Tekanan S&P DJI Berlanjut, LPPI Sebut Buyback Bukan Penopang Utama

Kamis, 09 Juli 2026 | 11:42:14 WIB
Ilustrasi: S&P DJI memasukkan Indonesia ke daftar pantau, menekan saham perbankan besar. (Foto: NET)

JAKARTA – Masuknya Indonesia ke dalam daftar pantau klasifikasi negara oleh S&P Dow Jones Indices memberikan tekanan signifikan terhadap saham-saham perbankan, khususnya kategori big banks. Aksi pembelian kembali saham atau buyback dinilai belum cukup kuat untuk menopang harga di tengah tekanan pasar yang terus berlangsung.

Pada perdagangan Rabu (8/7/2026), seluruh saham bank besar ditutup di zona merah. Saham BBNI mencatat pelemahan terdalam sebesar 2,59 persen ke level Rp 3.380, disusul BMRI turun 2,46 persen ke Rp 3.970, BBRI turun 2,45 persen ke Rp 2.790, dan BBCA melemah 1,98 persen ke Rp 6.175.

Vice President LPPI, Trioksa Siahaan, menyatakan bahwa bank sebaiknya tidak hanya mengandalkan program buyback sebagai penopang harga jika tekanan berlanjut. “Jika tekanan terhadap harga saham berlanjut, fokus utama bank bukan sekadar melakukan buyback, melainkan menjaga kualitas aset, profitabilitas, likuiditas, serta memperkuat komunikasi dengan investor karena faktor fundamental tetap menjadi penentu valuasi jangka panjang,” sebagaimana dilansir dari sumber berita.

Menurut Trioksa, efektivitas buyback saat ini terbatas pada upaya menjaga kepercayaan investor dan meredam volatilitas. Aksi tersebut belum tentu mampu membalikkan tren harga saham jika tekanan pasar berasal dari sentimen global yang kuat.

“Buyback lebih berfungsi menjaga kepercayaan pasar dan mengurangi volatilitas harga dibandingkan menjadi katalis pembalikan tren ketika sentimen eksternal masih mendominasi,” sebagaimana dilansir dari sumber berita.

Ia menambahkan bahwa keputusan S&P DJI membuat investor asing cenderung mengambil sikap wait and see sambil menunggu langkah regulator terkait transparansi pasar. Meski demikian, pelemahan saat ini dinilai lebih sebagai penyesuaian portofolio daripada penurunan fundamental perbankan.

“S&P DJI baru memasukkan Indonesia ke dalam watchlist, belum menurunkan status klasifikasi pasar. Karena itu, pelemahan saham bank lebih merupakan respons terhadap sentimen jangka pendek dibandingkan perubahan fundamental sektor perbankan,” sebagaimana dilansir dari sumber berita.

Terkini