JAKARTA - BRI Danareksa Sekuritas (BRIDS) tetap memegang target Indeks harga saham gabungan (IHSG) di angka 7.200 hingga akhir 2026 pasca keputusan S&P Global Ratings mempertahankan peringkat kredit Indonesia di level BBB/A-2 dengan outlook stabil.
Analis BRI Danareksa Sekuritas dari Sumbernya dan dari Sumbernya berpendapat keputusan S&P tersebut menghilangkan satu dari risiko utama yang sebelumnya membayangi bursa saham domestik.
Sebelumnya, pasar pun disebut sudah mencerminkan skenario yang lebih buruk dibandingkan sekadar revisi outlook negatif.
”Kini kedua peristiwa tersebut berakhir dengan hasil yang positif. S&P mempertahankan peringkat Indonesia di level BBB/A-2 dengan outlook stabil, menyusul keputusan MSCI yang tetap mempertahankan Indonesia sebagai bagian dari kelompok Emerging Markets,” katanya dalam riset, Senin (14/7/2026).
Menurut mereka, level IHSG saat ini masih mencerminkan harapan yang terlalu pesimistis terhadap masa depan ekonomi dan kinerja emiten.
Di level sekitar 6.038, IHSG diperdagangkan pada valuasi forward price-to-earnings (P/E) sekitar 9,1 kali, atau sekitar 2,6 standar deviasi di bawah rata-rata historis 10 tahun sebesar 14,8 kali.
BRIDS menilai valuasi itu mengindikasikan pasar memproyeksikan pertumbuhan laba emiten pada 2027 akan mengalami kontraksi sekitar 7%, jauh di bawah proyeksi internal perusahaan yang memperkirakan pertumbuhan laba mencapai 14%.
"Kami memandang level IHSG saat ini di 6.038 terlalu pesimistis karena telah mencerminkan earnings yield spread sebesar 378 basis poin terhadap imbal hasil SBN tenor 10 tahun, yang menurut kami hanya layak terjadi pada skenario terburuk bagi peringkat utang negara," tulis keduanya.
Berdasarkan hal tersebut, BRIDS tetap mempertahankan target IHSG akhir 2026 di angka 7.200.
Target tersebut dibangun menggunakan asumsi pertumbuhan laba per saham (EPS) sebesar 8% pada 2027.
Selain itu, target tersebut juga menggunakan asumsi valuasi 10 kali forward P/E, yang masih berada pada level diskon dibandingkan rata-rata historis.
Menurut para analis, jika IHSG terus diperdagangkan pada valuasi forward P/E 9,1 kali dan pertumbuhan laba sebesar 8% yang terealisasi, Indeks dinilai masih berpotensi mencapai level 6.520 atau naik sekitar 8% dari level saat ini.
"Hal tersebut memperkuat pandangan kami bahwa profil risk-reward pasar saham Indonesia masih menarik,” tulis mereka.
Di sisi makroekonomi, BRIDS juga berpendapat tekanan terhadap pasar mulai mereda.
Penurunan harga minyak dari puncaknya dianggap akan mengurangi tekanan terhadap neraca perdagangan, nilai tukar rupiah, dan inflasi pada kuartal III tahun ini.
Selain itu, aliran dana asing ke pasar surat berharga negara (SBN) juga mulai berbalik mencatatkan arus masuk pada Juni 2026.
Meskipun demikian, BRIDS mengingatkan bahwa risiko belum sepenuhnya hilang.
Menurut mereka, tantangan fiskal masih menjadi perhatian karena rasio pembayaran bunga terhadap penerimaan negara masih berada di atas level 15%.
Selain itu, perhatian pasar kini beralih pada evaluasi MSCI Market Accessibility Review pada November 2026.
Apabila MSCI menilai tidak terdapat kemajuan yang memadai terhadap aksesibilitas pasar Indonesia, lembaga tersebut masih membuka kemungkinan untuk memulai konsultasi mengenai reklasifikasi Indonesia dari kategori Emerging Markets menjadi Frontier Markets.
Dari sisi strategi investasi, BRIDS tetap mempertahankan rekomendasi overweight pada sektor perbankan, telekomunikasi, logam, dan batu bara.
Namun, apabila premi risiko Indonesia terus menurun setelah keputusan S&P, para analis melihat terdapat ruang untuk meningkatkan eksposur pada saham-saham dengan beta yang lebih tinggi.