IISIA Optimistis Industri Baja Nasional Pulih pada Semester Dua 2026

Sabtu, 04 Juli 2026 | 13:19:07 WIB
Ilustrasi: Ketua Umum IISIA optimistis industri baja nasional akan pulih pada semester dua 2026. (Foto: NET)

JAKARTA – Prospek industri baja nasional pada semester dua 2026 diprediksi mulai memperlihatkan perbaikan dibandingkan dengan paruh pertama tahun ini. Pemulihan permintaan diperkirakan masih berjalan secara bertahap seiring aktivitas manufaktur yang belum sepenuhnya pulih serta tekanan produk impor yang terus membayangi pasar domestik.

Ketua Umum Indonesian Iron and Steel Industry Association (IISIA), Harry Warganegara, menuturkan bahwa perbaikan permintaan baja sangat bergantung pada percepatan aktivitas ekonomi nasional, realisasi proyek infrastruktur dan konstruksi, serta peningkatan aktivitas sektor manufaktur sebagai pengguna utama produk baja. Kondisi permintaan saat ini masih relatif lemah, terlihat dari Purchasing Managers' Index (PMI) Manufaktur Indonesia pada Juni 2026 yang masih berada dalam fase kontraksi.

"Di sisi lain, industri baja nasional juga menghadapi persaingan yang semakin ketat akibat meningkatnya tekanan produk baja impor dengan harga yang sangat kompetitif," ujar Harry sebagaimana dilansir dari sumber berita. Oleh sebab itu, IISIA memandang prospek industri baja pada semester dua 2026 dengan optimisme yang terukur.

Harry menyatakan bahwa pemulihan industri memerlukan dukungan kebijakan yang mampu mendorong aktivitas sektor pengguna baja sekaligus menciptakan iklim persaingan usaha yang lebih sehat. Pasar domestik tetap menjadi penopang utama industri baja nasional, terutama dari sektor infrastruktur, konstruksi, otomotif, dan manufaktur.

Produsen baja nasional belum sepenuhnya menikmati peluang pasar yang besar karena tingginya penetrasi produk impor yang membuat tingkat utilisasi industri dalam negeri masih rendah. IISIA terus mendorong peningkatan penggunaan produk baja nasional, khususnya pada proyek pemerintah, badan usaha milik negara (BUMN), serta proyek investasi strategis.

Peluang ekspor masih terbuka bagi sejumlah produk baja yang memiliki daya saing, namun prospeknya menghadapi tantangan berupa lemahnya permintaan global dan tingginya excess capacity. Berdasarkan data Kementerian Perindustrian, tingkat utilisasi industri baja nasional saat ini masih berada di kisaran 52 persen.

"Untuk itu diperlukan kepastian pasar, peningkatan penggunaan produk baja nasional, pengendalian terhadap praktik perdagangan yang tidak adil, serta dukungan terhadap daya saing biaya produksi industri dalam negeri sehingga tingkat utilisasi industri dapat terus meningkat," kata Harry sebagaimana dilansir dari sumber berita. Industri baja saat ini masih menghadapi tekanan biaya produksi dari energi, bahan baku global, pergerakan nilai tukar, hingga biaya logistik.

IISIA mengapresiasi kebijakan Harga Gas Bumi Tertentu (HGBT) yang membantu menjaga daya saing, namun implementasinya masih terkendala keterbatasan alokasi dan volume pasokan gas. Jika pasokan HGBT tidak mencukupi, pelaku industri harus menggunakan gas non-HGBT dengan harga lebih tinggi yang dapat menekan margin perusahaan.

PT Steel Pipe Industry of Indonesia Tbk (ISSP) juga memproyeksikan kondisi pasar baja pada semester dua 2026 akan lebih baik dibandingkan dengan semester pertama. Peningkatan aktivitas pembangunan infrastruktur, proyek swasta, dan belanja sektor manufaktur diperkirakan menjadi motor pertumbuhan permintaan baja hingga akhir tahun.

"Kami melihat prospek industri baja pada semester dua 2026 cenderung lebih baik dibandingkan semester pertama, seiring berlanjutnya aktivitas pembangunan infrastruktur, proyek swasta, serta peningkatan belanja sektor manufaktur," ujar Johanes W. Edward sebagaimana dilansir dari sumber berita. Prospek tersebut masih dibayangi berbagai ketidakpastian global, mulai dari dinamika perdagangan internasional hingga kondisi geopolitik.

Pasar domestik tetap menjadi kontributor utama penjualan ISSP, sementara permintaan ekspor juga memperlihatkan tren positif meskipun pasar global belum pulih sepenuhnya. ISSP saat ini mengoperasikan fasilitas produksinya dengan tingkat utilisasi sekitar 60 persen–70 persen.

Kapasitas yang ada dinilai cukup untuk meningkatkan produksi secara bertahap tanpa memerlukan investasi baru dalam waktu dekat. Perusahaan masih mampu mengendalikan tekanan biaya melalui pengelolaan persediaan, efisiensi operasional, serta optimalisasi bauran produk.

"Dengan pendekatan tersebut, dampak fluktuasi biaya terhadap margin diharapkan tetap dapat dikelola secara terkendali, meskipun tekanan dari persaingan harga di pasar masih menjadi tantangan," tutup Johanes sebagaimana dilansir dari sumber berita.

Terkini