JAKARTA – PT Kimia Farma Tbk (KAEF) terus mengintensifkan langkah untuk mendukung kedaulatan kesehatan nasional melalui pengembangan bahan baku obat (BBO) domestik. Strategi ini dijalankan dengan mengoptimalkan kapasitas pabrik serta meluncurkan produk dengan nilai Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) yang tinggi.
Komitmen ini dipantau langsung oleh Wakil Menteri Perindustrian Faisol Riza saat meninjau fasilitas Kimia Farma Plant Banjaran di Bandung pada Selasa (23/6/2026). Peninjauan tersebut bertujuan untuk memastikan kesiapan sektor farmasi dalam negeri dalam mengamankan suplai obat.
Direktur Produksi dan Supply Chain Kimia Farma, Hadi Kardoko, mengungkapkan bahwa industri farmasi tanah air masih menghadapi kendala besar karena lebih dari 95% kebutuhan bahan baku obat masih bergantung pada impor. "Gejolak geopolitik seperti konflik di kawasan Iran dan Timur Tengah terbukti memberikan dampak domino yang nyata, mulai dari disrupsi rantai pasok global, lonjakan biaya logistik dan energi, hingga ancaman kelangkaan bahan baku serta produk jadi di pasar domestik," sebagaimana dilansir dari sumber berita.
Hadi menjelaskan bahwa upaya mencapai ketahanan kesehatan nasional memerlukan kolaborasi kuat antara pelaku industri dan regulator, seperti Kementerian Perindustrian, Kementerian Kesehatan, hingga BPOM. Dukungan regulasi, seperti penetapan kebijakan TKDN dan pembatasan impor komoditas yang bisa diproduksi secara mandiri, sangat diharapkan untuk menstimulasi manufaktur BBO lokal.
Hingga saat ini, Kimia Farma telah memproduksi BBO untuk kategori terapi utama, seperti obat kardiovaskular, antibiotik, dan antiretroviral untuk HIV. Melalui anak usahanya, Kimia Farma Sungwun Pharmacopia (KFSP), perusahaan telah mengantongi sertifikat CPOB dari BPOM untuk 19 jenis bahan baku obat, dengan 18 produk di antaranya telah bersertifikat halal.
Fasilitas Plant Banjaran merupakan kompleks produksi terbesar Kimia Farma Group seluas hampir 51.000 meter persegi yang telah memiliki sertifikasi CPOB dan CPOTB. Pabrik ini memproduksi berbagai sediaan obat, mulai dari tablet, kapsul, hingga cairan dan serbuk oral.
Faisol Riza menyatakan optimismenya bahwa Indonesia mampu merealisasikan industri farmasi yang lebih mandiri. "Melalui kolaborasi yang kuat antara pemerintah dan industri, kami optimistis dapat mewujudkan industri farmasi Indonesia yang semakin mandiri, berdaya saing global, dan berkelanjutan demi mendukung ketahanan kesehatan nasional," sebagaimana dilansir dari sumber berita.
Kimia Farma juga memperluas portofolio produknya dengan merilis sejumlah obat baru sepanjang tahun 2025, seperti Fentakaf, Sildenafil, Pantokaf, dan Moxifloxacin. Perusahaan aktif menciptakan produk dengan TKDN tinggi, seperti obat antiretroviral TLE yang memiliki rasio TKDN 52,78% dan Rosuvastatin dengan TKDN 59%.
Secara performa, Kimia Farma mencatat pertumbuhan penjualan BBO untuk pasar domestik maupun ekspor hingga 124% sepanjang periode 2025. Perusahaan juga terus melakukan transformasi bisnis dengan beralih ke produk inovatif berorientasi margin lebih besar serta memperbaiki fundamental operasional melalui sistem pengadaan terpusat.