Strategi MMIX Hadapi Penurunan Daya Beli dengan Produk Ekonomis

Kamis, 02 Juli 2026 | 13:02:53 WIB
Ilustrasi: MMIX menyesuaikan kemasan produk menjadi lebih kecil untuk mengantisipasi penurunan daya beli masyarakat. (Gambar: NET)

JAKARTA – Penurunan daya beli masyarakat memaksa emiten retail dan konsumsi, PT Multi Medika Internasional Tbk. (MMIX), melakukan penyesuaian strategi bisnis. Produsen produk Miubaby dan Miutiss ini kini memfokuskan diri pada penyediaan produk dengan ukuran lebih kecil serta harga yang lebih ekonomis guna merespons perubahan perilaku belanja konsumen.

Data Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat inflasi bulanan pada Juni 2026 mencapai 0,44 persen, lebih tinggi dibandingkan Mei 2026 yang sebesar 0,28 persen. Sementara itu, inflasi tahunan berada di posisi 3,34 persen dan Indeks Harga Konsumen naik menjadi 111,89 pada Juni 2026.

Founder & CEO MMIX, Mengky Mangarek, menyebut masyarakat kini jauh lebih selektif akibat tekanan ekonomi dan pelemahan nilai tukar rupiah. Konsumen yang sebelumnya berbelanja bulanan kini beralih menjadi mingguan atau harian agar pengeluaran lebih terkontrol.

"Perubahan pola konsumsi itu menjadi perhatian kami. Karena itu kami melakukan penyesuaian ukuran kemasan atau repackaging sehingga harga produk menjadi lebih terjangkau," sebagaimana dilansir dari sumber berita. Taktik ini diterapkan pada produk utama seperti tisu basah, tisu, air minum, hingga popok bayi.

MMIX juga memperkuat fokus pada produk kebutuhan harian (essential goods) yang permintaannya cenderung lebih stabil dibandingkan dengan produk non-esensial. "Yang kami cari adalah produk yang rutin, berulang, dan menjadi kebutuhan sehari-hari. Itu strategi kami agar bisnis tetap tahan banting dalam berbagai kondisi ekonomi," sebagaimana dilansir dari sumber berita.

Perseroan optimistis mengejar target pertumbuhan pendapatan sebesar 25,3 persen pada 2026 dengan estimasi nilai penjualan mencapai Rp388 miliar. Strategi ini akan dijalankan dengan waspada melalui peningkatan kapasitas produksi dan perluasan jalur distribusi.

"Ekspansi akan kami lakukan secara prudent, dimulai dari riset pasar, melihat perilaku konsumen, serta daya beli masyarakat," sebagaimana dilansir dari sumber berita. Saat ini, perseroan sedang menyelesaikan pembangunan pabrik popok bayi di Legok dengan total investasi mencapai US$4 juta.

Pabrik tersebut diproyeksikan mampu menekan ketergantungan bahan impor dari 80 persen pada tahun pertama menjadi di bawah 30 persen pada tahun ketiga. Selain itu, MMIX menggandeng PT Sari Ayu Indonesia untuk memperluas jaringan distribusi hingga menjangkau 300.000 toko baru.

Pada Kuartal I/2026, perseroan mencatatkan pendapatan senilai Rp50,1 miliar atau tumbuh 2,6 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Laba bersih perusahaan juga melonjak signifikan sebesar 20,6 persen menjadi Rp1,5 miliar dibandingkan Kuartal I/2025.

Namun, Fitch Ratings memperingatkan bahwa sektor konsumsi di Indonesia akan menghadapi tantangan berat akibat depresiasi rupiah dan kenaikan inflasi. Kondisi ini diprediksi dapat menggerus daya beli masyarakat dan menekan konsumsi pada barang non-esensial.

Terkini