Indosat Berpeluang Bagikan Dividen Spesial, Potensi Cuan Hampir 60 Persen

Selasa, 07 Juli 2026 | 10:18:03 WIB
(Foto: NET)Indosat catat penerimaan kas Rp 11,7 triliun dari divestasi aset fiber. (Foto: NET)

JAKARTA – PT Indosat Tbk (ISAT) memiliki peluang untuk membagikan dividen spesial seiring dengan penerimaan kas yang cukup besar. Valuasi saham ISAT saat ini dinilai belum mahal dengan potensi keuntungan atau cuan yang mencapai hampir 60 persen.

Indosat telah melakukan divestasi aset fiber di dalam PT Infra Fiber Teknologi (IFT) kepada PT Nusantara Fiber Teknologi (NFT). Langkah ini merupakan bagian dari strategi monetisasi perusahaan melalui kemitraan dengan Arsari Group dan Northstar.

Rinciannya, sebesar 84,9 persen aset fiber dijual dengan nilai tunai Rp 11,7 triliun, sementara 15,1 persen sisanya disetorkan sebagai aset untuk memperoleh saham NFT. Dengan struktur transaksi tersebut, ISAT tetap memiliki 49,9 persen saham perusahaan asosiasi, dengan kepemilikan efektif sebesar 49,68 persen di IFT.

"ISAT tetap mempertahankan kepemilikan 49,9% dan kendali operasional. Transaksi ini menghasilkan keuntungan Rp 1,65 triliun, sehingga bukan merupakan exit penuh," tulis analis BRI Danareksa Sekuritas, Kafi Ananta dan Erindra Krisnawan dalam risetnya, Senin (6/7/2026), sebagaimana dilansir dari sumber berita.

Total nilai transaksi tersebut mengimplikasikan valuasi 100 persen aset fiber sebesar Rp 13,8 triliun. "Ini berpotensi membuka nilai aset tanpa mengorbankan posisi operasional jangka panjang ISAT," sebut Kafi, sebagaimana dilansir dari sumber berita.

Indosat mencatat penerimaan kas Rp 11,7 triliun yang meningkatkan fleksibilitas perseroan dalam mengalokasikan modal. Arus kas keluar utama ISAT diperkirakan mencakup pembayaran awal spektrum dan tambahan belanja modal untuk pengembangan jaringan.

"Kami mengestimasi biaya spektrum satu kali di muka sebesar Rp 2,4 triliun dalam skenario dasar (base case). Dalam skenario optimistis (bull case), biayanya ditaksir sebesar Rp 1,7 triliun," ungkap dia, sebagaimana dilansir dari sumber berita.

Selain itu, BRI Danareksa Sekuritas memperkirakan tambahan belanja modal ISAT secara kumulatif sebesar Rp 4,4 triliun selama periode 2026-2028. Setelah memperhitungkan kebutuhan tersebut, masih terdapat estimasi kelebihan kas sekitar Rp 4,9-5,6 triliun yang berpotensi dibagikan kepada pemegang saham dalam bentuk dividen spesial.

"Jumlah tersebut mengimplikasikan potensi imbal hasil dividen spesial sebesar 7,6-8,7%," jelas Kafi, sebagaimana dilansir dari sumber berita.

BRI Danareksa Sekuritas mempertahankan rekomendasi beli untuk saham Indosat dengan target harga sebesar Rp 3.000. Target ini mengindikasikan potensi cuan hampir 60 persen, atau tepatnya 59 persen, jika mengacu pada harga saham ISAT pada Senin (6/7/2026) yang berada di level Rp 1.885.

Target harga tersebut mencerminkan valuasi EV/EBITDA sebesar 4 kali untuk proyeksi 2026 atau 1,4 standar deviasi di bawah rata-rata tiga tahun, yang berarti valuasinya belum mahal. Prospek operasional ISAT juga dinilai tetap solid, di mana dividen spesial dan penetapan harga spektrum dapat menjadi katalis utama dalam jangka pendek.

Risiko utama yang perlu diperhatikan meliputi realisasi dividen spesial yang bisa saja lebih rendah dari ekspektasi. Selain itu, terdapat risiko terkait adopsi dan utilisasi jaringan fiber yang mungkin berjalan lebih lambat dari perkiraan.

Terkini