Laba Pertamina Tumbuh 80 Persen Jadi 24,9 Triliun Rupiah per April 2026

Sabtu, 04 Juli 2026 | 13:19:08 WIB
Ilustrasi: Laba Pertamina mencapai Rp 24,9 triliun per April 2026 dengan pertumbuhan 80 persen. (Foto: NET)

JAKARTA – Danantara Indonesia membeberkan performa sejumlah Badan Usaha Milik Negara dalam rentang waktu satu tahun terakhir, yakni periode April 2025 hingga April 2026. Salah satu entitas BUMN di sektor energi, PT Pertamina (Persero), tercatat berhasil mencetak laba sebesar Rp 24,9 triliun per April 2026.

Dalam kurun waktu tersebut, Danantara menyatakan bahwa laba Pertamina mengalami pertumbuhan lebih dari 80 persen atau bertambah sekitar Rp 11 triliun. Namun, Danantara tidak memberikan rincian mengenai posisi serta perbandingan antara pendapatan dan beban yang dipikul oleh Pertamina selama periode tersebut.

Pertamina merupakan satu dari 11 BUMN yang menonjol dalam laporan kinerja oleh Danantara. Perusahaan-perusahaan milik negara tersebut menunjukkan peningkatan laba atau keberhasilan mengubah kerugian menjadi keuntungan.

Saat ini, seluruh BUMN dalam ekosistem Danantara Indonesia telah menuntaskan penyusunan Laporan Keuangan Tahun Buku 2025. Peneliti dan pengamat kebijakan publik FITRA, Badiul Hadi, mengapresiasi capaian laba tersebut meskipun menekankan bahwa kualitas laba harus diuji kembali.

"Namun, transparansi mengenai sumber pertumbuhan laba tetap menjadi prasyarat agar publik dapat menilai keberlanjutannya. Laba yang tinggi juga harus bertransformasi menjadi nilai tambah bagi negara," kata Badiul sebagaimana dilansir dari sumber berita, Jumat (3/7/2026).

Senada, Direktur Eksekutif Pusat Studi Hukum Energi dan Pertambangan, Bisman Bakhtiar, menganalisis bahwa lonjakan laba Pertamina banyak disokong oleh sektor hulu, margin kilang, serta efisiensi operasional. "Aspek-aspek ini secara akumulatif memberikan dampak pada profitabilitas Pertamina. Hingga akhir 2026 prospek kinerja Pertamina bisa positif, tetapi perlu waspada dengan pengaruh situasi global dan fluktuasi harga minyak dunia dan nilai tukar rupiah," ungkap Bisman sebagaimana dilansir dari sumber berita.

Pengamat Migas dan Dewan Penasihat IATMI, Hadi Ismoyo, sependapat bahwa bisnis hulu adalah kontributor utama yang dipicu oleh harga minyak mentah yang naik sekitar 57 persen dari asumsi harga rata-rata US$ 70 per barel pada APBN. Meski kuat di hulu, Pertamina dihadapkan pada tantangan di sisi hilir karena sempat menahan harga BBM non-subsidi saat harga crude melambung.

"Dengan ruang fiskal yang sempit, saat ini Pemerintah tidak bisa lagi menaikkan pagu subsidi. Lagi-lagi, ini akan menjadi beban Pertamina. Catatan kami, agar ada kejelasan dari pemerintah. Jika tidak boleh menaikkan harga BBM, maka spread out harga bisa di pemerintah, agar cash flow Pertamina sehat," tandas Hadi sebagaimana dilansir dari sumber berita.

Sebagai refleksi kinerja tahun 2025, Pertamina mencatatkan laba bersih sebesar US$ 3,35 miliar atau setara Rp 55,20 triliun, dengan pendapatan sebesar US$ 70,89 miliar atau setara Rp 1.167,99 triliun. Merujuk laporan keuangan tahun buku 2025, laba bersih tumbuh meskipun total penjualan dan pendapatan usaha menyusut 5,88 persen secara tahunan dari US$ 75,32 miliar menjadi US$ 70,89 miliar.

Pertamina berhasil menekan beban pokok penjualan dan beban langsung lainnya sebesar 7,06 persen dari US$ 65,24 miliar menjadi US$ 60,63 miliar. Hal ini meningkatkan laba bruto sebesar 1,88 persen dari US$ 10,07 miliar menjadi US$ 10,26 miliar.

Secara bottom line, laba tahun berjalan yang diatribusikan kepada pemilik entitas induk pada 2025 adalah sebesar US$ 3,35 miliar, atau tumbuh 7,37 persen dibandingkan raihan US$ 3,12 miliar pada tahun sebelumnya.

Terkini