Segmen Korporasi Sokong Lonjakan Pencairan Kredit Bank Himbara

Jumat, 29 Mei 2026 | 12:02:52 WIB
Ilustrasi logo bank-bank dalam Kelompok Himpunan Bank Milik Negara (Himbara) (Gambar: NET)

JAKARTA – Kelompok Himpunan Bank Milik Negara (Himbara) dilaporkan tetap menjadi penopang utama bagi pertumbuhan kredit di industri perbankan nasional. Kondisi ini terlihat jelas melalui tingginya realisasi penyaluran kredit baru atau disbursement loan dari kelompok Himbara sepanjang kuartal I-2026.

Berdasarkan catatan Bank Indonesia (BI) per April 2026, pertumbuhan kredit perbankan menyentuh angka 9,98% secara tahunan (year-on-year/yoy), menunjukkan peningkatan jika dibandingkan dengan pencapaian bulan sebelumnya yang berada di angka 9,49%.

Di waktu yang sama, volume kredit perbankan yang belum dicairkan atau undisbursed loan posisinya masih tergolong besar, yaitu mencapai Rp 2.551,42 triliun atau setara dengan 22,57% dari total plafon kredit yang disediakan.

Mengenai hal tersebut, Gubernur BI Perry Warjiyo memberikan pandangannya bahwa tingginya angka undisbursed loan di sektor perbankan memiliki potensi positif bagi akselerasi pertumbuhan kredit ke depan.

"BI memprakirakan pertumbuhan kredit 2026 tetap terjaga pada kisaran 8-12%. Prospek ini didukung oleh masih besarnya fasilitas pinjaman yang belum digunakan," sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Akselerasi pada pertumbuhan kredit perbankan ini salah satunya dipicu oleh meningkatnya realisasi pencairan kredit baru (disbursement loan), yang didominasi oleh performa bank-bank Himbara.

Merujuk pada laporan presentasi kinerja masing-masing perseroan, PT Bank Mandiri Tbk. (BMRI) menjadi bank dengan realisasi pencairan kredit (disbursed loan) paling masif pada paruh pertama tahun ini.

Hingga periode kuartal I-2026, nilai disbursed loan yang dibukukan Bank Mandiri sudah menyentuh Rp 210 triliun. Angka total pencairan kredit ini mengalami lonjakan hingga 43,4% yoy.

Menilik pada segmentasi penyalurannya, realisasi pencairan kredit Bank Mandiri pada kuartal pertama tahun ini disokong oleh segmen korporasi yang menyerap Rp 91,2 triliun, atau tumbuh sebesar 30,6% yoy.

Sementara itu, total kredit pay-off atau kredit lunas Bank Mandiri di kuartal I-2026 berada di angka Rp 104 triliun. Melalui pencapaian tersebut, posisi outstanding kredit Bank Mandiri hingga akhir kuartal I-2026 tercatat sebesar Rp 1.529 triliun, meningkat 17,6% yoy.

Di sisi lain, PT Bank Negara Indonesia Tbk. (BBNI) juga mencatatkan volume disbursed loan yang signifikan, yakni menyentuh Rp 157,6 triliun. Realisasi pencairan kredit ini memperlihatkan lonjakan sebesar 59,5% jika dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun lalu.

Selaras dengan Bank Mandiri, segmentasi disbursed loan BNI didominasi secara mayoritas oleh kredit korporasi. Sampai kuartal I-2026, angka disbursed loan untuk korporasi di BNI dilaporkan sebesar Rp 84,9 triliun, yang merepresentasikan 53,9% dari total keseluruhan disbursed loan perseroan.

Anggota Himbara lainnya, PT Bank Tabungan Negara Tbk (BBTN), turut membukukan kenaikan pada aspek disbursed loan di kuartal pertama tahun ini, walaupun volumenya tidak sebesar bank Himbara lainnya.

Hingga kuartal I-2026, angka disbursed loan BTN berada di posisi Rp 27,53 triliun atau mengalami pertumbuhan sebesar 14,9% yoy. Hal yang cukup unik, pertumbuhan pencairan kredit di BTN kali ini tidak bersumber dari sektor kredit perumahan yang selama ini menjadi fokus utamanya.

Realisasi disbursed loan BTN untuk sektor perumahan (housing loan) di kuartal I-2026 justru tercatat sebesar Rp 10,23 triliun, yang berarti mengalami penurunan sebesar 31,2% dari periode yang sama tahun sebelumnya.

Sebaliknya, performa disbursed loan BTN untuk sektor non-perumahan (non-housing loan) melesat tinggi hingga 89,9% yoy dengan nilai mencapai Rp 17,3 triliun. Pada kategori kredit non-perumahan ini, segmen korporasi mencatatkan pertumbuhan signifikan sebesar 117% yoy menjadi Rp 10,3 triliun.

Mencermati data-data pertumbuhan yang ada, Kepala Ekonom Bank Central Asia, David Sumual, memberikan analisisnya bahwa laju pertumbuhan kredit perbankan nasional saat ini memang masih digerakkan oleh kelompok bank Himbara.

Menurut pandangan David, tingginya angka pencairan kredit bank Himbara didorong oleh langkah pemerintah yang mengarahkan penyaluran kredit ke berbagai proyek serta program pembangunan strategis nasional, seperti Makan Bergizi Gratis dan Koperasi Merah Putih.

"Pertumbuhan kredit saat ini masih ditopang oleh bank Himbara. Ini lebih disebabkan oleh dukungan program prioritas pemerintah," sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Penilaian senada juga diutarakan oleh Yusuf Rendy Manilet selaku Ekonom Center of Reform on Economics (CORE). Ia sepakat bahwa kelompok Himbara masih memegang peran sebagai motor penggerak bagi pertumbuhan kredit di skala nasional.

Yusuf menjabarkan bahwa pergerakan naik pada disbursed loan Himbara di awal tahun ini didukung oleh kondisi likuiditas yang longgar, terutama setelah adanya penempatan dana yang cukup besar dari pemerintah melalui SAL.

Kendati demikian, Yusuf memberikan catatan bahwa tingginya realisasi pencairan kredit pada kuartal pertama tahun ini belum dapat dijadikan indikator mutlak mengenai sehatnya proyeksi pertumbuhan kredit perbankan ke depan.

"Disbursement bersifat lebih volatil dan bisa melonjak tinggi hanya karena ada beberapa penarikan fasilitas korporasi dalam nilai besar," sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Kondisi tersebut tercermin dari struktur disbursed loan dari masing-masing bank Himbara yang persentase terbesarnya masih dikuasai oleh segmen korporasi, bahkan fenomena ini juga terjadi pada BTN yang arah bisnis utamanya berada di sektor Kredit Pemilikan Rakyat (KPR).

"Ketika bank yang basis utamanya KPR mulai mencari pertumbuhan dari sektor di luar bisnis intinya, itu bisa menjadi sinyal bahwa permintaan di sektor perumahan sedang melemah," sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Terkini