JAKARTA – Bursa Asia mencatatkan pergerakan yang beragam pada perdagangan hari Senin (20/7/2026).
Berdasarkan data Bloomberg pukul 08.19 WIB, indeks Hang Seng menguat 272,79 poin atau 1,11% ke 24.835,03 dan Taiex naik 235,10 poin atau 0,50% ke 42.885,73. Sementara itu, Kospi melemah 156,82 poin atau 2,34% ke 6.661,12, ASX 200 naik 10,75 poin atau 0,12% ke 8.807,50, Straits Times naik 8,31 poin atau 0,16% ke 5.519,45, serta FTSE Malaysia menguat 0,69 poin atau 0,04% ke 1.732,06.
Kondisi bursa Asia yang bervariasi ini dipicu oleh eskalasi konflik di wilayah Teluk yang mendongkrak harga minyak serta memicu kekhawatiran inflasi, sebagaimana dilansir dari berita sumber. Pekan ini akan menjadi ujian bagi kepercayaan investor karena banyaknya laporan pendapatan dari perusahaan teknologi besar.
Harga minyak mentah Brent melonjak 3% hingga menembus angka $90 per barel untuk pertama kalinya dalam lebih dari satu bulan akibat serangan militer AS terhadap Iran. Kenaikan harga bahan bakar ini kembali memicu ketakutan inflasi meskipun data harga konsumen AS pekan lalu menunjukkan penurunan.
"Perkiraan kami adalah perubahan yang lebih bertahap menuju kenaikan suku bunga Fed pada tahun 2027, tetapi keseimbangan risiko bergeser ke arah kenaikan yang lebih awal dari yang diperkirakan," kata Bruce Kasman, kepala ekonom di JPMorgan, sebagaimana dilansir dari berita sumber.
Analis BofA, Savita Subramanian, masih memiliki pandangan positif terkait proyeksi laba dengan estimasi peningkatan 5% dari konsensus atau pertumbuhan 28%. Sektor teknologi diprediksi menjadi motor utama pertumbuhan dengan kontribusi lebih dari 50%, di mana sektor semikonduktor diantisipasi meningkat sekitar 130% secara tahunan.
Sentimen tersebut mendorong indeks berjangka S&P 500 naik 0,2% dan indeks berjangka Nasdaq menguat 0,4% di awal perdagangan. Sementara itu, indeks berjangka EUROSTOXX 50 dan DAX di Eropa masing-masing naik 0,2%, sedangkan indeks berjangka FTSE terpantau stagnan.
Pasar Jepang melalui indeks Nikkei tidak beroperasi karena libur setelah pekan lalu tertekan 6,4% akibat pelemahan sektor teknologi. Indeks saham Asia-Pasifik MSCI di luar Jepang turun 0,3%, dan pasar saham Korea Selatan terkoreksi 0,6% setelah minggu sebelumnya jatuh hampir 9% akibat aksi jual investor ritel.