JAKARTA – Badan Energi Internasional (IEA) memproyeksikan bahwa persediaan minyak global baru akan kembali normal secara total pada tahun 2027, meskipun Amerika Serikat (AS) dan Iran telah memulai babak baru dalam kesepakatan damai. Proses pemulihan ini diprediksi berjalan secara bertahap karena rute pelayaran krusial di Selat Hormuz masih memerlukan pembersihan serta penataan kembali rantai pasok.
Melalui laporan teranyar yang dipublikasikan pada Minggu (21/6/2026), IEA memaparkan bahwa output minyak dunia pada Mei menyusut ke angka 94,5 juta barel per hari (bph). Jumlah tersebut merosot 600 ribu bph dibandingkan dengan bulan sebelumnya dan berada 13,6 juta bph di bawah level sebelum terjadinya konflik.
“Sementara itu, pasokan global diperkirakan akan turun sebesar 3,9 juta bph menjadi 102,4 juta bph pada tahun 2026, sebelum pulih kembali sebesar 8 juta bph menjadi 110,3 juta bph pada tahun 2027,” tulis IEA sebagaimana dilansir dari sumber berita.
Bergulirnya perundingan damai antara AS dan Iran telah menekan nilai jual minyak ke titik terendah sejak awal Maret. Walaupun detail kesepakatan yang diagendakan diteken pada 19 Juni di Swiss masih memerlukan penjelasan lebih lanjut dan beberapa persoalan belum rampung sepenuhnya, situasi ini dinilai sebagai sinyal positif bagi sektor energi global.
“Jika kesepakatan tersebut bertahan, ekspor dan produksi dari Teluk diperkirakan akan pulih secara bertahap–terutama karena ekspor minyak Iran dapat sepenuhnya dilanjutkan setelah blokade AS dicabut,” lanjut IEA sebagaimana dilansir dari sumber berita. Sejalan dengan indikasi perdamaian, intensitas pelayaran melewati Selat Hormuz meningkat signifikan pada awal Juni.
Lonjakan tersebut ditopang oleh aktivitas pengalihan kapal ke kapal di Teluk Oman, yang mendongkrak total distribusi minyak dari level terendah Mei sebesar 9,6 juta bph naik menjadi kisaran 12 juta bph. Kendati demikian, IEA memberi catatan bahwa normalisasi persediaan tidak bakal berlangsung secara instan.
“Namun, pemulihan penuh tidak akan terjadi secara langsung, karena ranjau harus disingkirkan dari jalur pelayaran utama dan rantai pasokan akan membutuhkan waktu untuk kembali normal,” ungkap IEA sebagaimana dilansir dari sumber berita.
Dari sektor penyerapan, IEA mengalkulasikan konsumsi minyak dunia pada 2026 akan melandai sebesar 1,1 juta bph secara tahunan (year on year/yoy). Angka estimasi ini 700 ribu bph lebih rendah daripada proyeksi edisi Mei, menyusul anjloknya distribusi minyak pada kuartal II-2026 sebesar 5 juta bph secara tahunan yang dipicu oleh lonjakan harga bahan bakar serta terhambatnya ketersediaan produk.
Mengenai proyeksi neraca tahun 2027 mendatang, kajian awal IEA mengindikasikan sektor minyak berpotensi mengalami surplus pasokan yang tergolong besar. Permintaan minyak global diproyeksikan hanya tumbuh moderat sebesar 2 juta bph ke level 105,3 juta bph.
Sebaliknya, persediaan minyak dunia diestimasikan melonjak kisaran 8 juta bph hingga menyentuh angka 110 juta bph. Situasi ini dapat menjadi angin segar bagi pasar karena membuka peluang untuk mengisi kembali stok minyak yang sempat menipis sepanjang masa krisis.
Kelebihan suplai tersebut juga dianggap krusial demi menyokong pembentukan cadangan strategis baru. Langkah ini sejalan dengan upaya banyak negara dalam mengkaji ulang strategi serta regulasi energi guna merespons dinamika pasar energi global.