Sederhanakan Grup, Aksi Go Private Anak Usaha Perkuat Bisnis TOWR

Jumat, 29 Mei 2026 | 14:26:36 WIB
Ilustrasi PT Sarana Menara Nusantara Tbk (TOWR) (Foto: NET)

JAKARTA – PT Sarana Menara Nusantara Tbk (TOWR) mempunyai peluang pertumbuhan jangka panjang yang kuat sejalan dengan proses restrukturisasi grup yang sedang dipacu oleh perseroan.

Di samping itu, naiknya kebutuhan akan infrastruktur telekomunikasi dan layanan fiber di tengah ekspansi jaringan 5G juga diprediksi akan menjadi penopang utama bagi performa TOWR ke depan.

Seperti yang telah diketahui, TOWR sedang mempercepat langkah restrukturisasi grup dengan memfasilitasi dua anak usahanya, yaitu PT Solusi Tunas Pratama Tbk (IBST) dan PT Inti Bangun Sejahtera Tbk (SUPR), untuk menempuh proses delisting serta mengubah status menjadi perusahaan tertutup (go private).

SUPR sendiri sudah mengantongi restu pemegang saham lewat Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) pada 20 Mei 2026. Sementara itu, IBST masih menanti persetujuan pemegang saham dan dijadwalkan akan melaksanakan Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) pada 5 Juni 2026 mendatang, jika tidak ada perubahan jadwal.

Senior Equity Research Kiwoom Sekuritas, Sukarno Alatas, berpandangan bahwa restrukturisasi tersebut bakal menghadirkan dampak positif bagi efisiensi usaha TOWR dalam jangka panjang.

"Restrukturisasi melalui delisting dan go private IBST serta SUPR dinilai positif bagi TOWR karena dapat menyederhanakan struktur grup, meningkatkan efisiensi operasional, dan memperkuat integrasi bisnis tower dan fiber," ujar Sukarno, Selasa (26/5/2026), sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Berdasarkan penilaian Sukarno, strategi tersebut juga akan menghadirkan fleksibilitas yang lebih lapang bagi perseroan dalam melangsungkan ekspansi bisnis ataupun pengelolaan aset. Kendati begitu, ia memandang pelaku pasar masih akan memperhatikan kebutuhan dana untuk tender offer dalam aksi korporasi tersebut. Namun secara fundamental, kebijakan ini lebih dinilai sebagai langkah efisiensi korporasi yang mampu memperkokoh daya saing perusahaan.

Melihat dari aspek prospek bisnis, Sukarno menilai pemantik utama pertumbuhan TOWR pada 2026 datang dari peningkatan bisnis fiber, melonjaknya kebutuhan data, serta potensi efisiensi setelah restrukturisasi. Selain itu, kesempatan kenaikan tenancy ratio juga masih terbuka seiring ekspansi jaringan oleh operator telekomunikasi.

"Kebutuhan data yang terus meningkat akan mendukung permintaan infrastruktur telekomunikasi, terutama fiber," kata Sukarno, sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Sementara itu, Analis Maybank Sekuritas Indonesia, Etta Rusdiana Putra, berpendapat bahwa kompetisi layanan 5G akan menjadi sentimen positif bagi emiten menara telekomunikasi, termasuk TOWR. Menurutnya, operator telekomunikasi diproyeksikan mulai memindahkan fokus dari yang semula sekadar ekspansi cakupan jaringan ke arah peningkatan kualitas jaringan.

Kondisi tersebut dipercaya bakal memicu kebutuhan terhadap infrastruktur menara dan layanan fiber-to-the-tower (FTTT). TOWR diestimasi akan menambah kurang lebih 500 menara baru sepanjang 2026 sampai 2027 dengan rasio tenancy masing-masing sebesar 1,6 kali.

"Kami menilai layanan terintegrasi, termasuk fibre-to-the-tower (FTTT), menjadi pendorong pertumbuhan utama industri ini. TOWR dinilai memiliki posisi yang kuat di sektor tersebut dengan PT XL Axiata Tbk (EXCL) dan PT Indosat Tbk (ISAT) sebagai pelanggan utama yang masing-masing menyumbang 42% dan 34% pendapatan pada 2025," ujar Etta dalam riset 21 April 2026, sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Etta juga melihat ketatnya persaingan layanan 5G akan menguntungkan penyedia menara telekomunikasi lantaran kebutuhan layanan FTTT diproyeksikan terus menanjak dalam beberapa tahun ke depan.

Walaupun mempunyai prospek yang cerah, TOWR tetap menghadapi beberapa tantangan. Sukarno memaparkan bahwa konsolidasi operator telekomunikasi berisiko menekan pertumbuhan bisnis menara telekomunikasi.

Di samping itu, risiko renegosiasi kontrak sewa serta tingginya tingkat suku bunga juga menjadi sentimen negatif yang wajib diwaspadai oleh investor. Potensi foreign outflow pada saham defensif domestik juga dirasa dapat memengaruhi pergerakan saham TOWR.

Di sudut lain, Analis KB Valbury Sekuritas, Steven Gunawan, memproyeksikan pendapatan non-menara akan menjadi mesin penggerak utama pertumbuhan TOWR pada 2026. Melalui riset tertanggal 6 April 2026, Steven memperkirakan pendapatan non-menara akan terangkat 12,0% secara tahunan menjadi Rp 5,2 triliun.

Sementara itu, lini bisnis penyewaan menara diperkirakan tumbuh 1,7% YoY menjadi Rp 8,9 triliun, disokong oleh tambahan tenancy dari EXCL setelah merger.

Menilik laporan keuangan konsolidasian, pendapatan TOWR meningkat menjadi Rp 13,32 triliun pada 2025, naik 4,64% jika dibandingkan dengan Rp 12,73 triliun pada 2024. Selaras dengan performa itu, laba bersih TOWR tercatat sebesar Rp 3,67 triliun pada 2025 atau tumbuh 10,27% dibanding Rp 3,33 triliun pada tahun sebelumnya.

Secara keseluruhan, Steven memproyeksikan pendapatan TOWR sampai akhir 2026 akan bertumbuh 5,2% YoY menjadi Rp 14,0 triliun. Adapun laba bersih ditargetkan naik 7% YoY menjadi sekitar Rp 3,93 triliun.

Dari sisi rekomendasi saham, Sukarno menilai secara teknikal pergerakan saham TOWR saat ini masih berada dalam tren melemah atau downtrend. Maka dari itu, strategi yang dirasa pas adalah buy on weakness atau melakukan akumulasi secara bertahap dengan target harga terdekat pada rentang Rp 450 hingga Rp 500 per saham.

Sementara itu, Steven menyarankan untuk membeli saham TOWR dengan target harga Rp 700 per saham. Adapun Etta juga memberikan rekomendasi beli untuk saham TOWR dengan target harga sebesar Rp 880 per saham.

Terkini