JAKARTA – Prospek saham emiten sektor telekomunikasi dinilai masih atraktif hingga akhir 2026 seiring dengan pelaksanaan lelang spektrum frekuensi oleh pemerintah. Langkah ini merupakan bagian dari upaya pemerintah dalam menata spektrum frekuensi radio guna memeratakan layanan internet serta mempercepat implementasi 5G.
Setelah merampungkan alokasi pita 1,4 GHz, Kementerian Komunikasi dan Digital kini menyelesaikan seleksi pita 700 MHz dan 2,6 GHz untuk kebutuhan jaringan seluler. Pada pita 700 MHz, PT XLSMART Telecom Sejahtera Tbk meraih peringkat pertama, diikuti oleh PT Telekomunikasi Selular (Telkomsel) dan PT Indosat Tbk.
Sementara itu, PT Telekomunikasi Selular (Telkomsel) memenangkan alokasi pita 2,6 GHz sebesar 80 MHz, disusul PT Indosat Tbk 60 MHz, dan PT XLSMART Telecom Sejahtera Tbk 50 MHz. Senior Market Mirae Asset Sekuritas, Nafan Aji Gusta, menilai lelang ini sebagai katalis positif karena spektrum menjadi aset strategis untuk meningkatkan kapasitas jaringan.
Nafan menjelaskan bahwa pita 700 MHz efektif untuk perluasan 4G di wilayah suburban dan rural, sedangkan pita 2,6 GHz mendukung peningkatan kualitas layanan data di area padat serta mempercepat 5G. Namun, ia menekankan bahwa manfaat ekonomi dari lelang ini kemungkinan baru akan terealisasi dalam jangka menengah hingga panjang.
"Investor juga akan mencermati besaran biaya perolehan spektrum (spectrum fee), kebutuhan belanja modal (capex), serta kemampuan operator memonetisasi layanan 5G agar investasi tersebut memberikan tingkat pengembalian (return on investment) yang optimal," ujar Nafan sebagaimana dilansir dari berita sumber.
Nafan memandang PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk (TLKM) berpotensi paling diuntungkan berkat posisi keuangan dan basis pelanggan yang kuat. PT Indosat Tbk (ISAT) juga dinilai menarik karena efisiensi operasional pascamerger, sementara PT XLSMART Telecom Sejahtera Tbk (EXCL) diuntungkan dari sinergi pascaintegrasi dengan Smartfren.
Ke depannya, pertumbuhan konsumsi data, layanan digital, dan potensi penurunan suku bunga menjadi katalis positif bagi industri ini. "Selain itu, potensi penurunan suku bunga yang dapat menekan biaya pendanaan dan meningkatkan valuasi saham-saham defensif seperti sektor telekomunikasi," imbuh Nafan sebagaimana dilansir dari berita sumber.
Di sisi lain, investor perlu mewaspadai risiko seperti tingginya belanja modal, perang tarif, serta pelemahan nilai tukar rupiah. Terkait strategi investasi, Nafan merekomendasikan add untuk saham EXCL dengan target Rp 3.430, TLKM Rp 3.030, dan ISAT Rp 2.740 per saham.