JAKARTA - PT Bursa Efek Indonesia (BEI) memastikan efek yang tercantum dalam daftar high shareholding concentration (HSC) atau konsentrasi kepemilikan tinggi tidak disertakan ke dalam indeks-indeks utama bursa, termasuk LQ45 serta IDX30.
Direktur Utama BEI, dari Sumbernya, menyebutkan, aturan tersebut berlaku bagi semua efek yang sudah ditentukan masuk kategori HSC.
Status HSC menjadi salah satu bahan pertimbangan dalam tahapan seleksi konstituen indeks utama BEI, di samping berbagai patokan lain yang sudah berlaku sebelumnya.
“Kami juga sudah menetapkan bahwa seluruh saham dalam kategori high shareholding concentration tidak akan kami masukkan dalam indeks utama di bursa seperti LQ45, IDX30, dan indeks utama lainnya,” ujar dari Sumbernya saat konferensi pers di gedung BEI, Selasa (14/7/2026).
BEI menambahkan patokan price impact ratio sebagai metode penentuan efek yang masuk dalam daftar konsentrasi kepemilikan tinggi atau HSC.
Indikator ini diaplikasikan terhadap semua efek dengan kapitalisasi pasar di atas Rp 10 triliun.
Keputusan tersebut berdasarkan hasil revisi metode high shareholding concentration yang dilakukan Self Regulatory Organization (SRO).
BEI meninjau 171 efek yang mempunyai kapitalisasi pasar di atas Rp 10 triliun dengan memakai indikator price impact ratio.
Lewat penilaian ini, BEI mendeteksi apakah suatu efek mempunyai price impact ratio yang tinggi atau rendah.
Efek-efek dengan price impact ratio tinggi kemudian melewati proses screening untuk mengetahui ada atau tidaknya indikasi HSC.
“Bahwa atas seluruh saham yang memiliki kapitalisasi pasar di atas 10 triliun Itu ada 171 saham dan atas 171 saham tersebut tentu kami periksa price impact ratio-nya, apakah tinggi atau rendah,” paparnya.
Namun, dari Sumbernya memastikan penentuan HSC tidak hanya bersandar pada price impact ratio saja.
Artinya BEI tetap memakai trigger factors dari fungsi pengawasan terhadap semua efek.
Dari hasil tinjauan price impact ratio serta mekanisme pengawasan tersebut, BEI menjumpai sejumlah 37 efek yang mempunyai indikasi high shareholding concentration.
“Kami sampaikan bahwa di luar kriteria tersebut (price impact ratio) juga ada trigger factors dari fungsi pengawasan, yang juga dilakukan atas seluruh saham yang ada, yang masuk dalam kriteria pengawasan, sehingga total dihasilkan 37 saham yang memiliki indikasi high shareholding concentration,” pungkas dia.
Sebagai informasi, price impact ratio dihitung dengan membandingkan perubahan harga suatu efek terhadap velocity, yakni rasio rata-rata volume transaksi dengan jumlah efek yang beredar di publik alias free float.
Efek yang mempunyai kegiatan volume transaksi rendah bakal menghasilkan velocity yang rendah.
Apabila situasi ini dibarengi dengan perubahan harga yang besar, maka efek tersebut bakal mempunyai price impact ratio yang tinggi.
Situasi itu menunjukkan pergerakan harga efek relatif sensitif meski kegiatan transaksinya terbatas.
“Artinya saham-saham yang aktivitas volume transaksinya rendah Tentu akan menghasilkan velocity yang rendah. Dengan velocity yang rendah tetapi dengan perubahan harga yang besar tentu akan menghasilkan price impact ratio yang tinggi,” ucap dari Sumbernya.
Efek-efek yang mempunyai price impact ratio tinggi kemudian melewati proses screening untuk mengetahui ada atau tidaknya indikasi high shareholding concentration atau konsentrasi kepemilikan efek yang tinggi.
“Atas saham-saham inilah kami akan melakukan screening terhadap potensi ada atau tidaknya high shareholding concentration,” tukasnya.
Patokan price impact ratio bakal diaplikasikan terhadap semua efek dengan kapitalisasi pasar di atas Rp 10 triliun secara rutin setiap tiga bulan.
Jadwalnya mengikuti siklus peninjauan indeks utama yang dilakukan BEI.
Meski demikian, dari Sumbernya menyebut mekanisme penerapannya tidak hanya bergantung pada penilaian secara rutin.
BEI juga tetap mengaplikasikan berbagai trigger factors pengawasan terhadap semua efek secara mendadak atau sewaktu-waktu apabila ditemukan indikasi tertentu.
Dengan demikian, pengawasan dapat dilakukan kapan saja tanpa harus menunggu jadwal penilaian rutin.