sebelum melemah di akhir pekan. Reli sebelumnya didorong oleh valuasi murah, ekspektasi kinerja semester I-2026, dan stabilnya nilai tukar rupiah di bawah Rp 18.000 per dolar AS.

"Namun, kenaikan saham bank sebelumnya memang masih lebih banyak bersifat technical rebound. Jadi, setelah mengalami kenaikan cukup signifikan dari area terendah, wajar apabila terjadi aksi realisasi keuntungan," ujar Ekky sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Memasuki pekan depan, Ekky memperkirakan saham perbankan bergerak fluktuatif seiring mulainya musim laporan keuangan semester I-2026. Salah satu sentimen positif datang dari PT Bank Mandiri Tbk yang membukukan laba bersih konsolidasi Rp 30,4 triliun atau tumbuh 24,4% secara tahunan.

Selain kinerja emiten, pelaku pasar mencermati rapat kebijakan The Fed pada 28–29 Juli 2026 mengenai petunjuk arah suku bunga AS. Kenaikan harga minyak mentah Brent yang menembus US$ 100 per barel juga menjadi perhatian karena berisiko memicu tekanan inflasi.

"Jadi, selama Rupiah mampu bertahan di bawah Rp 18.000, harga minyak tidak terus meningkat, dan investor asing kembali mencatatkan pembelian bersih, saham perbankan masih memiliki ruang untuk melanjutkan penguatan. Sebaliknya, apabila harga minyak terus naik dan Rupiah kembali melemah, investor berpotensi kembali melakukan rotasi ke sektor berbasis komoditas," katanya sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Untuk strategi investasi, Ekky merekomendasikan Trading Buy atau Buy on Weakness BBCA dengan target Rp 6.800–Rp 7.000. BMRI direkomendasikan Trading Buy atau Buy on Weakness dengan target Rp 4.800–Rp 5.000, serta BBRI Trading Buy dengan target Rp 3.200–Rp 3.300.

BBCA dipandang lebih defensif karena struktur CASA yang kuat dan kualitas aset dijaga dengan baik. Sementara BBRI dinilai menarik secara valuasi dan berpeluang pulih, meski lebih sensitif terhadap kualitas kredit segmen mikro.

Terkini