Agenda MSCI dan FTSE Jadi Penentu Arah Pasar Modal RI Semester Dua

Senin, 29 Juni 2026 | 10:04:27 WIB
Ilustrasi: Investor menanti hasil tinjauan MSCI dan FTSE yang akan memengaruhi pasar modal Indonesia pada semester dua 2026. (Gambar: NET)

JAKARTA – Pasar modal Indonesia melewati semester pertama 2026 dengan berbagai tantangan, terutama dari sentimen yang timbul akibat penilaian penyedia indeks global seperti MSCI dan FTSE. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sejak awal tahun terpangkas 31,81% ke posisi 5.896,14 per penutupan perdagangan Jumat (26/6/2026).

Bersamaan dengan koreksi tajam tersebut, pasar juga mencatatkan aksi jual bersih atau net sell asing senilai Rp71,68 triliun. Memasuki semester kedua 2026, pasar akan menyambut dua agenda besar yang berpotensi memengaruhi kepercayaan serta persepsi investor global.

Pertama, pasar menanti MSCI Quarterly Index Review yang dijadwalkan diumumkan pada 12 Agustus 2026 dan berlaku efektif pada 1 September 2026. Analis KB Valbury Sekuritas, Khairunnisa N Syahfiraputri dan Anggun Rahmadani, dalam risetnya pada 23 Juni 2026, menyatakan bahwa tinjauan ini menjadi evaluasi formal pertama MSCI sejak penerapan reformasi UU P2SK.

Dari hasil tersebut, akan terlihat apakah perbaikan transparansi dan struktur pasar mulai mendapatkan pengakuan dari penyedia indeks global. Berbeda dengan Mei 2026, perubahan konstituen dalam tinjauan Agustus nanti diperkirakan terbatas karena adanya pembatasan penambahan saham Indonesia.

"Namun, perusahaan dengan free float yang tidak memadai, konsentrasi kepemilikan tinggi, atau masalah terkait investabilitas masih berpotensi mengalami penyesuaian, terutama melalui revisi asumsi free float dan bobot dalam indeks," ujar mereka, sebagaimana dilansir dari sumber berita.

Analis melihat fokus utama pasar bukan pada jumlah saham yang keluar-masuk indeks, melainkan pada apakah penilaian MSCI mencerminkan kemajuan reformasi regulasi Indonesia. Indikasi peningkatan kepercayaan terhadap transparansi kepemilikan dan kualitas free float dapat dianggap sebagai sinyal awal berkurangnya kekhawatiran struktural.

"Meski demikian, proses normalisasi penuh kemungkinan masih membutuhkan beberapa siklus tinjauan tambahan," ujar mereka, sebagaimana dilansir dari sumber berita. Agenda besar kedua adalah FTSE Russell Semi-Annual Review yang dijadwalkan pada 21 September 2026.

Dibandingkan dengan tinjauan kuartalan MSCI, tinjauan FTSE memiliki arti lebih besar karena akan menentukan apakah pembekuan rebalancing sejak Februari 2026 dapat dilonggarkan. Analis memperkirakan tinjauan ini fokus pada efektivitas reformasi UU P2SK terkait transparansi kepemilikan dan aksesibilitas pasar.

September 2026 dinilai menjadi titik kritis transisi pasar modal Indonesia setelah diterpa sentimen negatif sepanjang tahun. Hasil tinjauan kedua lembaga tersebut diperkirakan menjadi awal proses normalisasi bertahap bagi pasar modal Tanah Air.

Kredibilitas pelaksanaan reformasi oleh OJK dan BEI dalam menegakkan standar free float akan menjadi faktor penentu bagi MSCI maupun FTSE. KB Valbury Sekuritas memetakan dua skenario hasil FTSE Russell Semi-Annual Review mendatang.

Pertama adalah skenario normalisasi penuh, di mana FTSE mencabut pembekuan rebalancing dan mengembalikan proses penyesuaian ulang peringkat indeks. "Hal ini akan menjadi sinyal meningkatnya kepercayaan terhadap reformasi pasar Indonesia dan berpotensi mendukung pemulihan sentimen investor asing, terutama terhadap saham mid-cap berkualitas dan saham dengan likuiditas tinggi," ujar analis, sebagaimana dilansir dari sumber berita.

Skenario kedua adalah FTSE mempertahankan pembekuan saham Indonesia sembari terus mengamati implementasi reformasi. Jika ini terjadi, tekanan pasar diperkirakan tetap selektif terhadap emiten dengan tata kelola yang kuat.

"Meskipun proses rerating saham Indonesia kemungkinan berlangsung secara bertahap, dinamika pasar diperkirakan semakin didorong oleh faktor fundamental dan pertimbangan investabilitas, bukan lagi sentimen spekulatif," tandasnya, sebagaimana dilansir dari sumber berita. Analis BRI Danareksa Sekuritas, Erindra Krisnawan dan Wilastita Muthia Sofi, mencatat IHSG menunjukkan perbaikan taktikal jelang semester kedua.

Aksi jual asing pada saham besar yang terkena penghapusan indeks MSCI telah melambat dalam beberapa pekan terakhir. Indikator positif juga muncul dari nilai tukar rupiah yang perlahan meninggalkan level psikologis Rp18.000 per dolar AS.

"Kami melihat faktor-faktor tersebut sebagai perbaikan taktikal, karena risiko fiskal, kepastian kebijakan, dan kekhawatiran terkait peringkat sovereign masih belum terselesaikan," ujar analis, sebagaimana dilansir dari sumber berita.

Terkini